Varsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya.
Namun siapa sangka gadis berandal ini...
Pagi hari seperti biasanya, seorang Nandana Ragnala atau yang kerap disapa dengan Dana, sudah menunggu didepan gerbang, menunggu siswa-siswi yang terlambat. Hari ini Dana tidak sendiri, ia bersama temannya, Gentala Lingga, yang biasa dipanggil Lingga.
"Masih juga 10 menit cok, lo kenapa sregep banget dah. Ni lagi kenapa matahari panas banget set dah," keluh Lingga belum ada 5 menit mereka berjaga. Maklum hari pertamanya berjaga. Biasanya juga dia cuma kebagian tugas gledah-gledah pas razia keliling.
"Sabar napa? Baru juga 5 menit lo udah ngeluh mulu. Gedeg gue dengernya..." ucap Dana jengah mendengar keluhan partnernya hari ini.
"Ah gak asik lo. Eh btw lo udah liat Vanesha masuk gak? Biasanya juga dia telat. Udah mau masuk tapi gue belum liat dia," ucap Lingga celingak celinguk mencari keberadaan pujaan hatinya.
"Lo fokus dikit bisa gak sih, Njing?! Gue udah pengen nampolin lo daritadi. Sabar sabar..." Nah keluar juga kan pisuhan Dana. Masih normal, kebun binatangnya masih bisa dikontrol.
10 menit pun berlalu...
Akhirnya gerbang sekolah pun ditutup. Para siswa dan siswi yang datang setelah gerbang ditutup hanya bisa pasrah, menunggu sampai gerbang lagi dibuka 10 menit lagi.
"Ngga, lo itungin berapa orang diluar. Gue ambil buku keramat dulu di pos satpam." Lingga mengangguk paham.
Setelah 10 menit, akhirnya gerbang kembali dibuka. Lumayan banyak hari ini yang terlambat, hari Senin soalnya. Si Dana sama Lingga mulai menata mereka berjajar 5 banjar kebelakang.
"Nama?" tanya Dana mencatat nama-nama siswa yang telat untuk ia setorkan kepada BK. Semua berjalan dengan lancar. Semua menjawab dengan normal-normal saja sampai...
"Nama?" tanya Dana kepada gadis dengan rambut panjang dicat biru dongker dan berwajah triplek itu. Awalnya gadis itu tidak menjawab sampai Lingga pun harus turun tangan mencacinya.
"Budeg ya lo? Dana tanya nama lo siapa, jawab dong!" ucap Lingga dengan nada sedikit meninggi.
"Sasya..." jawab gadis itu singkat. Dana menarik nafasnya. "Nama lengkapnya?" tanya Dana lagi dengan senyum ramah tapi mematikan.
"Varsya Kencana," jawab gadis itu tambah dingin. Wajahnya juga datar, membuat orang yang melihatnya ingin memukulnya saja. Termasuk Lingga dan Dana.
"Kelas?" kali ini gantian Lingga yang bertanya karena Dana sudah tidak sanggup. Orang sesabar Dana saja emosi menghadapi gadis dingin ini.
"11 IPS 3," jawab gadis itu singkat. Lingga pun mencatatnya.
Setelah selesai mencatat semua nama siswa yang telat, Dana memerintahkan semua siswa yang telat untuk segera kembali ke kelas masing-masing karena pelajaran pertama akan segera dimulai.
Saat gadis berambut biru dongker tadi melewati Lingga dan Dana, gadis itu menatap tajam mereka sambal bersumpah didalam hatinya. "Cari gara-gara kalian sama gue..." batin gadis bernama Varsya dengan senyuman miring.
Mereka berdua, Lingga dan Dana juga kembali ke kelas, tapi sebelum itu mereka harus ke ruangan BK terlebih dahulu untuk menyerahkan daftar nama siswa yang terlambat.
Sesampainya di ruang BK, Dana menggelengkan kepalanya karena saat ini salah satu temannya yang hobi telat sedang diceramahi panjang lebar oleh Pak Joko, guru BK kelas 11. Magani Adwaya atau yang dikenal dengan Gani namanya.
"Le, le kowe kuwi niat sekolah ora le. Mben dino kok mung udat udut wae, Ora neng balkon, ora neng kamar mandi hadehhh. Bapak i yo udut tapi neng njobo sekolah, ora neng njero loh le le..." ceramah Pak Joko sambal mencengkeram tengkuk Gani geram.
"Lah anu og Pak, piye ya. Aku ki jane yo isoh pak ra ngudut tapo piye ya pak. Rasane aneh nek ra ngudut ki. Piye ya pak hehehe," alas Gani cengar cengir tidak jelas. Hanya dia yang bisa berbicara sangat santai kepada Pak Joko. Kesayangan emang beda.
"Le le... Nyo timbang kowe ngudut ngentekne duit terus ngerusak paru-paru terus asep e nganggu kancane liyane..." Pak Joko memberikan sekantong permen yang masih utuh, belum dibuka sama sekali kepada Gani. "Mangan permen wae yo le. Men cangkem e yo ra pait..."
"Wah makasih lo Pak. Malah repot-repot ngene, Gani kan dadi penak. Eh sungkan maksud e pak..." canda Gani mendapatkan pelototan tajam dari guru BK-nya.
"Yowes le kono mlebu kelas. Sinau sing sregep yo le..." peringat Pak Joko. Gani pun berpamitan kepada Pak Joko, tak lupa ia membawa sekantung permen pemberian beliau tadi. "Kulo pamit nggih pak. Samlekom..."
Saat berpapasan dengan kedua sahabatnya, Lingga dan Dana didepan ruang BK, ia tak lupa menyapanya, "Eh ada Mas Dana dan Mas Lingga, monggo mas..." ucapnya sok sopan padahal dia pengen banget julidin kedua temannya.
"Udah sono masuk... Kalau Bu Merza udah masuk kabarin nyet," ucap Lingga menendang pantat Gani sebelum mereka masuk ke ruang BK.
"Permisi Pak Joko... Ini saya mau nyerahin daftar nama anak yang terlambat pagi ini pak," ucap Dana sesopan mungkin sambal menyerahkan secarik kertas yang ia bawa.
"Oh iya Nak Dana, makasih ya nak. Duduk dulu..." ucap Pak Joko membaca laporan yang Dana dan Lingga bawa. Terdapat 23 siswa yang telat hari ini. Kebanyakan dari kelas 12 yang mau lulus. Alasannya kebanyakan juga alasan klasik, bangun kesiangan lah, motornya mogok lah, habis ngerjain laprak lah dan masih banyak lagi.
"Haduh haduh... Varsya ki kok yo ra berubah-ubah yo. Padahal bapak wisnemoni wong tuwone loh wingi haduhh..." keluh Pak Joko saat nama Varsya Kencana lagi dan lagi tercatat di daftar nama anak yang telat.
"Apa perlu saya nasehatin pak anaknya?" tanya Dana yang mungkin bisa menjadi sebuah solusi dari masalah ini.
"Boleh nak kalau kamu sanggup dan mau ngomong sama anaknya. Bukannya apa-apa tapi bapak aja males omongan sama Varsya soalnya jawabannya itu loh... Cueknya minta ampun. Bapak gak suka, jadi bapak lebih pilih ngomong langsung sama bapaknya Varsya daripada sama orangnya langsung," jelas Pak Joko. Dana dan Lingga hanya bertatap-tatapan. Bingung mereka harus ngomong apa.
"Ya coba nanti saya ngomong langsung sama Varsya pak. Siapa tahu Varsya mau dengerin omongan saya hahaha..." ucap Dana tertawa bisnis. Dalam hati ia tertekan juga harus berhadapan dengan kulkas 10 pintu seperti Varsya.
"Baiklah kalau begitu. Makasih banyak ya nak Dana. Bapak gak tau lagi harus gimana sama Varsya. Anaknya badung banget. Kata tetangganya sih soalnya dia anak tunggal dan dia kurang kasih sayang orang tuanya. Jadinya ya gitu," ucap Pak Joko mengantar kedua anak itu keluar ruang BK.
"Kalau gitu Dana pamit ya pak..." ucap Dana. "Lingga juga pamit ya pak. Permisi..." tambah Lingga sebelum mereka berdua benar-benar pergi.
-to be continued
**********
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.