Bab 29 : Respon

165 4 0
                                        

Dua hari pun berlalu, Vanesha dan Dana sudah pulih seutuhnya dan mereka bisa meninggalkan rumah sakit hari ini. Namun, Sasya, gadis itu masih terbaring lemas dengan bantuan alat pernafasan di ranjangnya.

Sudah dua hari berlalu namun gadis mungil itu masih tak sadarkan diri. Bahkan kemarin malam kondisinya sempat kritis sampai William, papa Sasya harus mengamuk dalam rumah sakit karena tidak ada satu pun dokter yang segera datang dan menolong puterinya.

"Sasya..." ucap Vanesha memandang sedih wajah lemah sahabatnya yang tak kunjung membuka matanya. "Cepet bangun ya Sya. Kita semua kangen sama kamu. Dita, Mega, Lingga, Abi, Gani bahkan Dana pun kangen sama kamu Sya. Ayo bangun sya... Umpati kami seperti biasanya," ucapnya dengan air mata perlahan meluncur, membasahi pipinya.

"Sudah sudah. Sasya masih butuh waktu untuk pulih. Udah ya. Kita juga gak mau kamu malah tambah drop karena nangis terus. Sasya juga gak suka liat kamu nangis kan? Ayo senyumnya mana..." ucap Lingga begitu lembut. Berusaha menghibur gadisnya yang terus-terusan menangis setelah dirinya tersadar.

"Om Willi, Tante Fani, Om Danis, Dana, Abi, Bang Juna, kita pamit. Maaf kalau kita gak bisa nemenin Sasya terus, orang tua kita udah nyuruh pulang dan besok kita masih harus sekolah. Tapi tenang aja, besok kita sepulang sekolah bakal kesini lagi kok," ucap Dita mewakili teman-temannya untuk berpamitan.

"Gak papa Dit. Makasih ya semua udah repot-repot jagain anak tante. Maafin ya kalau anak tante sering ngerepotin kalian. Hati-hati dijalan ya, kalau udah nyampe jangan lupa kabarin grup, nanti tante yang bales lewat hp Sasya..." ucap Stefani, menghantar kepergian sahabat-sahabat puterinya.

Sekarang hanya tinggal para lelaki dan Stefani saja yang ada di ruangan. Danis dan Arjuna yang merasa mempunyai tanggung jawab juga atas hidup Sasya memutuskan untuk menginap lagi disana. Sementara kedua lelaki lain, Abi dan Dana memutuskan untuk pulang agak malam karena ingin bersama dengan Sasya lebih lama lagi.

"Lo kenapa gak pulang?" tanya Juna kepada Abi yang sedang asik menghisap rokoknya di belakang kamar pasien. Ada sebuah space kecil untuk duduk dan menjemur handuk disana. Bahkan space kecil itu mengarah langsung pada taman rumah sakit.

"Gue masih gak rela buat pergi Bang. Gue janji sama kilat buat jadi malaikat pelindung dia tapi apa yang gue lakuin? Gue malah mau nembak dia. Dan lagi-lagi gue gagal melindungi Dana. Gue malah yang dilindungi sama dia," ucap Abi kembali mengepulkan asap rokok ditangannya.

Arjuna mengangguk paham. Ia tahu benar lelaki seperti Abi akan merasa bersalah sebesar-besarnya karena telah melanggar janjinya sendiri. Rasa gagal dan ketakutan akan terus membayangi lelaki setia dan berprinsip seperti Abi.

"Lo gak salah Bi," ucap Dana bergabung dengan mereka. Ia juga membawa tiga gelas coklat hangat sebagai teman mengobrol mereka malam ini.

"Menurut lo emang gak salah. Tapi bagi gue, gue salah dan gagal jadi temen yang baik!" Amarah Abi memuncak. Hatinya seperti teriris sedikit demi sedikit.

Dana menggeleng. "Mindset lo yang salah. Lo udah bener. Makasih udah mau ngelindungin gue walaupun kaki lo luka. Makasih udah mau menangkis tembakan yang diarahkan ke gue. Makasih juga udah nembak Sas... Maksud gue Kencana. Makasih buat segala hal yang udah lo lakuin ke gue maupun ke temen-temen. Tanpa lo kita gak bisa nyampe ke tempat tujuan kalau lo sadar."

Ucapan Dana membuat Abi terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Dana. Ternyata dirinya juga sudah berbuat banyak tapi mengapa hatinya masih tidak terima dengan kejadiaan yang mereka alami tempo hari.

"Lo mungkin mikir gue nyelametin kalian lagi dan lagi tapi itu salah Bi. Tante Fani yang nyelametin kita semua, bukan gue. Gue cuma perantara beliau aja. Jadi stop mikir lo gak berguna! Lo udah hebat banget Bi! Bahkan lo punya geng motor sendiri bukankah itu keren? Mana ada anak disekolah kita yang punya geng motor selain lo? Gak ada! Gue jamin gak bakal ada Bi!"

Abi tersentuh. Ucapan Dana memang selalu bisa menenangkan pikiran dan hatinya. Sebenci-bencinya dan sekecewa-kecewanya dia kepada Dana, lelaki itu takan pernah bisa membenci sahabatnya satu itu.

"Wow... Ternyata adik gue dewasa banget. Gimana kalau lo yang jadi abang aja? Kan lumayan gue bisa morotin duit lo. Lagian lo udah kerja sekarang, udah ada duit sendiri, ya kan? Ya kan?" goda Arjuna menaik turunkan alisnya.

"Makasih Dan, lo emang yang paling ngertiin gue." Abi menggeleng. "Ngertiin kita semua tepatnya," koreksinya.

Dana tersenyum, senang mendengarnya. Kekuatan sejatinya bukanlah fisik maupun kemampuan telepati melainkan kebesaran hatinya untuk mau mengerti setiap orang yang dekat padanya.


***********


Hari ketiga pun datang, seperti janji mereka kemarin, para remaja kini sudah kembali untuk menengok Sasya yang masih terbaring lemas dengan bantuan alat nafas.

"SASYA KAMI DATANG!" teriak Mega dengan kerasnya. Alhasil ia mendapatkan pelototan dari keenam temannya dan Om Willi yang masih setia berjaga disana.

"Lo pikir rumah sakit ini hutan apa?!" kesal Lingga mengetuk kepala adiknya kecilnya.

"Berhubung kalian disini, om mau pulang sebentar. Tolong jaga Sasya ya, nanti om kesini lagi tapi gak maleman. Kalau nanti kalian mau pulang sebelum om dateng juga gapapa. Nanti om telpon aja Fani buat dateng kesini," ucap William berpamitan pada sahabat putrinya lalu pergi.

"Sya, lo harus kuat! Lo harus bisa bangun dan teriak-teriak lagi!" ucap Dita memegang tangan kanan Sasya dengan kedua tangannya. "Bener Sya, drakor dari artis kesukaan lo, Cha Eun Woo udah rilis nih, ayo nonton bareng!" timpal Vanesha. "Heem. Ntar gue suruh Lingga beliin es krim lagi deh. Biarin dia bangkrut, asal lo seneng aja gak papa dia mah," tambah Mega selalu menyangkutkan kakak kembarannya sebagai alasan.

Sasya diam tak bergeming. Dan tiba-tiba saja jarinya bergerak-gerak dan nafas gadis itu mulai tak beraturan. Para lelaki yang melihat para gadisnya panik, bergegas untuk memanggil dokter untuk menangani Sasya dengan segera.

15 menit dokter yang menangani Sasya keluar. Dokter itu menarik nafas lega. "Syukurlah. Sepertinya malam ini pasien akan sadar. Teruslah ajak dia bicara. Tubuhnya sudah bisa merespon apa yang kalian katakan. Saya sudah menyuntikkan obat penenang untuk dia. Jadi jangan khawatir."

Ketujuh sahabat itu akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter. "Terimakasih dok," ucap Dana. Mereka pun segera menghampiri Sasya lagi untuk memeriksa keadaan gadis yang terbaring lemah itu.

"Teruslah ajak Sasya bicara. Kita pergi sebentar beli makanan. Apa ada yang pengen request mau makan apa?" ucap Gani mengambil kunci motor dan jaketnya. Begitu juga dengan Lingga, Abi, dan Dana.

"Kita ngikut aja mau makan apa. Tapi kalau udah nyampe warung yang kalian tuju, fotoin menunya biar kitab isa milih mau makan apa," ucap Dita. Para lelaki mengangguk paham, berpamitan dengan gadis-gadis mereka tentu dengan Sasya juga kemudian pergi untuk mencari makanan.


- to be continued

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang