Bab 28 : Orang Terpilih

165 9 0
                                        

Seorang lelaki yang dibaringkan diantara dua perempuan lainnya perlahan mengerjapkan matanya. Dana nampak kebingungan melihat langit-langit yang asing itu. "SASYA!" pekiknya terduduk mengingat kejadian yang baru saja ia alami.

"Udah bangun lo?" tanya Bang Juna dengan tatapan sinis. Dana menoleh, disana Abangnya tidak sendiri ada Papanya dan juga ayah Sasya yang tersenyum melihatnya.

"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Danis menghampiri anaknya.

"Papa, Sasya mana?" tanya Dana kepada ayahnya. Sang ayah, Danis pun menunjuk ke sebelah kanan putranya. "Itu dia disana, masih belum sadar. Kata dokter dia butuh waktu buat sadar," ucapnya. Dana mengangguk paham.

"Om denger dari Dita kalau kamu yang buat Sasya sadar dari pengaruh kutukan Kencana, benarkah?" tanya William. Dana hanya mengangguk sebagai balasan. "Hmmm ternyata kamu orang pilihan, persis seperti Fani dulu," ucap William mengingat kejadian yang dialaminya, sama persis seperti ini.

"Maksudnya, om?" tanya Dana bingung. 'Orang Terpilih' apa maksudnya itu?

"Dulu orang ini juga pernah berubah sama seperti Varsya. Tepat seminggu setelah pernikahannya dengan Fani, orang ini berubah haus darah karena dikutuk sama mantannya yang tidak terima pernikahannya dengan Fani," jelas Danis menghela nafasnya. Ia masih merinding jika mengingat kejadian itu.

"Tunggu... Papa kenal Om William?" tanya Dana. Danis mengangguk. "Dia teman lama yang hampir membunuh papa saat kutukannya kambuh," ucap Danis melirik sinis William yang menyengir lucu.

"Hahaha... Maaf ya. Saya tidak bermaksud menyakiti tuan yang terhormat. Tapi sejak saat itu, saya pikir saya telah menikahi seorang penyihir. Bagaimana bisa gadis biasa bisa mematahkan kutukan saya hanya jika dia bukan penyihir," ucap William tiba-tiba merasakan dingin di belakang tubuhnya.

"HOHOHO! Suamiku tersayang.... Jangan bilang kamu sedang membicarakanku sebagai penyihir lagi..." Dengan tatapan membara, ibu Sasya, Stefani masuk ke dalam ruangan. Melangkahkan kakinya lebar-lebar menghampiri suaminya.

"Heh, kamu kan memang penyihir sayang. Anak Danis ini juga otw jadi penyihir kayak kamu hahaha." Stefani yang kesal menjewer telinga suaminya kuat-kuat. "Jika aku penyihir maka kamu akan ku kutuk jadi batu! Biar tahu rasa!" kesalnya.

"Am... Ampun sayang.... Ampun..." mohon William agar istrinya melepaskan jewerannya.

"Hah... Pasutri gila ini mulai lagi..." ucap Danis jengah melihat kelakuan absurd pasangan ini sejak 25 tahun yang lalu.

"Oh ya Dana. Terimakasih ya sudah mau mendengarkan suara tante. Hany aitu yang bisa tante lakuin biar kalian semua Selamat. Sebenarnya tante kirim sinyalnya ke Dita sih, tapi gadis itu tidak bisa dengar apa yang tante sampein. Dan saat akhir, tante sadar ternyata kamu punya kekuatan istimewa kayak tante," ucap Stefani tersenyum lembut kepada calon menantunya (?) itu.

"Ja... Jadi suara yang Dana denger waktu itu, suara tante?" ucap Dana menganga tak percaya. "Ba... Bagaimana bisa?" Padahal jarak mereka sangat jauh tapi bagaimana bisa dirinya bisa mendengarkan suara Stefani tepat ditelinganya. Stefani mengangguk. Kemudian tersenyum.


Flashback on

Dana hanya bisa meringkuk ketakutan, menyembunyikan wajahnya pada kedua kakinya. Saat ini lelaki polos itu hanya bisa melihat semua teman-temannya terluka satu per satu karena Kencana. Bahkan Abi yang melindunginya kini terluka dibagian kaki karena tembakan Kencana.

Dana hanya bisa menangis, dirinya benar-benar tidak berguna. Lingga sudah membujuknya untuk keluar saja dan serahkan semuanya pada mereka, namun anak bebal itu memilih untuk tetap berada disini dan menjadi beban untuk Abi maupun Gani.

Dalam tangisannya, Dana bisa mendengar suara seseorang. Suara seorang wanita yang lembut, memanggil-manggil namanya.

"Dana... Dana... Dana... Anakku..."

Dana bergidik ngeri. Apa arwah gentayangan sedang berbicara padanya. Ia melirik Lingga dan bertanya, "Lo denger ada yang manggil-manggil gue gak?". Lingga menggeleng, "Jangan ngadi-ngadi bajingan," ucapnya ikutan merinding karena ulah Dana.

"Jangan takut Dana, ini tante. Dana pasti tidak asing dengan suara tante kan?"

Dana lagi-lagi merinding. Sepertinya suara itu hanya bisa dia dengar. "Tante siapa?" ucap Dana membuat Lingga memukulnya karena merasakan ngeri. Dasar penakut.

"Tolong sadarkan Sasya. Tolong percaya pada tante. Hanya kamu satu-satunya yang bisa nolongin dia. Sasya butuh kamu Dana..."

Dana mengangguk. "Tolong bimbing saya."

DOR! DOR!

Suara tembakan mulai terdengar lagi. Kencana membidikan pistolnya tepat ke arah dua sejoli yang sedang berpelukan dan menangis itu. Dana dengan mantap, berusaha untuk berdiri dengan kakinya yang lepas, melewati Lingga dan Abi yang menahan dirinya.

"HENTIKANNN!" teriak Dana dengan lantang.

Teman-temannya tentu terkejut dengan tindakannya yang bisa terbilang nekat.

"Sialan! Jangan bangunkan gadis lemah itu lagi!" sentak Kencana memegangi bawah perutnya yang berdenyut kencang.

"Bagus, Dana." Suara Wanita itu mulai terdengar lagi. "Mendekatlah ke arahnya." Dana pun mengangguk, berusaha semakin dekat dengan Kencana. Menghiraukan pistol yang mengarah padanya.

"DANA JANGAN!" teriak Abi dari belakang tapi Dana seolah tak mendengar. Fokusnya kini hanya pada Kencana dihadapannya.

"Suruh dia untuk bangun dan menemui kalian. Dan pancing dia dengan memanggil namanya aslinya, Varsya Ernest..."

"Saya mengerti," ucap Dana.

"Sialan! Jangan mendekat!" ucap Kencana semakin menodongkan pistolnya ke kepala Dana. Bahkan gadis itu siap untuk menembak. Ia menarik pelatuknya kuat-kuat. Tapi sayang suara Dana lagi-lagi mengalahkannya.

"Sasya..." Dana mengambil nafas dalam-dalam. "Hentikan Sasya! Hentikan semua ini! Bangunlah! Bangun dan temui kami! Kami semua, sahabatmu ada disini sekarang! Ayo bangun dan umpati kami semua dengan perkataan kasarmu! Marahi aku yang selalu membuatmu sakit hati! Ayo temui kami Sya! BANGUN KATAKU! VARSYA ERNESTTT!" ucapnya dengan penuh emosi. Sedih, marah, rindu, semua perasaan Dana bercampur menjadi satu dalam kata-kata yang ia ucapkan.

Jantung Kencana kembali berdegup kencang. Kepalanya merasakan sakit luar biasa karena teriakan Dana barusan.

"Nama asli Sasya adalah Varsya Ernest bukan Varsya Kencana. Tuan Ernest menambahkan kata kencana pada namanya supaya dia selalu ingat tentang kutukan yang diberikan oleh mantannya. Kencana Ayu Wangi..."

Dana lagi-lagi mengangguk mendengar penjelasan suara wanita lembut itu. "Varsya Ernest, aku tau nama aslimu Varsya Ernest bukan Varsya Kencana. Ayahmu menambahkan nama Kencana padamu agar selalu ingat tentang kutukan yang diberikan Kencana Ayu Wangi, mantannya kepadanya. Jadi aku mohon, bangunlah puteri Ernest. Bangun dan marahi aku!" ucapnya dengan derai air mata membasahi pipinya.

"ARGHHHH..." Kencana berteriak kencang saat dirinya merasakan tubuhnya tak berada dalam kendalinya lagi. "AKU AKAN MEMBALAS KALIAN SEMUAAAA!" teriaknya sebelum akhirnya tubuh mungil itu terkulai dalam dekapan Dana.

"Syukurlah..." ucap Dana yang ikut terhuyung ke belakang. Tenaganya sudah terkulas habis. Pandangannya kabur, bahkan ia sempat berhalusinasi, Sasya tersenyum padanya sebelum akhirnya pandangannya menghitam.

Flashback off


"Sudah om bilang, tante ini kan penyihir jadi dia bisa nyampein suaranya sejauh apapun itu," ucap William lagi-lagi membuat darah istrinya mendidih.

"Itu namanya telepati bodoh! Orang bodoh sepertimu mana paham!" kesal Stefani kepada suaminya.

Dana hanya terkekeh melihat dua pasutri itu seperti anak kecil. Sekarang Dana tahu bahwa dirinya punya kekuatan special. Dana juga berharap dengan kekuatannya sekarang, ia bisa melindungi Sasya walapun nampaknya mustahil. 


- to be continued

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang