Malam harinya, Dana kini menunggu Sasya. Sendirian.
Tante Fani tidak bisa menunggu putrinya malam ini karena ada photoshoot bersama salah satu brand.Om Willi tiba-tiba saja harus kembali ke Inggris karena masalah pada perusahaan. Papa dan abangnya baru pergi untuk menjenguk nenek yang sakit. Sementara keenam temannya, dia tidak tega untuk membiarkan mereka tinggal walaupun mereka mau.
Disaat hening seperti ini, Dana teringat akan memori-memori kecil tentang dirinya dan Sasya. Tentang dirinya yang marah karena Sasya tak kunjung bangun saat dirinya menjemput. Tentang Sasya yang tidak doyan dengan rasa strawberry. Tentang mereka yang pergi ke taman hiburan. Dan masih banyak lagi.
"Sya, ini gue, Dana. Sekarang Cuma kita berdua aja disini. Lo inget gak dulu lo nantangin gue jadi sugar boy lo? Dan dengan bodohnya gue malah nge-iya-in permintaan konyol lo karena gue butuh uang buat lunasin biaya rumah sakit mama. Inget kan?" Jari Sasya bergerak, merespon perkataan Dana.
Dana tersenyum gadisnya sudah bisa merespon perkataannya. Walaupun hanya gerakan kecil. "Dulu gue takut, takut banget malah sama lo. Waktu gue mau ngomong sama lo aja, gue harus minta temenin si Gani dulu baru gue berani nemuin lo." Jari Sasya bergerak lagi sebagai balasan.
"Tapi semuanya berubah semenjak gue jadi baby boy lo. Lo yang gue tau ganas dan menyeramkan ternyata lucu juga. Yah walaupun mulut lo pedes pake banget dan lo galaknya minta ampun ngalah-ngalahin mama gue. Tapi gue bersyukur bisa kenal lo. Pandangan gue tentang cewek berandal juga berubah karena lo. Gak semua cewek yang ngerokok, tawuran dan awur-awuran itu jahat. Cuma covernya aja yang kelihatan jahat tapi aslinya gak semua dari mereka jahat."
Dana menggenggam tangan Sasya untuk ia bawa untuk menyentuh dada bidang miliknya. "Saat lo ada di samping gue, gue merasa tenang. Gue merasa ada seseorang yang menjadi kekuatan gue. Tapi disisi lain, gue juga gak bisa menolak hati gue yang udah kebuka lebar karena seorang Lauren. Maaf gue keliatan brengsek banget buat lo. Maaf gue selalu buat lo sakit hati... Maafin gue Sya..."
"Lo gak salah Dan. Waktu yang salah..." ucap Sasya lirih dengan suara masih lemas. Dalam balutan alat bantu pernafasan, Dana akhirnya bisa melihat kembali senyuman lembut Varsya Ernest kepadanya.
"Sasyaa..." ucap Dana dengan mata berkaca-kaca. "Tu... Tunggu disini, gue panggil dokter dulu. Lo jangan gerak oke? Sebelum dokternya dan gue gue balik kesini, lo diem aja disitu oke?!" Dana mengusap matanya untuk menghapus beberapa titir air mata kemudian bergegas mencari dokter untuk memeriksa keadaan Sasya yang baru saja sadar itu.
"Kondisinya sudah baik-baik saja. Syukurlah. Tapi untuk berjaga-jaga, alat bantu pernafasan akan terus kami pasangkan padanya. Jika pasien bisa benar-benar pulih, dalam 2-3 hari kedepan, pasien sudah bisa kembali," ucap sang dokter setelah memeriksa keadaan Sasya.
Dana bernafas lega. "Baiklah dok, terimakasih."
"Syukurlah... Lo udah sadar..." ucap Dana mengelus kepala pasien cantik dihadapannya. "Gue harus kasih tau kabar Bahagia ini kepada semuanya hahaha!" tambahnya mengirimkan sebuah foto selfie dirinya dan Sasya yang sudah bisa membuka matanya. Dana terkekeh saat melihat notifikasinya mendadak menjadi ramai setelah ia mengirimkan foto tersebut.
Mode Chat ON!
YANG WARAS NGALAH (8)
You :
[Send a picture]
Dita IPS 3
AKHIRNYA SASYA SADAR JUGAAAAA
Gue otw sekarang Dan
@GaniItem jemput gue beb
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomanceVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
