"Jadi..."
"Lo bakal pergi?"
"Ninggalin kita?!"
Semua mata menatap Sasya dengan perasaaan sedih. Ketua kesayangan mereka tak lama lagi akan pergi meninggalkan mereka.
Sekarang ini, Sasya mengumpulkan semua anggota Red Devils di markas besar mereka. Mengatakan fakta kalau sebentar lagi ketua mereka akan pergi untuk waktu yang lama.
"Maaf kalau kesannya gue mangkir dari tanggung jawab. Gue gak berniat ninggalin kalian tapi..." Sasya menunduk. Ia tak sanggup. Red Devils, geng motor kecil ini sudah seperti rumah kedua baginya.
Merasa suasana terlalu kalut, Vanesha memeluk ketuanya, memberikan dukungan padanya sembari meyakinkan angggota mereka bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.
"It's okay. Sometimes we really have to part ways so that our relationship can become stronger again."
"Gak bisa bahasa inggris bang," celetuk Jeje membuat suasana menghangat. Mereka, semua anggota Red Devils tertawa mendengar candaannya.
Sasya tersenyum lega. Akhirnya beban yang ia pikul berkurang.
"Eh eh bentar...." Bernard bersuara. "Kalau ketua kita bakal pergi, siapa yang bakal menggantikannya?"
"Ah soal itu tidak usah khawatir." Sasya memberikan kode agar Jeje mendekat padanya.
"Siap menerima perintahmu nona..."
"Bercanda bae lo. Dia... Dia yang bakal menggantikanku menjadi pemimpin Red Devils sampai aku kembali."
Semua orang bertepuk tangan. Mereka tidak keberatan memiliki ketua baru seperti Jeje. Meski Jeje masih baru untuk mereka, lelaki itu cukup ramah dan mudah bergaul dengan mereka. Ditambah sifat Jeje yang 11 12 seperti ketua mereka sekarang.
"Buset langsung diterima dong gue. Gak ada sanggahan apa gitu?!!!" Semua anggota lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Jeje yang jenaka.
"Sudahlah sudah..." Sasya mengambil sebotol minuman dihadapannya, mengangkatnya tinggi-tinggi. "Malam ini kita berpesta!" ucapnya.
Dentingan gelas-gelas kaca terdengar memenuhi ruangan. Botol-botol minuman keras satu per satu dibuka. Malam ini, Red Devils berpesta pora demi menghormati ketua mereka.
Ditengah huru-hara yang terjadi, Sasya menarik Dita keluar dari kerumunan. Membawa sahabatnya ke halaman belakang yang sepi dan tenang.
"Kenapa?" tanya Dita begitu Sasya melepaskan tangannya. Wajah yang serius itu, pasti terjadi masalah.
"Gue gak yakin mau ngomong ini sama lo," ucap Sasya menggaruk wajahnya.
"Ah elah ngomong aja. Kalau nyinggung gue, lo juga bakal gue hantam hahaha...."
"Hahaha... Lo bisa aja.... Jadi..." Dita melipat tangannya didepan dada. Hatinya berdegup kencang saat menunggu apa yang akan Sasya katakan padanya. Sembari menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Lo bakal ikut gue ke Jepang," ucap Sasya dengan cepat. Menghembuskan nafasnya. Matanya terpejam, ia tak berani menatap sahabatnya.
Namun reaksi Dita tak seperti yang Sasya bayangkan. Sahabat sekaligus penjaganya itu malah nampak santai dan menerima itu. Seolah-olah itu bukan masalah yang besar untuknya.
"Oh soal itu... Oke. Gue bakal ngikutin lo kemana aja. Ke neraka sekalipun," jawab Dita santai sambil menyeruput sedikit wine digelasnya.
"Hah? Lo? Nggak marah?" Sasya tak percaya. Bagaimana bisa?
Dita menggeleng penuh kepastian. "Ngapain marah? Itu udah jadi tugas gue buat ngikutin lo, ngelindungin lo kapan pun dan dimana pun Sya," ucapnya.
Sasya tersentuh mendengar perkataan sederhana yang diucapkan oleh Dita. "Ma... Makasih... Gue ki... kira lo bakal marah karena lo bakal pisah sama Gani hehehe."
Dita tersenyum kecil. "Jujur aja gue sama Gani putus 1 minggu yang lalu."
Sasya terbelalak. "Hah?! Kok bisa?!" Couple goals disekolah itu putus?!
"Ya gimana ya Sya. Dia gak mau berubah. Ya mungkin... Perpisahan memang takdir kita..." ucap Dita menatap langit biru malam ini. Nampak cerah meski awan menyelimutinya.
Sasya memeluk sahabatnya itu. Pasti berat menjadi seorang Dita sekarang. Berpisah dari orang yang sangat ia cintai tidaklah mudah. Sasya tahu itu.
"Ah sudahlah..." Dita melepaskan pelukan Sasya. Ia tak mau terus bersedih dengan keadaan ini.
"Oh ya, gue juga ajak Lintang," ucap Sasya kembali menggaruk wajahnya. Keringat mengalir deras dari tubuhnya.
"Lintang Pradana, mantan ketos itu?!" Sasya mengangguk cepat. Api amarah Dita membakarnya hidup-hidup.
"Te... Tenang aja... Gue... Gue rekrut dia juga ada beberapa pertimbangan kok..." ucap Sasya.
"Pertimbangan???" Dita menuntut penjelasan.
"Dia pintar, pandai olahraga, tegas dan mau dibentuk oleh orang lain. Jadi gue pikir dia bakal cocok bergabung sama kita," jelas Sasya.
Dita menghela nafasnya. Ia tidak bisa protes. Sasya sudah memutuskannya dan itu artinya mutlak. "Baiklah terserahmu saja..."
"Terimakasih..."
***********
Keesokan harinya, Sasya terbangun dengan sakit luar biasa di kepalanya. Pesta semalam benar-benar gila. Semua ambruk tak ada yang tersisa.
"Oh lo udah bangun?" Dita tersenyum tipis sambil menikmati secangkir ramuan pereda mabuk ditangannya.
Sasya mengangguk pelan. Memegang kepalanya yang terasa berat untuk disangga.
"Oh ya, lo juga ngasih tau Dana tentang ini kan?" tanya Dita.
Sasya menggeleng pelan. "Gue..."
"Parah banget njir masak laki sendiri kagak dikasih tau," sahut Mega yang sudah rapi dengan sebuah gaun bewarna putih.
"Mau kemana lo?" tanya Dita curiga. Tidak biasanya Mega berdandan seperti ini.
"A... Anu... Gue... Gue mau keluar sama temen!" Mega tertawa. Keringat mengalir deras dari dahinya.
"Temen yang mana?" sahut Sasya.
Mega menatap langit-langit. Ia tidak mungkin memberitahu teman-temannya kalau dia akan pergi bersama dengan Abisatya kan? Gadis itu mencari sebuah alasan yang terlihat masuk akal.
"Lah kalian udah bangun?" Mega bernafas lega. Jeje menyelamatkannya dari rundungan pertanyaan dua gadis tomboy dihadapannya.
"Weh lo mau kemana?" tanya Dita melihat penampilan Jeje yang juga sudah rapi dengan leather jacket andalannya.
"Gue mau pulang lah gila. Emang kalian gak mau pulang?" Sasya dan Dita menggeleng.
"Eh gue nebeng sampek depan dong. Boleh gak?" ucap Mega menatap Jeje dengan memelas.
"Boleh yuk." Mega tersenyum senang. Dalam hatinya ia benar-benar berterimakasih kepada Jeje yang sudah mau menyelamatkannya 2 kali pagi ini. Ia harus membalasnya untuk ini.
"Ya udah deh. Hati-hati di jalan yak! Meg, kalau bocah ini macem-macem, telpon gue aja, okay?" ucap Sasya membuat Jeje merotasikan matanya malas.
"Apalah dia apalah..." Setelah itu Mega pergi bersama Jeje.
"Cari sarapan lah cuy. Laper gue," ajak Dita. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi.
"Gass lah cuy..."
-to be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomanceVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
