Bab 22 : Amarah Abi

187 6 0
                                        

Hari-hari berlalu, kedekatan Dana dan Lauren pun semakin nyata. Beritanya pun cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Kenapa tidak? Dua insan berparas tampan dan cantik itu sangat cocok untuk bersama. Bahkan tak jarang dari mereka membandingkan Lauren dengan Sasya.

Kemanapun Lauren pergi, Dana pasti akan ada disampingnya. Begitupun sebaliknya. Seperti sekarang ini, kedua insan itu sedang makan bersama di pojok kantin. Dengan uang yang diberikan Sasya setiap bulan, Dana sekarang tidak khawatir lagi dengan uang jajannya.

"Kenapa Sasya lama sekali?" gerutu Dita yang sudah menunggunya sejak 10 menit yang lalu. Bahkan soto yang dipesan Vanesha sudah dingin karena menunggunya.

Selain kedekatan Dana dan Lauren, kedekatan Sasya dan Abi juga menjadi sorotan. Sejak permintaan Abi diatap tempo hari, keduanya menjadi dekat. Bukan Sasya, melainkan Abi yang memilih untuk mendekati Sasya.

"Woi! Pacaran mulu kalean! Makanan gue bisa medog karena nunggu kalian kelamaan!" protes Mega saat kedua sejoli itu menampakkan batang hidungnya.

Sasya hanya terkekeh. Tanpa bersalah ia memilih untuk menyantap duluan bekal yang sudah mamanya buatkan untuknya. "Anjir Sya! Lo kayak bocah SD tau gak! Mana mama lo niat banget nyetak nasinya bentuk kepala beruang kayak gitu!" komen Gani yang tercengang melihat isi kotak bekal ketua berandal itu.

"Yang penting masih bisa dimakan..." ucap Sasya santai. Ia melanjutkan acara makannya. Sesekali dibuat terkejut dengan tingkah Abi mengusap ujung bibirnya yang terkena saus.

"Lo mau disuapin sekalian gak Beb? Biar kayak onoh..." ucap Gani kepada Dita yang kini menatapnya jijik. "Bilang aja lo iri sama mereka! Jangan bawa-bawa gue!" tolak Dita dengan tajamnya. Mereka pun tertawa mendengar Gani ditolak mentah-mentah oleh tunangannya sendiri.

"Sorry guys, perut gue mules!" ucap Vanesha yang merasakan panggilan alam ditengah makan manjanya. Ia pun belarian ke kamar mandi untuk segera menuntaskan kewajibannya.

"Eh eh lo tau gak katanya si onoh udah jadian cuy..." celetuk Lingga yang punya banyak info.

"Bodoamat Ngga, bukan temen gue lagi. Jangan bahas dia. Dia udah kena kutukan mak lampir!" ucap Gani menyudahi pembahasan sensitive tentang mantan teman mereka, Dana. Takut singa betina yang dijaga tunangannya ngamuk.

"Gue fine guys. Kalau semisal kalian mau gibahin mereka, monggo. Tapi gue gak akan ikut comment," tutur Sasya menyeruput teh hangat buatan kakeknya yang berkunjung kemarin.

Abi melihat raut wajah Sasya kembali masam, melirik kedua temannya dan memberikan isyarat untuk mengganti topik percakapan mereka.

"Ah iya! Mendingan kita rencanain liburan aja. Ya liburan! Bentar lagi kan bakal liburan semester. Kita pergi kemana gitu yok..." ucap Gani. Untung pria itu punya beribu cara untuk merubah suasana. "Boleh tuh boleh. Kita ke pantai? Atau muncak?" tambah Dita.

"Gue sih pengennya ke Jepang, menikmati indahnya bunga Sakura sama pemandian air panas yang katanya seger," usul Mega yang hobi berkeliling dunia setiap liburan sekolah tiba. "Gue sih belum pernah ke Jepang. Apa mau ke Jepang aja?" ucap Lingga setuju dengan pendapat kembarannya.

"Oke udah diputuskan liburan kali ini kita ke Jepang!" sorak Gani membuat mereka berenam bertepuk tangan.

Dana yang mendengar semuanya dari kejauhan hanya bisa mendesah lelah. Sebenarnya ia juga ingin sekali liburan dengan teman-temannya tapi karena hubungan mereka merenggang sepertinya impian itu harus ia kubur dalam-dalam.

Lauren yang menyadari perubahan raut wajah lelaki didepannya, bertanya, "Kenapa Dan? Lo kayak cape gitu?".

Dana menggeleng. "Gak papa Ren, gue cuma kurang tidur aja semalem. Bang Juna berisik banget ngerjain skripsi. Udah kayak tawuran aja dia kalau ngerjain skripsi," alasan Dana. Tapi tidak sepenuhnya bohong karena Juna memang berisik saat mengerjakan skripsi miliknya yang tak kunjung rampung.

Lauren mengangguk. "Kalau ada apa-apa lo bisa cerita kok ke gue," ucapnya dengan senyuman manis membuat wajah Dana merah padam.

"I... Iya..." ucap Dana malu-malu.

"Udah kurang 5 menit nih. Balik yok," ajak Lauren. Dana mengangguk. Dua sejoli itu kembali ke kelas, melewati sekumpulan orang-orang yang menatapnya tajam.

Di kelas, Dana merasa kesepian. Lauren pergi karena dipanggil Pak Joko keruangannya. Ia sendirian di bangkunya. Walaupun ketiga temannya di belakang sudah kembali tapi ketiganya masih enggan untuk mengajaknya berbicara.

"Bajingan lo Ngga! Itu makanan gue sat! Kembaliin kagak lo!" Duo bodoh, Lingga dan Gani mulai heboh. Pasalnya Lingga tiba-tiba saja merebut roti bakar yang ada ditangan Gani dan memakannya hingga sisa setengah.

"Kalian bisa gak diem!" geram Dana yang daritadi kursinya bergerak ke depan karena ulah duo makhluk dibelakangnya. Lingga dan Gani seketika diam, diam menatap Dana tajam. Lagi-lagi seperti itu, piker Dana.

"Kalian kenapa sih? Marah sama gue?" tanya Dana yang sudah lelah. Mata hazelnya menatap kedua cecunguk itu bergantian. Adu tajam dengan mereka.

"Gak! Kita gak marah, perasaan lo aja," jawab Gani yang diangguki oleh Lingga.

"Terus kenapa kalian diemin gue?!" tanya Dana lagi. Kali ini dengan emosi dikit.

Gani dan Lingga menggeleng bebarengan. "Kita gak diemin lo. Lo sendiri yang lupain kita. Lo sibuk sama ayang baru lo yang sialnya... Dah lupain gue lagi gak mau ngomongin orang," jawab Lingga.

Dana menghela nafasnya. Ternyata karena Lauren. "Kalian dihasut sama Sasya ya?" tanyanya lagi. Sudah seminggu dirinya juga curiga dengan perubahan sikap Sasya yang menjadi dingin padanya.

"Jadi selama ini lo pikir Sasya itu tukang hasut?" Kali ini Abi yang angkat bicara. Lelaki jangkung itu meremat kerah pria bodoh dihadapannya. Seisi kelas menjadi heboh karena ini pertama kali Abi bertindak sekasar itu.

"Gue kecewa sama lo Dan. Gue pikir lo bakal pikirin omongan gue waktu dirumah sakit. Ternyata gue salah, lo lebih milih cinta tai lo itu daripada temen lo! Gue kecewa sama lo!" tutur Abi menghempaskan kasar tubuh Dana setelahnya.

Dana pun terdiam. Ini pertama kalinya Abi menunjukkan emosinya. Dan ini pertama kalinya Abi menggunakan kata-kata yang tajam kepada orang terdekatnya.

"Gue mau cabut. Kilat pasti sedih kalau tau ini..." Abi membawa kaki jenjangnya keluar dari kelas. Ke atap sekolah, berharap seseorang bersama gerombolannya ada disana.

"Gue gak mau nyalahin siapapun tapi harusnya lo mikirin perasaan dia juga. Lo boleh jatuh cinta sama China pendek itu tapi lo jangan malah nutupin fakta kalau dia yang membuat kejadian yang hampir merebut nyawa anak kelas sebelah," ucap Lingga mendadak jadi bijak.

"Iya gue tau Ngga. Tapi gue gak bisa. Gue gak bisa lupain Lauren gitu aja dan gue juga gak bisa lepasin Sasya!" ucap Dana lirih. Kepalanya tertunduk merasa bersalah. Selama ini yang ia lakukan malah hanya menambah duri pada hubungannya dengan Sasya.

"Lo jangan kayak anak kecil Dan, mau semua!" Gani berucap. "Lo harus bisa milih salah satu diantara mereka. Kalau lo milih Sasya, lo lupain cinta tai anjing lo ke Lauren. Kalau lo milih Lauren, lo siap-siap sakit hati karena Abi temen lo itu siap menampung gadis patah hati itu."

Dana terdiam. Pikirannya kacau. Bukannya ia ingin mempertahankan Sasya karena harta semata, tapi karena ada sedikit perasaan tidak rela jika gadis yang sudah membuatnya mendengar ocehan Pak Joko itu pergi begitu saja. Setelah apa yang mereka lewati tentunya.

"Gue... Butuh waktu..." ucap Dana setelah mendengar petuah-petuah dari duo gila itu.

"Oke gue bisa pahami tapi lo juga jangan jauhin diri dari kita! Seolah-olah dunia milik berdua yang lain ngontrak! Bisa-bisanya lo ngajak kita ngomong cuma pas Lauren pergi, bangsat lo!" sinis Lingga.

"Setuju! Gue yang udah tunangan aja gak kayak lo! Baru PDKT bae temen dilupain ntar kalau gagal nanges lo!" imbuh Gani.

Dana terkekeh. Walaupun pedas, setidaknya ia bisa tahu duo cecunguk itu masih ada hati untuknya. "Terimakasih..." ucapnya merangkul kedua sahabatnya itu erat.

"Sekarang kita cari Abi dan keempat gadis itu..."

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang