Seminggu sudah teman-teman Dana tiba-tiba menjauhinya. Dana yang merasa tidak bersalah hanya bisa mengela nafasnya setiap kali teman-temannya, terutama Gani dan Lingga melemparkan tatapan nyalang kepadanya setiap mereka bertemu.
Seminggu ini juga, ia tidak bertemu maupun mengantar jemput Sasya. Sasya seolah menghindarinya. Saat dia sampai didepan rumah, pasti sudah ada Mega ataupun Dita yang menjemputnya terlebih dahulu. Bukannya itu harusnya tugas Dana?
"Dana! Hari ini gue bikin sesuatu buat kamu nih. Cookies coklat! Cobain deh," ucap Lauren tersenyum menampilkan deretan gigi semu putihnya yang tertawa rapi. Gadis itu setiap hari ada saja kejutan yang ia bawa untuk Dana. Entah itu barang maupun cerita yang siap menguncang humor lelaki polos itu.
"Eummm... Makasih... Enak banget, Ren," ucap Dana setelah merasakan sesuap cookies yang Lauren tawarkan. Mata Lauren berbinar, syukurlah Dana menyukai cookies buatannya.
"Oh ya Dana, kemana ketiga temenmu itu? Kenapa Lauren akhir-akhir ini jarang liat mereka ya? Apa mereka bolos lagi?" tanya Lauren tidak mendapati kehadiran ketiga sahabat Dana yang biasa bersama mereka.
Dana menggeleng. "Gue juga gak tau Ren. Palingan sama anak kelas IPS 3. Mereka sekarang lebih sering kesana daripada tinggal di kelas," jelasnya. Lauren mengangguk-angguk mendengarnya.
BRAK...
"BAJINGAN!" Tiba-tiba saja seorang siswa menggebrak mejanya dan mengumpat. Panggil saja dia Kristian.
"Lo kenapa njing?!" tanya sang ketua kelas, Jevon Narendra. Melihat ekspresi tidak biasa seorang Kristian, ketua kelas sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelah ini.
"Sasya tawuran gak ngajak-ngajak bajingan! Ini kenapa si Lingga juga ikutan sih setan! Gue harus nyusul mereka. Kalau ada guru tolong absenin gue ya," ucap Kristian berlari ke luar kelas. Menyusul bidadarinya yang sedang tawuran di gang belakang sekolah.
Jevon hanya menggeleng melihatnya.
"Sasya..." gumam Dana. Pikirannya pun melayang. Jika Lingga ikut, maka jawaban dari pertanyaan Lauren barusan adalah mereka bertiga ikut tawuran bersama Sasya dan temannya.
"Sorry Ren. Gue harus ke kamar mandi dulu. Kalau ada guru dateng tolong kabarin gue," alasan Dana yang ikut keluar kelas, menyusul Kristan yang masih belum jauh.
"Sialan lo Sasya!" ucap Dana yang harus berlari jika tidak ingin Kristian semakin jauh. Pikirannya kacau, hanya ada Sasya didalamnya.
Setibanya di gang sempit, tempat mereka tawuran. Dana nampak melongo melihat murid dari sekolah lain yang sudah terkapar seluruhnya karena melawan teman-temannya dan kelompok berandal Sasya. Padahal jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah lawan mereka.
"YEAY KITA MENANG LAGI!" sorak Vanesha senang. Mengelap peluh yang membasahi dahinya kemudian tertawa terbahak-bahak melihat musuh yang meminta ampun di kakinya.
"Hah... Hah... Syukurlah..." Dita mencoba menteralkan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat setelah bertarung habis-habisan dengan mereka. Bahkan sudut bibirnya yang membiru mengeluarkan sedikit darah karena tak sengaja tercakar oleh salah seorang pria berbadan besar yang menargetkannya.
"Semuanya aman?" tanya Sasya dengan keringat membanjiri tubuhnya. Ia juga Nampak kelelahan setelah menghadapi boss mereka yang tak kalah kuat darinya.
"HAHAHA SERU JUGA NJIR!" ucap Lingga yang puas menonjok musuh-musuh guna menyalurkan rasa emosinya karena permasalahan dirumah. Ditambah ini pertama kalinya seorang julid itu ikut dalam tawuran.
"Gila gila, kayaknya target hari ini ayang gue deh," ucap Gani melirik ke arah Dita yang masih belum bisa menetralkan nafasnya. Mungkin gadis tomboy itu masih syok karena hampir saja sebuah pisau menembus dadanya jika Gani tidak sigap menendang pisau itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomantikVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
