Dua hari kemudian, Sasya sudah masuk sekolah seperti biasa. Walaupun wajahnya agak pucat dan tenaganya tak sebesar biasanya tapi gadis itu tetap berusaha mengikuti pelajaran dengan baik, mengingat 2 minggu lagi akan ada Penilaian Akhir Semester (PAT).
Selesai jam pelajaran kedua, para teman-teman IPS 3 langsung mengerubungi Sasya karena melihat sesuatu yang tidak biasa pada gadis berandal itu. "Lo sakit, Sya?" tanya Joven sang ketua kelas. Ia meletakkan punggung tangannya pada dahi Sasya untuk mengecek suhu badannya. "Gak panas tuh."
"Sasya habis keluar dari rumah sakit," ujar Dita merotasikan kedua bola matanya.
"Bisa sakit lo? Gue kira berandal kayak lo gak bisa sakit. Cepet sembuh deh kalau gitu," ucap Tania dengan nada sarkas tapi sorot matanya terlihat nampak khawatir dengan keadaan rivalnya itu.
"Kenapa bisa masuk rumah sakit? Lo sakit apa?" tanya Hera, si rambut merah itu.
"Sasya habis diculik terus dia pingsan jadi masuk rumah sakit." Mega mengangkat tangan kanan Sasya yang terdapat bekas luka lilitan tambang, ikatan para bandit itu. Seisi kelas menatap nanar ke arah Sasya. Ternyata setelah seminggu tidak bertemu, ketua geng berandal itu terjebak dalam masalah. Mereka pikir Sasya akan aman di rumah dan bersenang-senang selama seminggu.
"Kenapa kalian gak ngabarin gue?! Kalau gitu kan kita bisa jenguk Sasya bareng-bareng!" ucap Joven dengan nada sedikit kesal. Sebagai ketua kelas bisa-bisanya dia tidak tahu kabar seburuk itu menimpa salah satu anggota kelasnya.
"Gue oke guys... Jangan ganggu gue dulu. Gue mau tidur bentar," ucap Sasya dengan nada lemah kemudian memejamkan matanya sejenak. Selagi guru pelajaran ketiga belum masuk. Joven mengangguk, ia menyuruh anak-anaknya untuk tidak mengganggu Sasya lagi.
Di sisi lain, kelas 11 IPA 1 sedang melakukan praktikum kimia di lab IPA. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota masing-masing 4. Tentu saja keempat sejoli itu menjadi satu tim. Dengan kecerdasan Lingga dan Dana dan kecepatan daya tangkap Abi, semuanya akan nampak mudah. Sedangkan Gani? Lelaki itu hanya menjadi beban tim, maksudnya penyemangat.
Kali ini Dana nampak tidak minat dengan beberapa tabung kaca di depannya, pikirannya sedang melayang ke angkasa. Ke kelas 11 IPS 3 tepatnya. Lelaki itu sedang gelisah memikirkan si gadis berandal yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Lo kenapa Na? Gue liat-liat muka lo kayak gak semangat gitu," ucap Gani. Abi dan Lingga yang semula focus pada tabung-tabung reaksi dan zat-zat kimia yang mereka campurkan, kini beralih menatap wajah Dana yang lesu sambil memegang sebuah botol reaksi kosong.
"Dia pasti kepikiran sama Sasya sih... Gimana engga, kemarin waktu Sasya tiba-tiba pulang ke rumah Dana ngamuk-ngamuk gak karuan apalagi ini Sasya udah masuk kelas mana bisa seorang Dana tega ninggalin bidadari cantik ityuuu," ucap Lingga memasang wajah menjengkelkan membuat Dana sebal.
"Pegangin yang bener!" kesal Dana mencengkram tangan Lingga kuat-kuat agar Abi bisa menuangkan cairan kimia yang ada di tangannya.
"Sakit anjing!" rintih Lingga, cengkeraman Dana sangat kuat hingga membuat ruam merah pada kulitnya.
"Utututu masalah cinta emang rumit yak. Untung gue udah mau nikah," ucap Gani menggoda Dana.
"Lo mending bantuin daripada cuma duduk duduk gak jelas njing!" marah Lingga karena bunsen spirtus yang mereka gunakan untuk memanaskan campuran zat terus bergeser. Gani hanya merotasikan bola matanya kemudian memegang bunsen spirtus itu supaya tenang di tempat.
"WOAHHH... Anjay bisa ganti warna!" Gani tertegun melihat reaksi campuran 2 zat yang mereka campur berubah warna menjadi merah sedikit ke jingga-jingga an.
"Ndeso lo!" julid Lingga.
"Makanya lo kalau diajar merhatiin dong! Ini kan udah seminggu lalu diajarin!" tambah Dana.
"Udahlah, biarin aja dia," cegah Abi sebelum terjadi pertikaian yang tidak perlu.
Gani yang semua terkagum-kagum melihat reaksi kimia yang luar biasa kini kembali memasang wajah datar dan malas karena mendengar ucapan para kawan-kawannya yang terus-terusan memarahinya.
"Baik anak-anak jika zat yang kalian campur sudah berubah warna, kalian bisa kembali ke kelas," ucap guru kimia mereka. Kelompok Dana yang sudah berhasil membuat zat berubah warna segera membereskan peralatan yang mereka gunakan, mengembalikan jas lab ke tempatnya kemudian kembali ke kelas.
Di kelas, Dana masih saja memanyunkan bibirnya dan berkali-kali menghela nafasnya hingga membuat seorang Lingga jengah kemudian memukul kepalanya. "Lo kalau masih mau sambat diluar aja! Jangan disini!" ucap Lingga.
"Gue sebel Ngga! Kenapa Sasya gak mau dibilangin anjir! Nanti kalau sakit lagi siapa yang repot?!" ucap Dana menghela nafasnya lagi.
"Ya yang repot mestinya bebeb guelah, bukan lo. Lagian lo siapanya Sasya pake repot-repot mikirin dia? Pacarnya lo? Bukan kan? Atau jangan-jangan lo bapaknya? Bukan juga kan? Kenapa lo yang repot?" ucap Gani yang baru saja kembali dari kantin membawa beberapa botol minuman bersoda untuk mereka.
"Widihhh baik amat lo. Makaseh yak," ucap Lingga senang menerima botol kaleng soda dari Gani.
"Goceng," ucap Gani kemudian tertawa terbahak-bahak. "Gak gue bercanda. Abi yang bayar bukan gue," jelasnya.
"Omongan lo bener," ucap Abi menepuk-nepuk Pundak Gani dan mengacungkan jempol ke arahnya. "Lagian kalau kilat sakit lagi emang kenapa? Kan udah ada 3 bodyguardnya disana," tambah Abi. Lingga dan Gani hanya mengangguk-angguk saja.
"Ya... Ya gak papa sih. Gue... gue Cuma khawatir aja. Lagian tante sama om juga udah ngasih kepercayaan buat gue jagain Sasya jadi gue..."
"Tapi lo yang bikin dia sakit hati kalau lo inget," potong Gani cepat sebelum Dana menyelesaikan kalimatnya.
Dana kembali terdiam. Sepertinya kekhawatirannya ini tidak ada manfaatnya. Perkataan ketiga temannya juga tidak salah. Mungkin dirinya yang terlalu khawatir. Dana pun menghela nafas lagi. "Lo semua bener. Kekhawatiran gue berlebihan."
"Nah itu lo sadar! Udah yok kita ganti baju. Kelasnya mau dipakai yang cewek," ajak Lingga sebelum para perempuan mengusir mereka karena ingin ganti baju di kelas. Padahal kan kamar mandi cewek juga ada sendiri!
Setelah berganti baju, para siswa siswi kelas 11 IPA 1 melakukan peregangan terlebih dahulu. Mereka akan berlari mengitari lapangan sebanyak 3 kali kemudian melakukan adu dribble untuk materi hari ini.
Ditengah pemanasan, mata Dana menangkap sosok Sasya yang dirangkul oleh Mega keluar dari kelasnya. Wajah Sasya nampak pucat pasi. Dan Mega terlihat kesusahan membawa tubuh mungil Sasya. Tanpa pikir panjang, Dana langsung menghampiri mereka dan menggendong Sasya di belakangnya.
"Sasya kenapa?" tanya Dana khawatir.
Mega menggeleng. "Dia cuma pusing Dan. Mau ke UKS buat minum teh sama obat biar gak tambah pusing. Gak usah khawatir," ucap Mega membuat Dana bernafas lega.
"Ya udah, ayo."
Dana tidak sadar ada sepasang mata yang menatap kedekatannya dengan Sasya tidak suka. "Akan gue balas suatu saat!" ucap gadis dengan mata tajam mengarah pada mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomantikVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
