Bab 52 : Double Date

96 2 0
                                        

Sementara para lelaki berdebat, para gadis mereka malah menikmati saat berbelanja berdua seperti sekarang. Juga mereka sudah lama tak bersua.

"Gimana kabar lo? Sehatkan?" tanya Sasya. Suasana sedikit canggung antara mereka membuat gadis berandal itu benar-benar muak. Mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu. Atau mungkin... Yang lain?

"Ya seperti yang lo liat. Gue sehat, sehat banget. Lo sendiri? Om sama tante juga sehatkan?"

"Ya. Gue, papa, mama sehat." 

"Lo..." Rosa mencengkeram ujung bajunya. 

Rosa sedang resah, Sasya tahu itu. Sepupunya itu pasti sungkan menanyakan tentang itu. Tanpa pikir panjang, gadis itu berkata, "Lo kalau mau tanya jangan setengah-tengah. Gue juga bisa kepo." yang memecah keraguan di hati sepupunya.

Rosa menarik nafasnya panjang sebelum bertanya. Pertanyaan yang sangat penting baginya. "Lo setuju jadi penerus kakek?" 

Tanpa ragu, Sasya mengangguk. "Iya, gue emang bakal jadi penerus kakek karena itu keinginan gue," ucapnya melirik sekilas sepupunya sebelum melanjutkan. "Jadi stop ngerasa bersalah karena lo gak mau jadi penerus kakek," lanjutnya.

Rosa tersenyum tipis. Rasa resah dan bersalah di hatinya perlahan memudar. Ia selalu merasa bersalah kepada adik kecilnya itu karena menolak keinginan kakek mereka untuk menjadikan Rosa sebagai penerus.

"Makasih adik kecil," ucap Rosa memeluk erat Sasya.

Sasya tersenyum. "Sama-sama orang udik."

"Makan yuk gue laper," ajak Rosa menarik paksa Sasya ke kasir. Membayar semua belanjaan mereka kemudian pergi menemui para lelaki.

📍Lily Cafe

"Haiii, apa yang kalian bicarakan?" Arjuna terkejut bukan main saat kekasihnya tiba-tiba saja memeluk dirinya dari belakang. Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdegup kencang karena serangan tiba-tiba itu. "Arjuna?"

"Oh Kak Rosa dan Sasya sudah kembali," ucap Dana. Ia meraih belanjaan yang nampak berat itu untuk ia bawa. "Apa saja yang kalian beli huh?" tanyanya terheran-heran. Meski nampak ringan, nyatanya kantung itu lumayan berat juga.

"Banyak! Orang udik ini membeli banyak sekali make up," ucap Sasya menyalahkan Rosa karena belanjaan mereka yang berat.

"Cih... Aku membeli semua itu juga karena pekerjaan," sahut Rosa tak terima.

"Pekerjaan apa?" Akhirnya setelah menetralkan detak jantungnya, Arjuna kini sudah normal kembali. Anggota tubuhnya sudah bisa digerakan dengan normal tanpa hambatan.

"Ah maaf bukannya aku merahasiakannya, tapi aku terkadang mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai perias, maafkan aku," ucap Rosa merasa bersalah menyembunyikan pekerjaannya.

"Tidak apa. Ayo kita melanjutkan kencan kita," ucap Arjuna.

Kini mereka singgah disebuah restoran yang ada dilantai 5. Bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang mereka pesan. Mulai dari hobi, pekerjaan, teman hingga keluarga mereka bicarakan. Supaya lebih akrab katanya.

Selesai makan, para lelaki mengajak gadisnya untuk bermain di Arcade. Arjuna dan Dana bahkan membuat taruhan mengumpulkan tiket game sebanyak-banyaknya. Siapa yang memenangkan tiket game paling sedikit harus menerima hukuman apapun dari pemenangnya.

Permainan pertama yang mereka sasar adalah basket. Arjuna dengan percaya dirinya menunjukkan kebolehannya di bidang olahraga ini. Namun siapa sangka adiknya tak kalah baik darinya.

Selanjutnya adalah permainan berpasangan, Pum It Up. Kemudian balap motor. Dan masih banyak lagi permainan yang mereka mainkan. 

Mereka berempat nampak bahagia meski Sasya dan Rosa terkadang hanya menonton kekasih mereka bermain, lebih tepatnya bertarung.

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang