Bab 12 : Rabu Yang Sial

280 9 0
                                        

Rabu pagi, Dana merutuki dirinya sendiri karena hari dimana ia bertugas didepan, ia malah datang terlambat bersama dengan Sasya. Lingga yang melihat partnernya hari ini malah bergabung dengan siswa siswi yang terlambat hanya bisa menggelengkan kepalanya heran.

"Sorry, Ngga. Gue kesiangan," ucap Dana dengan cengiran tak bersalah pada wajahnya. Lingga menatapnya tajam sebelum mencatat nama Dana di buku keramat.

"Bisa-bisanya lo telat! Lo semalem tidur jam berapa ha?!" amuk Lingga yang ingin menimpuk wajah Dana dengan buku keramat ditangannya. Gara-gara Dana, ia jadi berjaga sendirian.

"Hehehe jam 2 Ngga. Kemarin gue diajak Abi mabar hehehe..." Dana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memandang ke arah lain karena tatapan Lingga nampak menyeramkan baginya.

Lingga menghela nafas, menepuk-nepuk pundak Dana kemudian berlalu untuk melanjutkan mencatat nama siswa siswi yang terlambat.

**********

Siang harinya, Dana kembali ditimpa oleh kesialan. Waktu jam istirahat, tiga orang kakak kelas berbadan kekar datang ke kelas IPA 1 dan mencari Dana. 

Dana hanya memandang bingung ketiga orang yang mencarinya.

"Ngapain cari Dana?!" ucap Gani yang tahu persis siapa ketiga orang dihadapannya. Dengan tatapan remeh, ketiga kakak kelas itu mendorong tubuh Gani hingga terjatuh. "Berani-beraninya kalian!" Tangan Gani dicekal oleh seseorang dari belakang tubuhnya. Ia melirik, ternyata Dana melakukannya.

"Ada apa kakak-kakak mencari saya?" tanya Dana.

"Oh jadi lo. Victo, Lay, angkut dia. Bawa ke atap," perintah kakak kelas 12 dengan nama dada Dimas. Kedua teman lainnya segera melaksanakan perintah Dimas. Mencekal kedua tangan Dana kemudian menyeretnya paksa ke atap sekolah.

"Gawat gue harus lapor Sasya," ucap Gani melihat sosok Dana mulai menghilang dari hadapannya. Ia pun mengambil ponselnya, menelpon Sasya untuk memberitahukan kabar buruk itu.

Di atap sekolah, wajah Dana sudah dipenuhi lebam akibat pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh kakak kelasnya. Walaupun Dana sudah berusaha melawan, tenaganya tak cukup dibandingkan ketiga orang dihadapannya.

BRAKKK

Punggung Dana menabrak tembok pembatas. Kerahnya dicengkeram hingga mau tak mau ia melihat ke arah Victo yang terlihat marah. "Lo siapanya Sasya ha?! Berani-beraninya lo deketin dia! Lo gak tau kita siapa?!" marahnya.

"Gu... Gue... Gue Cuma temennya dia!" gagap Dana. Pasokan udaranya mulai menipis karena lehernya terasa dicekik kuat oleh kerah bajunya sendiri.

BRUKKK

Victor melepaskan cengkeramannya membuat tubuh Dana seketika terjatuh. "Kenapa Sasya mau deket sama orang dekil kayak lo! Gue udah berusaha deketin dia dari 2 tahun lalu tapi dia tetep gak mau sama gue, kenapa?!" ucap Dimas dengan nada tinggi.

Dana hanya memandang ketiga orang dihadapannya dengan nafas memburu. Tidak, ini bukan saat yang tepat untuk pingsan. "Lo orang paling gue benci karena berhasil deketin Sasya!"

UGH!

Perut Dana kembali merasakan panasnya sepatu Lay yang menendang serta menginjaknya. Penuh dengan dendam. "Gue kasih lo tawaran. Jauhin Sasya, kita gak bakal gangguin lo lagi. Atau..." Lay menodongkan sebuah pisau lipat ke arah leher Dana.

Dana yang melihat sebuah pisau hendak menyentuh leher mulusnya pun tercekat. "Ja... Jangan!" ucapnya dengan diiringi air mata yang perlahan mengalir dari mata cantiknya.

"Cemen!" ejek Victo yang semakin geram melihat lelaki polos yang mereka siksa menangis.

"Atau lo tetep disamping Sasya tapi nyawa lo sebagai bayaran," lanjut Lay dengan senyuman miring.

Dana nampak berpikir sejenak. Walaupun ia ingin, ia tidak bisa meninggalkan Sasya sekarang. "Apa yang harus gue lakuin. Siapapun, tolongin gue!" batin Dana memajamkan matanya, merapalkan doa-doa yang sekiranya bisa menyelamatkan dirinya.

"Cepet pilih!" geram Lay semakin menggesekan pisaunya ke leher Dana.

"DIA BAKAL TETEP DISISI GUE APAPUN YANG TERJADI!"

"Akhirnya...." lirih Dana sebelum dirinya tak sadarkan diri. Setidaknya ia tahu nyawanya sudah aman sekarang.

"Apa yang kalian lakukan?!" ucap dingin si ketua geng berandal, Varsya Kencana. Amarahnya memuncak melihat sang baby boy tak sadarkan diri ditangan fans-nya sendiri.

Dimas, Victo dan Lay membulatkan matanya tak percaya. Sang bidadari bahkan repot-repot datang kemari untuk menjemput lelaki yang mereka siksa. "Sebenarnya siapa dia?" gumam Lay menjauhkan pisaunya dari leher Dana.

"Dimas, Victo, Lay..." Sasya tersenyum miring. Ia sekarang tahu perasaan mereka kepadanya bukanlah perasaan cinta yang murni melainkan obsesi terhadap dirinya. "Kalian harus bisa kasih gue penjelasan yang masuk akal atas semua ini!" ucap Sasya tegas. Mengeluarkan dua buah kipas dari kantung roknya.

Dimas tersenyum miring. Menghadang langkah Sasya yang mendekat ke arah tawanan mereka. "Lo tau betul alasan gue ngelakuin ini semua Sya," ucapnya.

SREKKK

Sasya merobek lengan seragam Dimas hingga kulitnya mengeluarkan darah segar. "Gue gak menerima penjelasan yang gak masuk akal," ucap Sasya bersiap melawan Dimas dengan kipas ditangannya.

Dimas meringis. Goresan dari kipas Sasya benar-benar menyakitkan. "Kalau lo pengen anak itu selamat. Lo harus jadian sama gue!" ancam Dimas memberikan kode kepada Lay untuk kembali mengarahkan pisaunya ke leher Dana.

"Gue gak bakal segan lagi," ucap Sasya mulai melayangkan pukulannya ke arah Dimas.

BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! SREKKK! SREKK! BUGH! BUGH!

Hanya butuh 10 menit, Sasya berhasil menumbangkan Dimas bersama kedua anak buahnya. "Kalian harus tau. Gue bakal lindungi dia, bahkan kalau nyawa gue jadi taruhannya, gue siap," ucap Sasya membopong tubuh Dana ke ruang Kesehatan untuk mendapat perawatan.

"Sial, gue ngeremehin dia."

**********

Sepulang sekolah, Sasya merawat Dana yang masih tidak sadarkan diri di mansion miliknya. Ia tidak sendiri, keenam temannya juga ikut merawat Dana yang tak kunjung sadar.

"Kalian gak mau makan dulu?" tanya Gani yang terlihat lemas karena belum makan sejak istirahat. Perutnya bahkan sudah berbunyi beberapa kali tetapi ia sungkan jika harus makan sendirian. Ia sudah berusaha mengajak Lingga tetapi si julid itu menolak. Begitu juga dengan Abi.

"Boleh. Order aja," ucap Dita meminta ponsel Gani untuk memesan makanan. "Kalian mau apa guys?" tawar Dita kepada ketiga sahabatnya.

"Gue samain aja kayak lo," ucap Mega yang kemudian dicopy oleh Sasya dan Vanesha. Dita hanya mendengus mendengar jawaban ketiga sahabatnya. Ia pun memesan nasi padang andalan mereka.

"Bang Juna harus tau ini gak sih?" tanya Lingga yang nampak khawatir dengan kondisi Dana.

Sasya mengangguk. "Kita bakal kasih tau nanti. Gue yang bakal bilang sama Bang Juna dan Om Danis tapi nunggu Dana sadar dulu," ucap Sasya.

"Baiklah..."

Jam 5 lebih 20 sore, akhirnya Dana siuman. Ketujuh temannya bernafas lega melihat dirinya yang akhirnya tersadar.

"Syukurlah..." ucap Abi tersenyum tipis melihat Dana yang masih nampak pucat menatap ke arahnya.

"Udah enakan? Ada yang sakit gak? Pusing? Lo butuh minum?" tanya Sasya yang terlihat panik saat Dana meringis memegang dahinya.

"Gue gak papa Sya..." ucap Dana diakhiri dengan senyuman lembut.

"Maaf ya, gara-gara gue lo jadi begini..." Sasya menundukkan kepalanya. Memainkan jari-jarinya sendiri karena merasa bersalah atas kondisi Dana saat ini.

Dana tersenyum. Membelai wajah Sasya dengan lembut. "Gak papa Sya. Ini udah jadi takdir. Dan gue udah tau semua ini bakal terjadi. Maaf ya gue malah ngrepotin lo..." ucapnya dengan lembut.

Sasya mengangguk kemudian kembali tersenyum. "Gue gak bakal biarin lo kena masalah lagi..."


- to be continued


BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang