Bab 34 : Fakta Baru

154 5 3
                                        

Kedua ketua geng itu sudah melesat jauh melewati area balap. Rute yang mereka ambil adalah rute panjang yang biasa Abi gunakan saat melawan Mega, si kucing putih. Saat ini Sasya melaju jauh didepan, meninggalkan Abi yang ada dibelakangnya beberapa meter. Perempuan itu tidak akan membiarkan sang rival menang kali ini.

Sasya berkelak kelok dengan lihainya menghindari kendaraan yang masih berlalu lalang di sekitaran bundaran Ki Hajar Dewantara. Abi juga tak mau kalah, lelaki itu berusaha menyeimbangi kecepatan Sasya.

Setelah 7 menit, kepulan asap tebal kembali terlihat memasuki area balap. Para penonton kembali bersorak. Abi dan Sasya, keduanya bersaing sengit mendekati garis finish. Sasya selalu berusaha menghalangi Abi agar tidak dapat mendahuluinya.

"YEAYYYYY!" teriakan Sasya bisa terdengar setelah kepulan asap tebal tadi perlahan menghilang. Hanya selisih 2 meter saja dan Sasya keluar sebagai pemenang. Perempuan itu melompat ke arah Abi kemudian memeluknya. Untung saja Abi selalu siap kalau tidak keduanya akan terhuyung ke belakang.

"Mr. Black... Gue mau motor lo sebagai hadiah..." bisik Sasya tepat di telinga Abi. Abi hanya bisa menghela nafasnya, ternyata gadisnya mengincar motornya dari awal. "Baiklah. Apapun untukmu..." ucap Abi merogoh kunci motor dari kantongnya kemudian memberikannya kepada gadis dalam gendongannya itu.

Disisi lain, Dana terus memandang seorang gadis yang tak asing baginya. Bergelayut manja pada lengan lelaki bertato yang ada dihadapannya. "Gak mungkin dia Lauren kan?" pikirnya. "Lo liatin apa?" tanya Mega yang kini duduk disebelahnya.

"Eh, engga kok..." elak Dana. "Btw Sasya menang, lo gak mau kasih selamat?" tanya Mega lagi. Dana menggeleng. "Gue takut dia jadi sakit hati lagi pas liat gue. Biarin Abi aja yang mewakili gue," jawabnya.

"Hah... Gue kasian sama Abi..." Dana menoleh ke arah Mega. Menaikkan satu alisnya seakan bertanya apa yang terjadi. "Dia rugi bandar lawan Sasya. Motor kesayangan dia sekarang jadi milik Sasya..." lanjut Mega menghela nafasnya. Padahal dirinya juga menginginkan motor hitam itu.

"WOI MEGA! TANGKEP!" teriak Sasya melemparkan sesuatu ke arah Mega. Mega yang panik langsung menangkap benda yang dilempar oleh ketuanya. Mega mengernyit saat mengetahui bahwa benda yang Sasya lempar ternyata adalah sebuah kunci motor. "Buat lo, gue tau lo ngincer motornya Abi kan?"

Senyuman Mega langsung merekah. Ia menghamburkan dirinya ke pelukan Sasya yang berada tepat di hadapannya. "AAA MAKASIHHH... LO BAIK BANGET SIHHHH..." ucap Mega memeluk erat sahabat tomboynya itu.

"Lo, kenapa?" tanya Abi melihat Dana yang tersenyum dengan sorot mata sulit diartikan. Ada secercah kesedihan bercampur dengan kebahagiaan didalam sana.

"Gue gak papa..." ucap Dana. "Gue bahagia kalau dia juga bahagia..." batinnya.

"Lo gak pulang? Gak dicari Bang Juna?" tanya Sasya menyadari kehadiran Dana di area haram ini. Dan lagi ini sudah sangat larut, bukannya bayi besar itu harus tidur sekarang? "Engga, tadi gue udah ijin. Santai aja..." jawab Dana dengan senyuman.

"Syukur deh. Gue cuma takut abang lo ngamuk lagi..." Sasya menolehkan pandangannya kepada sepasang kekasih yang nampak akrab dihadapan mereka. "Mike!" panggilnya saat mengenali punggung teman seperjuangannya.

Kekasih pria yang bernama Mike itu menoleh ke arah Sasya. Wanita yang bersama dengan Mike juga ikut menoleh membuat kelima orang, termasuk Sasya terkejut. "Lo... Lauren?!" ucap Vanesha menganga tak percaya.

"Eh lo apa kabar Sya," sapa Mike menghampiri Sasya kemudian menjabat tangan dan memeluknya singkat. "Gue baik bre, lo lama gak keliatan kemana?" tanya Sasya menepuk-nepuk punggung Mike.

"Ah lo aja yang gak pernah keliatan di area. Sekali kelihatan lo bisa ngalahin bos gue." Mike terkekeh. Kedatangannya ke arena balap kali ini tidak sia-sia. Melihat kekalahan bos gengnya, Black Devil memang suatu hiburan tersendiri baginya.

"Sialan lo!" umpat Abi merotasikan bola matanya, malas. "Btw lo... Sama siapa?" tanya Abi setelahnya. Basa basi aja, aslinya dia udah tau kalau tangan kanannya ini sedang bersama calon kekasih Dana.

"Oh ini, kenalin namanya Sia, Laurensia Tang. Tunangan gue, belum lama sih baru 2 mingguan, ya kan beb?" Lauren mengangguk kaku. Tamat sudah riwayatnya menjadi gadis imut dan polos di sekolah.

"Congrats Mike! Gila ternyata playboy sejati kayak lo udah tunangan... Kata gue lo keren..." Sasya terkekeh. Perutnya terasa geli saat melihat wajah masam saingan cintanya sekarang.

"Ngece lo! Gue sekarang udah gak playboy lagi anjir! Cinta gue udah habis buat Sia yang cantik jelita ini..." goda Mike mencolek dagu Lauren. Sementara Lauren hanya tersenyum kaku mendengar gombalan manja tunangannya.

"Tega lo lupain gue gitu aja..." ucap Mega dengan tangan bersedekap di depan dada. Bisa dibilang si kucing putih ini salah satu korban kegabutan Mike. Bodohnya, Mega selalu mempercayai bahwa Mike benar-benar mencintainya. Sad girl...

"Ututututu mantan tercintakuuu... Tapi waktu deketin lo, gue bener-bener sayang banget sama lo. Sampek kalau lo gak keliatan di area balap, gue gak bisa tanding karena terus kepikiran lo," gombal Mike membuat Mega menatapnya jijik. "Najis!" ucap Mega merinding.

"Preman Mawar mana? Tumben gak keliatan njir. Padahal gue mau pamitan sebelum gue bener-bener pergi sama kalian semua..." Teman-temannya langsung memandang Mike serius setelah dia mengucapkan kalimat ambigu itu. "Lo mau pergi kemana emang?" tanya Abi.

"Gue mau ke Canada bre. Kata bokap gue harus nerusin perusahaan pakaian beliau di sana dulu sebelum gue nikah sama Sia, 1 bulan lagi. Tenang, gue bakal undang kalian semua ke pesta nikahan gue kok," jawab Mike dengan senyuman lebar.

"A... Ayo pulang," ucap Lauren dengan suara lirih. Mike mengangguk. "Gue ijin balik duluan ya bre sis sekalian. Semoga bisa ketemu lagi next time... Jangan lupain gueee!" teriak Mike membawa Lauren kembali ke rumahnya.

Setelah kepergian Mike dan Lauren, keempat sahabat itu menatap Dana yang memasang raut wajah muram dan sedih. "Lo... Gak papa kan?" tanya Sasya khawatir. Padahal dia sendiri yang berniat membuka kedok wanita ular itu di hadapan Dana tetapi mengapa kini dirinya merasa bersalah setelah melihat raut wajah sedih bayi besarnya.

"Gue gak papa..." ucap Dana menundukkan kepalanya. Hatinya kini berkecamuk. Sedih, marah, kecewa, merasa dikhianati, semua perasaan negatif tercampur dalam hatinya.

"Nesha lo bawa mobil?" tanya Sasya. Vanesha mengangguk, memberikan kunci mobilnya kepada Sasya. "Lo pulang bawa motor gue, Mega lo anterin Abi dulu ke kontrakannya. Gue pulang sama Dana," perintah Sasya, menarik lelaki polos yang masih dilanda kegalauan itu pergi dari arena balap.

Di dalam mobil, suasana benar-benar hening. Dana masih kalut dalam pikirannya sendiri. Sasya... Gadis itu memilih diam. Biarlah lelaki polos itu berperang terlebih dahulu dengan pikirannya sebelum benar-benar sampai di rumah.

"Gue gak mau pulang." Sepatah kata akhirnya keluar dari mulut Dana setelah mereka berkendara kurang lebih 10 menit. "Terus lo mau kemana?" tanya Sasya. Padahal rumah Dana kurang 300 meter lagi dari tempat mereka berada.

"Kemanapun selain ke rumah," ucap Dana menggigit bibir bawahnya. Sasya menghembuskan nafasnya lelah. "Fine, lo nginep di mansion gue aja." Memang bayi besar yang merepotkan, pikir Sasya.

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang