Setelah memastikan Sasya baik-baik saja, Dana kembali ke dalam barisan untuk mendapatkan nilai dribble hari ini. Pak Anton terkesima melihat dribble lelaki cupu itu ternyata jauh dari kata pemula. Bahkan dribble Dana hampir setara dengan Gani yang merupakan Ketua Tim Basket Putra.
"Next..."
Dana sekarang bisa duduk usai mendapatkan nilai yang hampir sempurna untuk aksinya hari ini. "Dana..." panggil seorang perempuan yang berhasil mengambil hatinya, Lauren. "Eh, Lauren. Kenapa?" tanya Dana dengan senyuman.
"Dribble-mu hebat banget sih! Boleh ajarin Lauren gak?" tanya Lauren dengan mata berbinar penuh harap. Dana terkekeh lalu mengusak pucuk kepala gadis imut dihadapannya. "Boleh banget dong, Ren. Dribble-mu juga udah bagus kok," tutur Dana.
"Woah... Dana baik banget sih!" ucap gadis imut itu memeluk tangan kanan Dana membuat lelaki polos itu serasa melayang ke surga.
"Ehm! Ma... Makasih..." Dana bersemu-semu. Wajahnya bak kepiting yang baru saja diangkat dari panci rebusan. Merah padam.
Dan disinilah duo julid mulai beraksi, tanpa perintah kanjeng ratu Sasya pun mereka akan tetap menjulidi Dana hingga lelaki polos itu polos dan memilih menjauhi Lauren. "Eh Gani! Dribblemu keren banget lochhh..." ucap Lingga dengan nada centil membuat orang jijik saat mendengarnya.
"Oh ya? Emmm makasihhh... Ini gak sebagus yang sebelah sichhh... Gue jadi takut dechh... Takyut nanti bisa-bisa gue didepak dari ketua basket dan diganti sama diahhh..." balas Gani tak kalah imut.
"Ihhh gak bakalan bysaa... Tetep Gani yang nomor syatuuu..." Lingga memukul-mukul kecil tangan kiri Gani dengan dua tangannya.
Bayangin aja betapa muaknya Dana melihat kelakuan duo julid dihadapannya. Bahkan Abi yang tadinya juga diam anteng disitu ikutan memalingkan mukanya dan duduk sedikit bergeser dari mereka.
"Kalian kenapa dah? Gak ada kerjaan?" tanya Dana merotasikan kedua matanya malas.
"Ichhh Dana kok jahat cihhhh... Kita mau tanding sama kamyu aja boleh gakk? Kamyu sama Abi, lawan kita berdwuaaa..." Gani mengedip-ngedipkan matanya centil. Dana yang semakin ingin muntah hanya bisa menarik kedua sahabatnya itu untuk menjauh dari Lauren.
"Yes, misi kita berhasil," bisik Lingga kepada Gani dalam seretan Dana. Bahkan mereka berdua sempat melakukan tos dan menjulurkan lidahnya kepada Lauren yang terlihat kesal karena ditinggal oleh Dana.
Dana menarik Lingga dan Gani sampai ke kantin sekolah. Diikuti oleh Abi yang menyusul mereka dari belakang. "Kalian kenapa sih?! Selalu aja gangguin gue sama Lauren ha?! Lo berdua punya masalah sama gue?! Lo berdua punya masalah sama Lauren?!" marah Dana.
"Gak sih, tapi kita berdua gak suka liat kalian berduaan!" ucap Gani tak kalah galak dari Dana. "BETUL! Setidaknya kalau lo mau Lauren, lo lepasin si Sasya!" tambah Lingga dengan tatapan sinis. "Nah bener tuh bener! Setidaknya biarin Abi yang ngerawat Sasya kalau lo gak mau sama dia!" sahut Gani lagi.
Abi yang merasa terbawa dalam kepermasalahan langsung menjitak kepala kedua lelaki bermulut tajam itu. "Jangan bawa-bawa gue dalam masalah kalian! Gue cuma mau nonton..." ucap lelaki jangkung itu menikmati sekotak jus apel.
"Sialan lo tinggi!" umpat Gani melotot ke arah lelaki jangkung itu. Abi hanya merotasikan matanya, tak berniat membalas hinaan Gani.
"Gue juga siap nampung perempuan sakit hati. Asalkan itu Sasya gue mah siap," ucap Lingga membayangkan betapa nikmatnya mempunya pacar segagah Sasya. Malah dirinya bisa-bisa bertukar peran menjadi wanitanya Sasya.
"Anjing lo berdua!" umpat Dana mengacak rambutnya kesal. Padahal ia sudah menampik jauh-jauh fakta bahwa dirinya brengsek, tapi duo julid ini malah terus menerus mengingatkannya. Hati dan pikirannya menjadi kacau lagi karena teringat tentang air mata kesedihan yang Sasya alami karena mengakhiri perjanjian mereka.
"Lo boleh lupain Sasya. Gue yang akan gantiin lo buat selalu ada disisinya," tukas Abi kemudian pergi dari hadapan mereka bertiga. Bahkan Lingga dan Gani nampak melongo mendengar ungkapan tiba-tiba seorang Abisatya.
"Noh, lo liat sendiri kan? Gue udah bilang apa, Abisatya siap menampung Sasya dalam pelukannya. Walaupun akhirnya dia sendiri yang bakal sakit hati karena Sasya maunya sama lelaki brengsek kayak lo," tutur Gani menepuk-nepuk pundak Dana kemudian pergi menyusul Abi.
Lingga yang tidak tega meninggalkan Dana yang terlihat frustasi memilih untuk menetap dan berjongkok untuk dapat meraih wajah sahabatnya itu. "Lo denger apa kata mereka kan? Itu bukan dari Sasya, tapi kita. Kita peduli sama lo! Dan kita juga gak bakal biarin Sasya sakit hati karena lo! Kita gak bisa bikin lo jadi orang brengsek karena mau dua-duanya. Lo harus bisa nentuin... Lauren... Atau Sasya... Pilihannya ada di lo...." jelas Lingga di akhiri dengan senyuman yang menenggelamkan matanya.
"Satu lagi..." Lingga menggenggam tangan Dana dengan kedua tangannya. "Berjanjilah lo bakal selalu gunain akal sehat lo walaupun lo suka sama orang. Entah itu Sasya ataupun Lauren yang bakal lo pilih nantinya, lo jangan terlena yang namanya cinta. Karena gue tau, dua gadis itu gak sebaik aslinya. Dan yang keliatan jahat, engga sejahat itu..."
Dana mengangguk. "Gue janji..."
Lingga kembali mengulas senyum. Setidaknya ia bisa mencegah sesuatu buruk yang akan terjadi nantinya. Entah apa tapi firasat Lingga mengatakan sebentar lagi dirinya akan terkena masalah besar.
Dana kembali ke kelas untuk menemui Lauren dan meminta maaf karena telah meninggalkannya sendirian. "Sorry, gue tadi ninggalin lo sendirian disana," ucap Dana menundukkan kepalanya.
"Ah gak papa kok... Udah selesai masalahnya sama Lingga sama Gani?" tanya Lauren dengan raut wajah penasaran.
Dana menggeleng. "Masalah diantara gue, Lingga, Gani dan Abi bakal selalu ada. Karena kita masih hidup dan masih mengenal satu sama lain. Kata pepatah kalau kita ada masalah tandanya kita masih hidup karena masalah yang membuat kita bisa hidup lagi dan lagi," tuturnya menatap langit dari jendela yang terlihat cerah hari ini.
Lauren terkekeh lalu kembali memeluk satu tangan Dana erat. "Dana benar-benar dewasa ya... Walaupun Lauren baru kenal sama Dana, tapi Lauren yakin Dana orang baik," tutur perempuan dengan rambut lurus itu menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi.
Dana ikut terkekeh, ia mengusak pucuk rambut lawan bicaranya, sayang. "Gue sayang sama lo Ren..." ucap Dana dengan senyuman.
Jantung Lauren serasa berhenti sejenak. Apa yang barusan dikatakan oleh lelaki polos itu? Apakah itu sejenis pernyataan cinta padanya? "L... Lo... Lo gak ma... maksud nembak gue kan?" tanya Lauren kebingungan.
"Lo gak perlu jawab sekarang kok. Gue Cuma pengen lo tau bahwa gue bener-bener sayang sama lo. Walaupun gue juga sayang sama Sasya, rasa sayang ke lo beda. Gue sayang Sasya kayak adik gue sendiri. Tapi kalau sama lo..." Dana menghentikan kalimatnya. Menunduk sedikit untuk menyamakan wajahnya dengan telinga gadis manis dihadapannya. "Gue cinta sama lo," bisiknya.
Wajah Lauren langsung merah padam karena mendengar ungkapan cinta mendadak dari lelaki polos itu. "Lo... Lo... Lo bisa janji lo gak bakal berubah walaupun gue tolak?" tanya Lauren yang belum bisa memastikan perasaannya. Tapi ia juga tidak rela jika Dana akan menjauh karena ternyata dirinya tidak mencintai Dana.
"I promise, sweetie..."
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomanceVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
