Bab 56 : Fiance

294 8 0
                                        

Dua bulan berlalu dan hampir waktunya untuk Sasya pergi tapi gadis itu....

Dia masih belum memberitahukan kabar kepergiannya kepada kekasihnya.

"Gue harus gimana nih haduhh..." batin Sasya menghela nafas berkali-kali. Ia tidak bisa mengatakan hal semenyedihkan ini kepada lelaki polosnya. Dana pasti akan sedih dan tidak mengizinkannya untuk pergi dari sisinya.

Sasya kalut dalam pikirannya. Sampai-sampai ia tidak mendengar seseorang baru saja masuk ke apartemennya dengan sekantung plastik besar.

"Anak mama, mama pulang!!!" Stefani, ibunda Sasya terheran saat tidak ada jawaban dari dalam sana. Ia pun tanpa pikir panjang melangkahkan kakinya ke kamar putrinya.

"ARRGGHHHH..." Stefani terheran melihat putrinya yang terlihat frustasi mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Ngapain kamu?" tanya Stefani bersandar di ambang pintu.

Sasya menoleh. "Eh mama, tumben mama pulang," ucapnya dengan nada canggung.

"Lah kamu lupa? Besok kakak sepupu kamu tunangan tahu!" Stefani bersungut-sungut menunjukkan beberapa barang yang sudah ia beli sebagai hadiah keponakannya itu.

"Sepupu yang mana?" tanya Sasya bingung. Kalender pada ponselnya tidak memberikan notifikasi adanya sebuah acara besok.

Stefani menghela nafasnya, "Kamu itu pikun atau apa? Besok Kak Rosa tersayangmu itu akan bertunangan dengan kakak kandung pacar kamu!"

Sasya membelalakan matanya. Ia benar-benar lupa orang udik itu akan bertunangan besok.

Tapi tunggu...

"Bentar bentar... Kalau Kak Juna sama Kak Rosa tunangan..." Sasya berpikir keras. Ia seperti melupakan sesuatu yang penting, tapi apa?

TINNNN...

Belum selesai berpikir, Sasya dikagetkan bunyi suara klakson mobil yang begitu keras dari halaman rumahnya.

"Ah mereka sudah datang. Sebaiknya kamu bersiap juga," ucap Stefani membuat Sasya bingung.

"Untuk apa?" Stefani menepuk jidatnya sendiri. Apa putrinya benar-benar lupa akan hari ini?

"Aish sudahlah bersiap dikamarmu. Pakai ini. Dalam 10 menit kamu harus segera turun lagi ke bawah. Mengerti?"

Sasya mengangguk ragu. Meski begitu ia tetap mendengarkan perkataan ibunya dan bergegas mengganti pakaian dengan gaun ditangannya.

"Selamat datang tuan-tuan. Mari mari, silahkan masuk..." Stefani menyambut tamu-tamu mereka dengan senyuman.

"Istriku, buatkan minuman super spesial untuk mereka," ucap William, suami Stefani, ayah Sasya dengan senyuman lebar.

"Wah repot-repot loh..." Danis, ayah Dana dan Arjuna tertawa. Ia bersama dengan kedua putranya hari ini.

"Dimana putrimu?" tanya Danis tak mendapati tuan putri keluarga William disekitar mereka.

"Dia sedang bersiap Dan. Ayo diminum dulu," ucap Stefani datang membawa sebuah nampan berisi 6 gelas minuman.

Mereka pun mengobrol santai sembari menunggu kedatangan sanh tuan putri.

Setelah 10 menit, akhirnya Sasya turun kebawah juga. Gaun bernuansa hitam serta rambut yang disanggul membuat gadis itu nampak cantik, elegan, berkelas. Sempurna!

Sasya terkejut begitu melihat rombongan keluarga kekasihnya datang dengan berbagai hadiah disekelilingnya. Apa yang sebenarnya terjadi?, pikirnya.

"Ah ini dia calon pengantin sudah datang," celetuk Arjuna menyenggol-nyenggol adiknya yang gugup sekarang.

Sasya hanya tersenyum menanggapi candaan calon kakak iparnya itu.

"Baiklah tanpa berlama-lama lagi. William, kedatangan saya kemari adalah untuk meminta putri kesayanganmu itu agar bisa menjadi istri dari anak keduaku, Dana," ucap Danis dengan tatapan serius.

Sasya membelalakan matanya mendengar ucapan Danis. "Tu... Tunggu... A... Apa ini artinya..."

Stefani terkikik, mengelus pucuk kepala putrinya. "Benar anakku, Dana melamarmu untuk menjadi istrinya," ucapnya.

Bak tersambar petir disiang hari. Sasya benar-benar lupa janji yang ia buat dengan Dana. Mereka berjanji akan bertunangan juga saat Arjuna dan Rosa bertunangan.

"Baiklah... Sasya bersedia," ucap Sasya setelah menarik nafas dalam-dalam.

Dana tersenyum, ia meraih tangan Sasya, memasangkan sebuah cincin emas pada jari manis gadisnya.

Sasya pun melakukan hal yang sama dengan Dana.

"Baiklah dengan ini, kalian resmi jadi tunangan sekarang. Aaaa... Mama enggak sabar menanti cucu mama," ucap Stefani larut dalam khayalannya sendiri.

William dan Danis hanya menggeleng. Sudah hafal dengan tingkah absurd Stefani. "Akhirnya ya bro," ucap William memeluk calon besannya itu.

"Hahaha hutangku padamu sudah lunas kan? Hahaha," ucap Danis tertawa bersama sahabatnya.

Arjuna pun ikut terharu melihat adik kecilnya sudah besar sekarang.

Ditengah kebahagian dua keluarga kecil itu, Sasya menarik Dana untuk pergi ke halaman belakang. "Ada sesuatu yang harus aku bicarakan," ujar Sasya.

"Ada apa?" tanya Dana begitu mereka sampai di halaman belakang.

Sasya menggegam tangan Dana namun matanya tak berani menatap wajah tunangannya itu.

"Hei, kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Dana mengelus punggung tangan Sasya.

Sasya menghela nafas. "Dana, apa kau benar-benar ingin menikah denganku?" tanyanya membuat dahi Dana berkerut.

"Apa aku perlu menjawabanya lagi?"

"Katakan saja!"

Dana tersenyum tipis. Mencium tangan Sasya. "Meski dunia ini punya ribuan wanita, wanita yang ingin aku nikahi hanya kamu, Varsya Kencana," katanya.

"Mengapa harus aku?" tanya Sasya dengan mata berkaca-kaca. Jika seperti ini, ia jadi tidak tega meninggalkan Dana sendirian.

"Sasya, kamu adalah cahaya bagiku. Kamu orang yang membawaku mengenal dunia, kamu satu-satunya wanita yang aku cintai..."

Air mata Sasya mengalir deras. Ia tidak sanggup, bagaimana bisa ia melukai lelaki sebaik Dana?

Dana membawa Sasya ke dalam pelukannya, mengelus pucuk kepala gadisnya. "Dengar Sya, meski aku tidak tahu apa yang terjadi, aku akan selalu disini untukmu..."

"Sungguh? Jika aku pergi sekalipun?" tanya Sasya.

Dana mengangguk. "Aku akan menunggumu meski butuh ribuan tahun untuk bertemu kembali."

Beban di hati Sasya menghilang. Sekarang ia tidak ragu lagi untuk melangkah bersama dengan lelaki dihadapannya.

"Terimakasih Dana... Tolong tunggu aku..." ucap Sasya memeluk erat tunangannya.

"Pasti Sya. Aku pasti akan menunggumu..."

Bibir keduanya bertemu. Menyalurkan rasa yang mereka pendam selama ini. Sasya membuka mulutnya, memberikan akses bagi lidah Dana untuk menjelajah lebih dalam.

Suara kecipak dan lenguhan-lenguhan halus mulai terdengar dari aktivitas mereka.

Merasa nafasnya hampir habis, Sasya menepuk-nepuk pundak lebar itu, mengisyaratkan kepada Dana untuk melepaskannya.

"Hah... Hah... Hah..." Nafas Sasya terengah-engah. Sebuah benang saliva panjang tercipta diantara mereka.

"I love you, Dana..."

"Love you more, Varsya Ragnala..."

-End-

Terimakasih kepada semua yang sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan berikan jejak kalian dengan vote atu komen pada novel ini ya.

Sampai jumpa pada novel selanjutnya 🤗🤗🤗

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang