BAB 35 : Dana Sakit

202 5 0
                                        

"WOAAAA... ANJING!" Pagi harinya, Sasya dikejutkan oleh Dana yang tiba-tiba saja berdiri didepan pintu kamarnya dalam keadaan kacau dan pucat. "LO KENAPA PAGI-PAGI NGAGETIN GUE ANJING!" kesalnya. Dana hanya diam tak bergeming.

Sasya pun meraih dahi Dana untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Lo sakit jancok! Kenapa gak istirahat aja sih!" tegurnya. Ia segera menarik lelaki polos itu untuk segera beristirahat di kamar tamu.

"Lo panas banget anjir! Jangan bilang lo semalem gak tidur!" Dana hanya mengangguk lemah membuat Sasya semakin geram.

"Lo itu udah tau gak bisa kena angin malem kemarin nekat pergi ke arena balap! Sekarang lo sakit yang repot siapa ha?! Gue! Dah lo sekarang makan buburnya dulu terus minum obatnya. Gue mau mandi dulu awas aja lo kalau makannya gak habis!" omel Sasya sembari membuatkan bubur instan dan menyiapkan obat untuk Dana makan.

"Nih, lo harus cepet sembuh. Gue nanti ijinin ke ketua kelas lo, kembaran Joven, Jevon kan? Ntar gue suruh Pak Bagyo kesini buat anter lo ke rumah sakit buat periksa. Obatnya dari rumah sakit nanti jangan lupa diminum! Gak usah nungguin gue pulang! Gue juga bakal kabarin Bang Juna sama Om Danis kalau lo nginep di rumah gue tapi gue gak bakal bilang lo sakit. Gue takut mereka khawatir," omel Sasya lagi. Udah mirip emak-emak yang mau berangkat kerja tapi anaknya mendadak sakit.

Dana lagi-lagi hanya bisa mengangguk lemah mendengar semua ocehan Sasya. Toh dia lagi sakit, Sasya juga gak mungkin ngelakuin kekerasan sama dia. Yang Sasya bisa cuma ngomel buat menyampaikan amarah dia sama Dana.

Setelah bersiap dan memastikan Dana menghabiskan makanan dan meminum obatnya, Sasya pun segera berangkat ke sekolah. Dengan mobil Vanesha tentunya. Dirinya juga tak lupa untuk menelpon Pak Bagyo, sopir andalan papanya untuk mengantar Dana nanti.

Sesampainya di sekolah, hal pertama yang Sasya datangi adalah kelas 11 IPA 1. "Ketua kelasnya mana?!" tanya Sasya dengan nada sedikit meninggi membuat seisi kelas takut akan kehadirannya.

"Salah alamat neng?" ujar Joven yang baru saja masuk bersama kembarannya, Jevon.

"Panjang umur... Lo Jevon kan? Ketua kelas disini?" tanya Sasya. Jevon mengangguk takut. "Lo ngapain nyariin adik gue, setan?!" tanya Joven melihat adik kembarannya takut dengan kehadiran dedemit yang ada dihadapan mereka.

"Gue mau lapor hari ini Dana ijin gak bisa berangkat. Dia sakit. Dah gitu doang sehh..." ucap Sasya. Jevon mengangguk paham. "Lo bisu apa gimana njeng? Gue udah nyerocos dari tadi lo cuma ngangguk ngangguk doang bajingan!" kesalnya. Jevon ini berbeda jauh dengan kembarannya.

"Jangan nakutin adek gue ya setan. Ayo balek ke kelas!" Joven menarik paksa Sasya untuk ke kelas bersamanya. Ia harus menjauhkan dedemit satu ini dari adiknya kembarannya yang polos nan pendiam.

Sesampainya di kelas, Sasya melemparkan kunci mobil Vanesha pada pemiliknya. "Gimana kencan lo sama Abi tadi malem? Seru?" goda Sasya menaik turunkan alisnya. Bukannya baper, Mega justru memasang wajah kesal.

"Abisatya bener-bener bajingan! Masak dia tega buat gue muter-muter kampung anjeng! Mana dia gak mau didepan, maunya gue yang goncengin! Gue sih oke oke aja tapi ahh... Gue kapok pokoknya kapok nganterin dia pulang!" oceh Mega penuh kekesalan.

Sasya hanya terkekeh. Itu memang salah satu triknya agar Mega menyerah pada perasaannya sendiri. Dan menyadari seberapa brengsek pria yang sahabatnya itu dambakan. "Lain kali lo harus menang dari dia lagi Sya! Lo minta aja semua harta dia sekalian! Biar dia gak sombong lagi!" lanjut Mega menceritakan apa yang Abi katakan padanya.

Setelah selesai mendengar cerita perjalanan malam Mega dan Abisatya, Sasya baru menyadari salah satu anjing penjaganya tidak ada disana. "Dita kemana?" tanyanya. "Jangan bilang dia telat? Atau jangan-jangan dia bolos lagi?"

Mega menggeleng. "Dita kemarin pingsan karena lo tiba-tiba manjat pager. Terus hari ini dia ijin karena badannya masih lemas. Gani juga ikutan ijin katanya mau ngerawat Dita sampek bener-bener pulih," jawabnya.

"Nanti kita jengukin si Dita bareng-bareng yuk," ajak Vanesha. "Boleh aja, tapi gue gak bisa lama karena bayi besar gue sakit dirumah," jawab Sasya. Vanesha mengangguk paham. Tadi pagi buta Sasya sudah mengirim sebuah pesan ke grup tentang kabar Dana yang jatuh sakit.

Bel tak lama terdengar. Pelajaran pun dimulai seperti biasanya.

Tepat pukul 10.00, Dana mulai terbangun dari tidurnya. Tubuhnya sudah terasa lebih baik daripada sebelumnya. Bahkan demamnya kini sudah turun menjadi 38,8 derajat. Lelaki itu menapakkan kakinya ke dapur untuk mencari segelas air.

"Tuan, mobilnya sudah siap," ucap Bagyo begitu melihat majikannya untuk hari ini sudah bangun dari tidur lelapnya.

Dana yang masih setengah sadar hanya mengangguk tanpa menyadari siapa orang yang baru saja mengajaknya berbicara. Setelah meneguk segelas air, Dana baru sadar bahwa Pak Bagyo sudah menunggunya daritadi.

"Eh maaf pak, saya siap-siap dulu. 5 menit, 5 menit lagi pak! Maaf..." ucap Dana berlari ke kamar tamu untuk mengambil entah jaket siapa yang ada di lemari dan setelan kaos dan celana panjang untuk mengganti piyama tidurnya.

Dana pun bergegas menuju ke halaman setelah mengunci semua pintu mansion. Pak Bagyo pun segera membawa tuannya ke rumah sakit andalan keluarga Ernest.

Setelah melalui pemeriksaan, Dana hanya didiagnosa terkena flu ringan dan hanya perlu minum obat serta antibiotik yang diberikan oleh dokter. Tak lupa lelaki itu memberikan kabar kepada pemilik mansion tentang hasil pemeriksaannya.

Mode Chat On!

Varsya IPS 3

Gue cuma demam sama flu ringan karena kena udara malem kemarin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gue cuma demam sama flu ringan karena kena udara malem kemarin

Syukur deh kalau gitu

Cepet pulang lo!

Jangan lupa makan terus minum obatnya!

Jangan nunggu gue ngamuk baru makan lo!

Gue nanti pulang telat, mau jengukin Dita dulu dirumahnya

Lo juga harus cepet sehat!

Bye gue mau makan dulu

[sent a picture]

Siap komandan!

Mode Chat Off!

Dana terkekeh melihat foto yang dikirimkan oleh Sasya. Foto dimana wajah Lingga terlihat kesal karena si julid itu hanya bersama Abi yang pendiam hari ini. Ada juga Vanesha yang terlihat sumringah sambil memamerkan soto pesanannya. Mega dan Sasya yang terlihat sangat manis dengan pose love sign andalan mereka.

"Syukur deh mereka semua baik-baik aja..." ucap Dana meletakkan ponselnya untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan menuju mansion Sasya lumayan indah.

TING!

[WhatsApp] Lauren Imut : Lo sakit apa?

[Instgram] @sia.tang menandai anda dalam sebuah cerita


- to be continued


*ps : makasih cuy yang udah mau komen, like, lo bikin gue semangat lageee 🫵🏻🥰🫶🏻

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang