Keesokan harinya, Dana dihebohkan dengan berita ketua OSIS-nya mendapatkan hukuman skorsing selama 3 hari karena perkelahian dengan ketua geng berandal kemarin. Ia juga mendengar beberapa desas desus bahwa Sasya dikeluarkan dari sekolah, bolos karena malu dan sebagainya. Namun Dana memilih untuk tidak mempercayai semua kabar burung itu karena dia yakin, Sasya tidak akan keluar semudah itu.
Saat berjaga di depan gerbang seperti biasanya, matanya memincing melihat kesayangan Lingga yang kali ini terlambat, bukan lagi Sasya. Vanesha, gadis itu nampak pucat dan dirinya terlihat sangat berantakan, bukan seperti Vanesha yang mereka kenal.
"Lo gak papa?" tanya Dana saat berada disamping Vanesha untuk mencatat namanya ke dalam buku keramat.
"Habis ini temuin gue ke atap, Dan. Ada sesuatu yang penting yang harus lo tau!" bisik Vanesha. Dana pun mengangguk. Ia kembali berputar untuk mencatat nama-nama siswa yang telat.
Setelah selesai, Dana memasrahkan buku keramat itu kepada rekannya hari ini, Revanya untuk menyerahkan laporan tersebut kepada Pak Joko. "Maaf gue ada urusan mendadak. Minta tolong kasihin Pak Joko ya. Makasih..." ucapnya kemudian pergi ke atap sesuai perjanjiannya dengan Vanesha.
Di atap, geng berandal Sasya sudah berkumpul. Anehnya keempat sahabatnya juga ikut-ikutan disana. Apa ada masalah serius yang menimpa Sasya, pikir Dana.
"Kenapa?" tanya Dana membuat keenam manusia itu menoleh padanya dengan tatapan frustasi. "Ka... Kalian kenapa? Ada masalah apa?" tanyanya lagi.
"Lo masih kontakan sama Sasya?" tanya Vanesha, Dana mengangguk. "Lo tau posisi terakhir dia dimana?" tanya Vanesha lagi. Kali ini Dana menggeleng, "Engga, semalem dia Cuma chat kalau nomornya baru. HP dia ilang katanya," tutur Dana.
Mata Vanesha membulat. Nomor baru dan hanya Dana yang non aitu hubungi. Apa yang dia pikirkan. "Lo kirim nomor baru Sasya ke gue coba. Gue mau lacak posisi terakhir dia." Dana pun mengirimkan nomor terbaru Sasya kepada Vanesha. Dan gadis polos itu dengan kepintarannya sedang mengotak-atik laptop miliknya untuk mencari keberadaan Varsya Kencana.
"Sasya udah dua hari gak pulang ke rumah. Mamanya udah ketakutan, takut anaknya diculik. Papa Sasya yang ada di Inggris juga tiba-tiba pulang ke Indonesia denger anak semata wayangnya gak pulang ke rumah," jelas Mega melihat wajah kebingungan Dana.
"Kita sama Om William udah berusaha cek semua rekening atas nama Sasya dan terakhir digunakan kapan tapi sia-sia. Pengeluaran terakhir Sasya semuanya di seminggu yang lalu. Mungkin Sasya punya rekening lain yang kita gak tau," tambah Dita menghela nafasnya lelah.
"Kenapa gak ada yang lapor polisi?" tanya Dana. Mereka berempat menggeleng. "Polisi percuma. Uang kita bakal habis buat penyelidikan mereka. Iya kalau Sasya ketemu kalau nggak? Malah kalau ditemukan udah... Ya menurut Om William sama Tante Fani sia-sia aja," jelas Dita lagi.
"Gue takutnya masalahnya engga sesimpel itu. Kita tau sendiri kilat musuhnya banyak. Biang onar, banyak yang gak suka sama dia. Kalau kita lapor polisi, masalahnya makin tambah runyam. Mafia-mafia gue juga udah bantuin cari dia di seluruh kota. Tapi belum ada laporan juga," ucap Abi menghembuskan rokok yang ia hisap.
"Kita harus sabar guys. Biarin Vanesha kerja dulu. Hanya hacker andalan kita yang bisa menemukan nona Sasya," ucap Lingga melihat gadisnya nampak bekerja sangat keras.
"KETEMU GUYS!" teriak Vanesha setelah 10 menit berkutat dengan sandi-sandi yang ada di laptopnya. "Lokasi terakhir ada di bekas gudang gula yang ada di pinggir kota. Ponselnya belum aktif lagi sejak jam 7 tadi." Mereka berenam mengangguk.
"Yosh! Hari ini kita bolos aja! Kita cari Sasya!" ucap Gani dengan semangat berkobar-kobar.
"Kita lewat pagar belakang aja. Gue ada kuncinya. Kita berangkat sekarang?" tanya Dana mendapat anggukan dari keenam sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomantikVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
