Bab 15 : Cemburu

269 6 0
                                        

Jika dibilang Sasya anaknya terlalu dingin, itu tidak benar. Nyatanya ia langsung akrab dengan sahabat-sahabat Dana. Malahan dua pemuda tengil itu, Gani dan Lingga sekarang kerap bergabung ke atap bersama keempat gadis berandal.

"Apa hari ini Dana menjemputmu lagi?" tanya Gani menyedot kuat-kuat rokok yang ada ditangannya kemudian mengepulkan asapnya ke langit.

Sasya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Gani. "Iya begitulah. Bukannya itu kewajiban dia menjemput gue tiap hari. Ralat antar jemput gue..." ucapnya mengepulkan asap vape hingga membentuk tiga lingkaran bertumpuk ke langit.

"Jika Dana melihatmu menyedot benda haram itu, dia akan marah lagi," peringat Lingga yang meringis melihat ketiga perempuan dihadapannya mengepulkan asap rokok maupun rokok elektrik itu dari mulut mereka. Seperti knalpot.

"Gue yang bakal marah duluan sama dia karena dia bakalan buang vape gue lagi kayak kemarin. Brengsek emang buat gue harus ngirit demi beli pod baru!" kesal Sasya mengingat kejadian kemarin dimana Dana merebut paksa vape yang ada ditangannya kemudian membuangnya ke tempat sampah.

"Harusnya lo ambil aja terus lo cuci daripada beli baru. Ngabisin uang..." celetuk Dita yang ikut bergabung dalam percakapan mereka. Hari ini ia membawa sebungkus rokok kretek, mirip seperti orang tua kalau kata Mega. Habisnya kartu ATM dia disita oleh ayahnya karena ketahuan menyimpan rokok lighter 88 di kamarnya. Pantas saja uangnya cepat habis. Rokoknya aja mahal.

"Gue kaya kalik. Gue ngirit juga karena mama sialan baru aja balik dan ngerecokin gue! Gue jadi harus beli bahan makanan terus make up, ini itu, banyaklah! Sialnya lagi dia gak mau ngeluarin duit samsek buat gue!" gerutu Sasya mengingat mamanya sudah pulang dan membuat pengeluarannya membengkak karena menyuruhnya membeli banyak barang tanpa meninggalkan sepeser pun uang.

"Sialan sialan gitu juga mama lo," sahut Mega yang sekarang asik merakit permainan brik yang akhir-akhir ini popular di media social. Awalnya Mega membelinya karena lucu tetapi setelah menyelesaikan satu kotak, ia jadi tertantang membeli kotak yang lain. Semangatnya sangat besar.

"Apa lo ikut-ikutan! Dasar anak kecil!" ejek Dita yang memanggilnya anak kecil karena memainkan permain seperti lego bodoh itu.

"Lo diem! Gue mau konsentrasi! Lingga, iket dia biar gak njegog terus!" perintah Mega yang hampir membuat Dita memukulnya. Untung Gani pacar yang tanggap langsung menghentikannya dengan sebuah ciuman dan berakhir dirinya yang kena amukan singa betinanya.

"Hidup umur segini emang lagi lucu-lucunya," ucap Lingga menggelengkan kepalanya melihat pasangan yang selalu bertengkar seperti Tom and Jerry itu.

Jika kalian bertanya-tanya dimana Vanesha, tenang saja. Gadis polos itu juga ada disana. Hanya diam memperhatikan teman-temannya yang mengoceh tidak jelas sambil menyeruput sekotak jus apel yang tadi dibelikan Lingga untuknya.

Disisi lain, Dana terheran karena kedua sahabat gilanya akhir-akhir ini tidak pernah terlihat. Bahkan sekarang mereka berani membolos di jam terakhir sebelum kelas berakhir. Ia menghembuskan nafasnya, berat, untuk ketiga kalinya hari ini.

Abi yang melihat hanya memandang jengah Dana yang terlihat banyak pikiran. Tidak berniat bertanya apa yang menganggu pikiran lelaki jangkung di hadapannya.

"DANA!" suara menggelegar membuat Dana yang baru saja ingin terlelap bersama pikirannya terbangun kembali. Itu Lauren, perempuan berdarah asli China yang sudah menetap di Indonesia sejak sekolah menengah, datang mengagetkannya.

"Dana Dana Dana! Kamu kan termasuk orang pintar disekolah. Aku mau tanya dong, emang ada ya orang yang pernah memakan racun tapi tidak mati?" tanyanya seperti anak kecil. Dana hanya terkekeh geli, darimana Wanita mungil itu mendapatkan pertanyaan seperti itu.

"Aku kemarin diajak Cici nonton serial India namanya Jodha Akbar nah disana si pemeran cewek namanya Jodha itu diracuni sama salah satu calon istri raja... Err... Aku lupa namanya siapa. Jodha sempet tak sadarkan diri sih tapi habis diobati dia hidup lagi," jelas Lauren lagi. Seakan bisa membaca isi pikiran Dana.

"Hahaha itu karena Ratu Jodha sudah diobatin sama tabib. Lagian jaman sekarang mana ada orang yang mau ngeracuni kita pakai racun ular," ucap Dana yang juga tahu episode yang ditonton si mungil.

"Sialan!" dari kejauhan, ternyata ada 6 pasang mata yang memperhatikan kedekatan mereka berdua. Dan seseorang sudah hangus terbakar sekarang. Matanya menatap tak suka interaksi dua insan berlainan jenis itu.

"Eh Ngga, lo cium gak? Keknya ada bau gosong nih," sindir Gani yang menyadari perubahan raut wajah ketua geng berandal itu. "Iya nih tapi bau gosong apa ya beb? Ada yang kebakaran tapi bukan di hutan, di hati," sahut Dita yang terkoneksi dengan pikiran pacarnya, Gani.

Oh ya untuk hubungan mereka berdua, akhirnya mereka resmi berpacaran dan babinya lagi mereka sudah bertunangan tanpa sahabat-sahabat mereka tahu. Gani memutuskan untuk melamar Dita karena tidak tahan dengan pesona Dita yang amat memporak-porandakan fondasi hatinya.

"Eh iya ya... Emang lo gak cium, Ngga. Bau kebaran api cemburu," sindir Mega yang baru menyadari apa maksud Gani sedetik yang lalu. Lingga akhirnya paham setelah saudara kembaranya memberikan kode kepadanya. "Hahaha keknya disini mulai panas, gimana kalau kita beli es cream aja? Biar adem gitu..." tawar Lingga dengan senggolan ringan kepada Sasya.

"Lo gak papa?" Hanya Vanesha yang waras disini. Ingat itu! Gadis bermata sipit itu menepuk Pundak Sasya dan memberanikan diri berbicara pada singa betina yang terbakar cemburu itu. "Gue gak papa! Ayo ke kantin kita beli ice cream. Yang bayar Lingga!" Sasya memutuskan seenak jidat.

Lingga tak terima duitnya terkuras habis padahal bukan dia yang memulai persindiran itu! Sepanjang jalan menuju ke kantin pemuda berambut panjang itu hanya mengumpati Gani yang memulai semua itu. Mega yang tak tega melihat kembarannya, membayar setengah untuknya. Toh uang mereka uang bersama. Walaupun dijatah sendiri-sendiri, kakak beradik itu tetap menyatukan uang mereka pada akhirnya.

"Udah mendingan?" tanya Vanesha yang tampak khawatir dengan raut wajah Sasya yang tak berubah walaupun sudah memakan habis se-cup es cream cokelat dan sekaleng soda.

Sasya mengangguk. "Gue baik." Mungkin, lanjut Sasya dalam hatinya. Entah hatinya seperti teriris saat baby boy-nya dekat dengan perempuan lain selain dirinya. Yah walaupun Sasya hanya ingin bermain-main dengan Dana, tapi sepertinya dirinya sudah terpikat dengan kharisma anggota kedisiplinan itu.

"Babe, habis ini kita bolos lagi yuk. Gue takut mood lo makin hancur kalau balik ke kelas. Lagian habis ini pelajaran Pak Amir paling disuruh kerjain soal terus ditinggal," tawar Mega baru saja teringat habis ini pelajaran favoritnya, Bahasa Inggris.

Kali ini Sasya menggeleng. Untuk apa ia harus membolos. Lagian kelasnya dan Dana berbeda, mungkin otak Mega sudah membeku karena itu ia menjadi semakin bodoh. "Gue akan ikut kelas terakhir hari ini. Mumpung gue masih niat," ujar ketua geng berandal itu.

Ketiga sahabatnya tidak ada yang berani menyanggah. Ketuanya aja niat maka mereka harus lebih niat mengikuti pelajaran terakhir. "Oke! Kita masuk sekarang!" Keempat cewek itu saling merangkul menuju kelas, meninggalkan dua lelaki yang menatap mereka bodoh.

"Brengsek juga Si Dana. Walaupun gue udah punya Dita tapi gue gak terima senyum bidadari balap luntur gitu aja!" ucap Gani berkobar-kobar. "Gue setuju. Kita harus buat Dana paham!" Angguk Lingga, menyetujui ucapan sahabat konyolnya. Mereka berdua juga kembali ke kelas sebelum ketua kelas mengamuk lagi karena mereka banyak absen di jalan terakhir sebulan terakhir.


- to be continued

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang