Malam harinya, sesuai kesepakatan, mereka ber-8 berkumpul di mansion Sasya untuk belajar bersama. Karena kalau belajar sendiri atau hanya via zoom meeting, Gani pasti akan uring-uringan dan tidak konsen karena daya pahamnya yang rendah.
"Eh temen-temen Sasya dateng. Ayo silahkan masuk. Bisa langsung ke lantai 2 aja ya. Nanti ketuk dulu kamar Sasya biar di bangun hehehe," sambut Stefani ramah.
"Oh iya tante..." Ketiga cecunguk Sasya yang sudah terbiasa dengan mansion ini langsung naik ke lantai dua. Mengetuk pintu kamar bewarna hitam itu kencang-kencang. Sementara para lelaki yang masih malu-malu hanya mengekori mereka di belakang.
"WOI BANGUN SYA! BANGUN!" teriak Dita sambil terus mengetuk pintu kamar Sasya kencang.
CEKLEK
Sasya terbangun dari tidurnya. Belum sepenuhnya sadar. Rambutnya berantakan dan ia hanya memakai singlet crop putih yang dipadukan dengan celana pendek jeans biru cerah. Nampak sexy sehingga Dita langsung menutupinya.
"Apa kalian liat-liat?!" galak Mega kepada para lelaki yang menatap minat tubuh terbuka Sasya.
"Eng... Enggak. Gue gak liat apa-apa," alasan Lingga, ia membalikan tubuhnya agar tak menatap perempuan yang setengah bernyawa itu. Ketiga temannya pun mengikuti Lingga, membalikan badan.
"Nes... Lo hidupin dulu AC-nya. Gue mau cuci muka dulu..." ucap Sasya kembali ke kamarnya untuk mencuci muka dan membenarkan rambutnya yang seperti singa. Diikuti oleh Dita tentunya.
"Maaf ya, Sasya emang suka begitu kalau dirumah. Gerah katanya," jelas Vanesha agar mereka berempat tidak canggung setelah melihat Sasya begitu. Ia pun berjalan ke arah tembok, menyalakan AC yang berada diatas mereka pas.
Setelah 5 menit, Sasya dan Dita pun keluar dari kamar. Kali ini Sasya sudah menggunakan kaos oblong hitam oversize yang membuat celananya ikut tenggelam di dalam kaosnya. Tapi tidak apa, sudah lebih baik.
Belajar bareng pun dimulai. Dari kelas IPS, Vanesha yang memandu mereka mengingat Vanesha selama ini selalu menyabet ranking 5 di kelas dan 17 untuk parallel. Sementara dari kelas IPA, mereka tidak butuh arahan kecuali Gani karena ketiganya selalu masuk dalam 10 besar di kelas dan 30 besar parallel.
DItengah kegiatan mereka, beberapa maid datang membawakan minuman dan beberapa camilan untuk mereka. Mereka tambah semangat belajar, apalagi Mega dan Lingga yang terlihat sangat doyan dengan camilan yang ada.
1 jam pun berlalu, kelas IPS berhasil mengerjakan soal UTS yang ada pada lembar belajar ekonomi. Sementara para lelaki sudah menyelesaikan tugas sejarah minat mereka. Mereka pun beristirahat sejenak sebelum akhirnya melanjutkan belajar mereka lagi.
"Lo kagak ada PS apa?" tanya Gani yang otaknya sudah berasap karena sejarah minat.
"Noh ada di dalem, lo mau?" Gani mengangguk cepat. Sasya pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam kamarnya. Kamar dengan nuansa monokrom, abu-abu dan putih itu Nampak rapi dan tidak ada satupun barang yang tergeletak di lantai.
"Woahhh... Gue kira kamar cewek berandal bakalan berantakan, ternyata gue salah," julid Lingga yang juga terkagum akan kamar ketua geng berandal itu.
"Kan ada maid yang bersihin. Lo pikir rumah lo," ucap Mega. "Rumah gue juga rumah lo kalau lupa," bisik Lingga menyadarkan kembarannya.
"Udah udah gak usah berisik. Main aja sono. DVD-nya ada dibawah. Kalau udah selesai kembaliin seperti semula. Gue mau ambil makanan di bawah dulu..." ucap Sasya pergi ke bawah untuk mengambil makanan yang sempat mereka pesan tadi.
Dana juga masuk ke dalam kamar abu putih itu. Namun atensinya teralihkan saat melihat foto dirinya dan juga Sasya yang pernah mereka ambil di salah satu studio foto karena Sasya terus-terusan merengek ingin kesana.
Dana melihat-lihat lagi ternyata fotonya ada lumayan banyak, entah darimana Sasya mendapatkannya yang jelas itu foto-foto kenangan mereka berdua yang membuat Dana hanya tersenyum. "Ternyata gue sebeharga itu buat lo..." ucap Dana.
Setelah beristirahat 30 menit, mereka kembali memulai kembali kegiatan belajar bareng. Kali ini kelas IPA maupun IPS sedang belajar matematika minat yang kebetulan gurunya sama, Bu Hani. Kelas IPA sudah diberi kisi-kisi yang keluar untuk UTS dan contoh soal sehingga memudahkan mereka untuk belajar.
Sasya mem-fotocopy terlebih dahulu lembar kisi-kisi dan contoh soal agar ketiga teman berandalnya mempunyai pegangan supaya lebih gampang.
Baru mulai membahas nomor 1, tapi Dita dan Gani sudah uring-uringan karena jawaban mereka sangat berbeda dengan kunci jawaban Dana. Entah darimana dua sejoli itu mendapatkan jawaban. Padahal rumus yang mereka pakai sama.
"Gue nyerah!" teriak Mega saat mereka mencapai nomor 30. Gadis itu melemparkan kertas yang ia pegang kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di lantai. "Lemah," nyinyir Lingga mengelus pucuk kepala kembarannya.
Vanesha menolehkan kepalanya pada jam dinding besar yang ada di seberang atasnya. "Udah jam 10 nih. Mau udahan aja?" tawarnya. Ia juga sudah melihat wajah-wajah memelas ketiga teman berandalnya yang kini mengangguk lemas.
"Ya udah kita lanjut besok aja..." putus Dana. Mereka semua pun berkemas-kemas untuk pulang ke rumah masing-masing, kecuali Dita. Tunangan Gani itu sudah memutuskan untuk menginap saja malam ini.
"Sebelum pulang gass satu match dulu?" tanya Lingga yang sudah login ke aplikasi game online yang biasa mereka berempat mainkan. Tentu para lelaki menyetujui ide Lingga. Mereka berempat pun bermain game online terlebih dahulu sebelum benar-benar pulang.
"Btw Sya, gue dapet pesan dari anak-anak markas katanya ada yang nyariin lo," ucap Dita menunjukkan pesan yang ia dapat dari Satria, penjaga markas Red Devils. Kening Sasya mengerut, siapa yang mencarinya malam-malam.
"Katanya sih kayak reporter gitu. Apa jangan-jangan ada yang tau hubungan lo sama tante Stefani?" lanjut Dita.
Tepat setelah Dita berucap demikian, Stefani naik ke atas untuk mengecek keadaan anak-anak disana. "Gak usah dipeduliin, itu pasti reporter gossip," sahut Stefani yang datang dengan beberapa bungkus paperbag di tangannya.
"Ini apa tan?" tanya Vanesha setelah menerima paperbag dari Stefani. Teman-teman yang lain juga demikian, tapi mereka hanya diam dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Itu cuma oleh-oleh kecil dari Paris," jawab Stefani. Vanesha yang sudah melihat isi dalam paper bag terkejut bukan main. Ada sekotak kecil coklat dengan beragam bentuk juga sebuah kalung emas dengan liontin Menara Eiffel kecil.
"Bilang apa anak-anak?" ucap Dita. "Terimakasih tante Fani," ucap mereka serentak. Stefani tersenyum melihat para sahabat putrinya menyukai hadiahnya, "Sama-sama," ucap Stefani.
"Gue mau pamit, mau ke bengkel dulu nemuin anak-anak geng," ucap Abi berpamitan dengan semua sahabat dan Stefani yang ada disana. Disusul oleh Dana, Lingga, Gani, Vanesha dan Mega yang mengikuti Abi dibelakangnya.
"Hati-hati dijalan..." teriak Dita dari depan pintu sembari melambaikan tangannya bersama dengan Sasya. Setelah semuanya hilang dari pandangan, kedua gadis itu kembali masuk ke kamar untuk bercerita sedikit sebelum akhirnya tertidur pulas.
"Well, kalau gue bisa milih, gue tetep mau jadi pendamping Dana selamanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomanceVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
