Bab 33 : Brengsek

148 4 0
                                        

PRANG!

Jantung Sasya serasa berhenti berdetak.

Saat istirahat, Dana meminta mereka bertujuh untuk berkumpul membahas sesuatu yang penting katanya. Disana lelaki polos itu dengan sorot mata tegas mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa menerima perasaan Sasya pada dirinya dan hanya menganggap Sasya sebagai adiknya.

Sasya yang tadinya membawa gelas antic yang diberikan Alvin padanya mendadak kaku dan memecahkan gelas tersebut hingga hancur berkeping-keping. Bukan hanya gelas, hatinya juga hancur bak dihujani jarum-jarum tajam. Rasanya nyeri dan perih. Matanya memanas tapi ia tetap harus memalsukan senyumannya.

"Ah okeyy... Gak papa Dan... Gue mah ikut seneng kalau lo akhirnya udah bisa lupain perjanjian kita hahaha... Congrats... Congrats kalau begitu..." ucap Sasya keluar dari atap disusul oleh ketiga temannya.

Abi tersenyum miring. "Jangan nyesel ya, boy. Sasya is mine from now..." ucapnya dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. Kepulan asap mulai terlihat lagi pada mulutnya. Abi menghisap kuat-kuat nikotin itu untuk menyembunyikan senyumnya yang sedaritadi tak luntur setelah mendengar deklarasi Dana.

Disisi lain, ketua geng berandal itu sekali lagi harus memalsukan senyumannya. Ia kini berada di kamar mandi yang Ia kunci dari dalam agar ketiga temannya tidak melihat air mata bodoh yang mengalir deras dari matanya. Walapun sudah berusaha tersenyum, air matanya tak mau berhenti. "SIAL! SIALAN!" teriaknya memukul-mukul kaca yang ada di hadapannya.

"Kenapa? Kenapa Cuma gue yang terluka terus disini ha? Kenapa TUHAN!" teriaknya lagi. Sekarang dirinya merosot hingga terduduk dilantai. Menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tangisan pada lekukan kedua kakinya.

"BAJINGAN! BAKAL GUE UNGKAP SIAPA LO SEKARANG JUGA!!!" teriak Sasya lagi mengusap air matanya kasar. Membuka pintu dengan kuatnya dan berjalan melewati ketiga temannya yang menahan-nahan kepergiannya. Ia bahkan tega menepis tangan Dita yang singgah pada bahunya.

Gadis ketua geng itu berjalan gagah ke gerbang belakang kemudian memanjatnya dengan sekali lompatan hingga dirinya berhasil lolos keluar dari sekolah. Mega yang panik langsung menelpon Lingga dan memberitahukan kabar ini padanya.

"BAJINGAN!" teriak Lingga didalam kelasnya. Untung saja guru baru saja pergi jadi hanya teman-teman sekelasnya yang mendengar. "Lo kenapa njir?" tanya Gani terkejut hingga membangunkan lelaki berkulit tan itu dari tidurnya.

"Sasya minggat lagi njir!" ucap Lingga yang panik. Ia kemudian buru-buru untuk menyusul Mega dengan Gani dan Abi yang mengekorinya.

Dana yang tadinya ingin kembali ke kelas selepas buang air, ikut ditarik oleh Lingga untuk menyusul gerombolan perempuan yang panik mencari ketuanya yang hilang.

"Semua gara-gara lo!" tuduh Dita yang sudah berlinang air mata begitu melihat Dana yang lainnya yang menyusul mereka. Gani yang melihat calon istrinya menangis langsung mendekapnya dalam pelukan.

"Lo emang bener-bener duri buat hidup Sasya! Kenapa juga lo dulu mesti kenal sama Sasya kenapa! Kenapa dulu lo bodoh nge-iya-in permintaan Pak Joko?! Kenapa gak Lingga aja yang nasehatin Sasya waktu itu! Kenapa lo!" bentak Mega yang tak kalah histeris dari Dita. Abi yang tidak tega melihat kucing putihnya menangis langsung mengusap air mata Mega lembut. Membawanya dalam pelukan hangat.

"Sorry Dan, tapi lo emang brengsek! Kenapa lo katain itu sekarang ha?! Kenapa gak lo katain pas Sasya bener-bener pulih?! Padahal lo sendiri yang nolongin Sasya pas Sasya mau pingsan! Tapi kenapa lo juga yang bikin Sasya tambah sakit?! Kenapa Dan! Jawab gue! Kenapa ha?!" marah Vanesha. Lingga yang tidak mau ada pertengkaran lagi langsung membawa tubuh mungil Vanesha menjauh agar gadis itu tidak malu jika ingin menangis.

"Kenapa kalian marah? Bukannya kalian sendiri yang minta kepastian dari gue?! Kalian yang mendesak gue biar cepet kasih kepastian kan? Tapi sekarang apa? Kalian marahin gue karena gue udah kasih keputusan gue!" ucap Dana dengan nada naik satu oktaf. Ia menggigit bibir bawahnya agar tak kelepasan.

"Ya tapi gak sekarang juga kocak! Lo yang rebut Sasya dari gue buat dibawa ke ruang Kesehatan tapi bener kata Nesha, lo yang buat dia tambah sakit... Loo... Uhmmm..." Abi membekap mulut kucing putihnya yang terus bersuara dengan tangannya. Kembali memeluknya hingga wajah mungil itu tenggelam dalam dada bidangnya.

"DITA! DIT! BANGUN DIT! DITAAA?!" teriak Gani panik. Perempuan dalam pelukannya ternyata sudah tak sadarkan diri. Lelaki setengah badung itu cepat-cepat membawa perempuan kesayangannya ke ruang Kesehatan untuk mendapatkan perawatan.

"DITA!" teriak Mega memberontak dari pelukan Abi. Setelah terlepas, dirinya langsung berlari menyusul Dita yang dibopong oleh Gani. Begitupun Vanesha, gadis pendiam itu juga berlari menyusul teman-temannya.

"Gue gak akan bilang apapun. lo boleh kembali ke sisi Wanita ular itu. Selamat bermain dengan bekas ranjang om-om cabul," ucap Abi meninggalkan Dana yang terduduk di lantai.

Dana menangis dalam diam. Jadi begini rasanya dicampakan oleh para sahabatnya sendiri. Begini rasanya dijauhi oleh semua orang yang ia sayangi. Walaupun ia sudah merasakannya sekali saat kehilangan Rosita, tapi ini berbeda.

"Ayok balik, nanti guru cari dan kita harus kasih penjelasan kenapa Gani sama Abi pergi," ajak Lingga yang masih peduli pada Dana. Memapah lelaki polos yang masih seseunggukan itu kembali ke kelas mereka.

Malam harinya, Sasya masih tidak ditemukan. Bahkan dimension pribadinya, gadis itu tidak ada disana. Hanya ada 1 tempat yang belum teman-temannya kunjungi. Area balap. Feeling Mega, ia merasakan ketua geng itu pasti ada disana untuk melepaskan jengkelnya.

Dan benar, begitu Mega, Abi, Dana dan Vanesha sampai disana, ia bisa melihat ketua tim Red Roses itu sedang memukuli musuhnya yang kalah dalam pertandingan. "MATI LO BAJINGAN!" teriak Sasya dari seberang area.

Mega dan Vanesha langsung menghampiri Sasya dan menahannya dengan memeluknya ketua mereka dari belakang. "Jang... Jangan Sya! Nanti dia mati loh!" ucap Vanesha kesusahan menahan Sasya yang terus meronta.

"Lepasin gue Nesha! Lo bakal kenapa-napa kalau gak lepasin gue!" ancam Sasya mendongkan pistolnya ke kepala Vanesha. Tapi Vanesha seakan tak peduli, ia terus memegang pinggang ramping itu agar bisa menariknya mundur.

"Well, mau lawan satu putaran Mrs. Red?" tawar Abi yang sudah siap dengan outfit serba hitam miliknya dan motor hitam kesayangannya. Mega tertegun melihat ketampanan Abi jauh 1000 kali lipat dalam outfit itu.

"Ready to lose Mr. Black?" ucap Sasya dengan seringaian kecil pada sudut bibirnya.

Abi tersenyum. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk meredakan sakit hati Sasya.

Sedangkan di tribun penonton, Dana dapat melihat dengan jelas Abi yang tengah bersiap melawan Sasya dalam putaran kali ini. Hiruk pikuk penonton juga mulai terdengar saat mereka tau dua ketua tim terhebat di area ini akan bertanding lagi setelah kesekian purnama.

"VARSYA HWAITINGGGG!"

"ABISATYA LO HARUS MENANG! CICILAN BENGKEL KITA BANYAK!"

"VARSYA LO HARUS MENANG BAJINGAN!"

"VARSYA LO KALAU GAK MENANG GUE BAKAL TUTUP MARKAS!"

"ABISATYA SEMANGATT!"

Dan berbagai teriakan lainnya dari fans maupun teman setim mereka. Dana hanya bisa menghela nafasnya. Ternyata ada kalanya ia akan terjebak di tempat seperti ini. Matanya menyipit saat menangkap sosok yang tak asing sedang bergelayut manja pada seseorang kekar dengan tato di sekujur tubuhnya.

"Lauren?"

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang