Hari ini Dana sedang berjaga di depan gerbang seperti biasanya. Ia sendirian hari ini, Lingga yang harusnya menemaninya hari ini tidak bisa datang karena demam katanya. Bahkan si julid itu memohon pada Dana untuk tidak menukar shift-nya dengan siapapun. Alhasil si polos itu harus menghadapi puluhan siswa telat sendirian.
"Oke sudah sepuluh menit." Ia berjalan ke gerbang sekolah untuk membukanya. Ia membariskan para murid yang telat berbanjar ke belakang. Mencatat semua nama mereka dalam buku keramat.
Langkahnya terhenti saat dirinya sampai di depan perempuan berambut bob pendek itu. Perempuan yang sudah ia kenal tak lama ini namun menjadi sedikit asing lagi sekarang. Sebelum Dana sempat bertanya, Sasya sudah menjawabnya dengan ketus. "Lo gak mungkin lupa nama, kelas, nomor absen gue," ucapnya.
Dana menghela nafas. Ia mencatat nama Varsya Kencana untuk kesekian kalinya di buku keramat OSIS itu. Jika ada reward pemenang siswa telat-an, Sasya lah yang menjadi pemenang dari sepersekian anak yang ada.
"Lo boleh masuk," ujar Dana setelah mencatat nama Sasya di buku keramat.
Sasya tersenyum. Ujung bibirnya terangkat. Ide jahilnya mulai kembali, perlahan ia menarik wajah Dana agar mendekat padanya. Menciumnya sekilas lalu pergi meninggalkannya. "Have a nice day, baby boyyy," teriaknya dari kejauhan.
Dana nampak mematung dan bersemu sekarang. Hal gila yang baru saja dilakukan Sasya benar-benar membuat jantungnya berdegup sangat kencang, Jika saja Pak Satpam tak datang untuk menyadarkannya, para siswa yang telat bisa-bisa tambah telat mengikuti pelajaran pertama karena ulahnya.
Setelah selesai mencatat, Dana kembali ke ruang BK untuk menyerahkan laporan harian kepada sang guru BK, Pak Joko. Semoga hipertensinya tidak kumat saat melihat nama Varsya Kencana lagi dan lagi tercatat pada laporan.
Ruang BK nampak kosong. Bahkan admin yang biasa menjaga ruangan juga entah hilang kemana. "Pada kemana?" gumam Dana menaruh buku catatan pelanggaran di meja Pak Joko.
Beberapa saat kemudian muncul seorang siswi terengah-engah didepan ruangan BK. "Ada apa?" tanya Dana melihat wajah panik dan tak biasa dari siswi itu.
"I... Itu... Kak Sasya berantem sama Kak Lintang di kantin!" ucap siswi itu, menarik tangan Dana untuk membawa lelaki polos itu ke tempat kejadian. "Saya mohon kakak bisa melerai mereka," pinta gadis itu kepada Dana. Dana pun mengangguk paham.
**********
Di kantin, kedua musuh bebuyutan itu saling melemparkan pukulan. Walaupun badan Sasya terlihat lebih kecil tapi itu tak menutup kemungkinan ia bisa menang melawan Lintang yang cukup kekar. "Lo bajingan sialan!" umpat Lintang saat ujung bibirnya berdarah karena pukulan Sasya.
Sementara sang pelaku hanya tersenyum miring. Gadis itu melayangkan sebuah pukulan dan tendangan beruntun untuk sang ketos. Hingga membuat lelaki berwibawa itu tersungkur ke tanah. "Terlalu dini untuk berlutut padaku, ketos baik. Setidaknya selesaikan dulu masa jabatanmu itu dan berlututlah pada Pak Sis terlebih dahulu sebelum berlutut kepadaku," sarkasnya.
Mulut gadis ini tajam juga, pikir Lintang yang meringis kesakitan karena perutnya ditendang kuat-kuat oleh Sasya. Bibirnya juga perih dan semakin mengeluarkan banyak darah.
Banyak siswa yang mengerubungi tempat itu. Mereka hanya menonton keributan gratis yang mereka dapatkan. Tanpa ada seorang pun yang berani untuk melerai mereka.
"Cukup untuk hari ini. Lain kali kalau lo pengen nyenengin jalang kecil lo jangan lari ke gue! Lari aja ke Dana! Bukannya mantan gue itu cukup nyenengin jalang kecil lo dengan berbagai afeksi yang ia berikan ha?! Bukannya Dana udah cukup memanjakan dia?! Kenapa lo juga lari ke gue buat mohon-mohon gue jauhin Dana, brengsek!" kesal Sasya menendang-nendang Lintang yang sudah terkulai tak berdaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomanceVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
