"Lo kenapa gak belain gue waktu diserang sama OSIS hah?!" bentak Sasya pada sugar boynya yang kini menunduk, merasa bersalah.
Setelah perdebatan panjang dengan para kepala-kepala bidang OSIS, Sasya menarik tangan Dana ke mansion miliknya dan meminta penjelasan dari Dana tentang kebisuannya selama rapat mengesalkan tadi.
"I... Itu..." Dana tertunduk. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada wanita menakutkan dihadapannya.
Sasya berdecih. Amarahnya semakin meningkat karena Dana tak memberikan jawaban. "Tatap dan jawab gue Dana!" bentak Sasya meraih dagu Dana untuk menatap dirinya.
"Ma... Maaf... Gue... Gue gak bisa be... belain lo tadi... ma... maaf..." Dana gugup. Tatapan tajam dari seorang Varsya Kencana benar-benar menakutkan. Bahkan untuk sekedar bernafas saja susah jika Sasya ada didekatnya sekarang.
"Gue gak butuh maaf dari lo! Yang gue butuhin itu jawaban! Dan lagi, kenapa OSIS bisa nuduh gue?!" ucap Sasya dengan nada super tinggi. Emosinya benar-benar memuncak gini.
"Anu..." Dana memejamkan matanya sebentar. Menarik nafasnya, mencoba menguatkan dirinya sendiri sebelum menjawab.
"Tadi gue udah bela lo, bahkan kabid humas juga dukung lo. Walaupun gue diem pada waktu lo dateng, bukan berarti gue diem juga saat nama lo diseret sama mereka!" tutur Dana dengan nada sedikit meninggi di kalimat terakhirnya.
Sasya tersenyum. Mengecup sekilas pipi Dana kemudian mengambil rokok yang ia simpan di kantung seragamnya. "Good job, baby boy..." tutur Sasya.
Wajah Dana seketika memerah, dengan hati-hati ia melirik perempuan di hadapannya. "Lo... Lo m.... ma... masih marah?" tanya Dana ragu-ragu. Meremas ujung seragamnya sendiri karena takut, takut salah bicara.
"No... Gue gak marah sama sekali sama lo. Cuma agak kesel aja tadi... Sorry..." Ucap Sasya menghembuskan rokok yang ia hisap kuat-kuat.
Dana bernafas lega. Ia kira Sasya akan marah berlarut-larut padanya dan memberikan hukuman.
"Sabtu lo kosong kan?" Tanya Sasya, mematikan rokok ditangannya kemudian menyuruh Dana untuk duduk disampingnya.
"Kosong sih, kenapa?" Tanya Dana penasaran.
"Lo temenin gue, gue mau ke suatu tempat..." Ucap Sasya membuat Dana menatapnya bingung. Sangat menggemaskan, batin Sasya.
"Btw lo keberatan kalau semisal gue deket sama orang selain lo?" Tanya Sasya sembari memainkan rambut hitam Dana yang bersandar pada pahanya.
Dana menggeleng kecil. "Lo bebas Sya. Gue... Gue gak punya hak ngelarang lo deket sama siapapun, walaupun gue pengen sekalipun," tutur Dana diakhiri kerucut kecil tercetak di bibirnya.
Sasya terkekeh gemas. "Lucu banget sihhh... Jangan lucu-lucu napa? Nanti diculik orang loh!" ucap Sasya menyentil lembut dahi Dana.
"Awwwsss... Sakit tau Sya!" Ringis Dana saat dahinya mendapat sentilan manja dari sang sugar mommy.
"Btw... Nanti malem gue mau balapan, lo ikut?" Tawar Sasya. Malam ini mungkin akan jadi malam yang panas karena dirinya akan turun dan melawat ketua geng dingin dari surga, Heaven Cold.
Dana menggeleng. "Sorry, gue gak bisa Sya. Gue lagi banyak tugas dan gara-gara Bang Rai, OSIS mau gak mau harus ngadain pertemuan buat kelas 12 bahas masalah OSIS," tolak Dana dengan raut wajah sebal.
"Hm..."
Dan setelah itu mereka diam. Sasya sibuk mengelus surai hitam favoritnya. Sementara si empunya, Dana sibuk bermain game online bersama bersama dengan teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERANDAL KESAYANGAN
RomanceVarsya Kencana, ketua geng berandal yang sangat terkenal seantero sekolah. Bukan hanya terkenal cantik, namun tingkahnya yang aneh dan tidak bisa diatur bahkan guru BK dan ketua OSIS menyerah untuk mengurusnya. Namun siapa sangka gadis berandal ini...
