Bab 42 : Onshen

105 4 0
                                        

"Besok kita harus pulang ya?" Mega menatap ke arah luar jendela yang ada di ruangan tengah. Rasa tidak rela dan sedih berkecamuk hebat di dalam hatinya. 

"Semakin cepat pulang semakin baik kan?" jawab Lingga yang terlihat seperti orang frustasi sejak semalam.

"Lo kenapa Ngga? Perasaan kemarin baik-baik aja," tanya Dana. Gani, dan Abi yang tadinya sibuk dengan pikirannya masing-masing, seketika menoleh untuk melihat Lingga yang terlihat enggan menjawab pertanyaan Dana.

"Gue oke," jawab Lingga singkat.

Mega yang nampak khawatir dengan kondisi kakak kembarnya langsung menemukan sebuah ide untuk petualangan terakhir mereka sebelum besok kembali ke kampung halaman mereka. "Gimana kalau kita ke pemandian air panas? Enak dingin-dingin gini..." ucap Mega.

"Boleh..." Para perempuan menyetujui saran Mega. "Cowok-cowok gimana?" tanya Mega. Para lelaki nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Oke, kita ke Onsen yang ada di belakang villa aja ya," ucap Sasya nampak menghubungi seseorang dari tempat pemandian air panas.

10 menit kemudian, mereka berdelapan sampai di Fuguka Onsen yang ada tak jauh dari villa mereka. "Irasshaimase, Nanika osagashi desu ka?" (Selamat datang ada yang bisa dibantu?) ucap seorang petugas dengan nama Haruno pada bajunya.

"Ano..." Belum menyelesaikan kalimatnya, seorang pria tua yang diketahui sebagai pemilik onsen datang menghampiri mereka kemudian tersenyum ke arah Sasya. "Varsya Kencana... Sudah lama saya tidak melihatmu," ucap pria itu, yang mengejutkan beliau menggunakan bahasa Indonesia.

"Senang bertemu dengan anda tuan Fuguka," ucap Sasya menjabat tangan Fuguka Hirosama, pemilik tempat itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Senang bertemu dengan anda tuan Fuguka," ucap Sasya menjabat tangan Fuguka Hirosama, pemilik tempat itu. Mereka melakukan obrolan ringan sebelum Tuan Fuguka mengantar mereka ke tempat VVIP.

"Mari saya antarkan..." ucap salah dua orang staff, laki-laki dan perempuan, membawa mereka masing-masing ke kolam air panas yang terpisah. Laki-laki di area barat sementara perempuan di area berlawanan, timur.

**********

Di sisi barat, para lelaki terlihat sedang melakukan pemanasan ringan sebelum akhirnya Gani mengawali mereka dengan menceburkan tubuh mungil Dana ke dalam kolam air panas.

"Bajingan!" umpat Dana yang terlihat gelagapan karena ia belum siap untuk masuk ke kolam tapi teman laknatnya tiba-tiba saja mendorong dirinya dengan tidak elitnya. Muka Dana semakin tambah masam saat Gani tiba-tiba ikut menceburkan diri ke dalam kolam membuat wajah tampannya kembali basah.

"Lo kenapa?" tanya Abi kepada Lingga yang terlihat ogah-ogahan bergabung bersama mereka. Si julid itu hanya duduk diam di tepi kolam. Tak berniat untuk menceburkan dirinya.

BYURRRRR!

"GANI BYAJINGANNN!" umpat keras Lingga karena Gani dengan jahilnya menarik kakinya dan berakhir dirinya ikut masuk juga ke dalam kolam. "Sialan emang si burik!" tambah Lingga kesal setengah mati dengan temannya yang berkulit tan itu.

Yang lain kini tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Lingga.

Sementara para lelaki menjahili satu sama lain, di kolam timur para ciwi-ciwi terlihat damai menikmati segarnya air panas yang memanjakan tubuh mereka yang setengah beku.

"Segarnya...." Mega tertawa kecil. Ia jadi teringat scene anime favoritnya dimana tokoh utama mereka terpeleset ke dalam kolam air panas. "Jadi gini rasanya..." gumamnya.

Si tomboy, Dita juga terlihat bahagia. "Harusnya kita kesini sejak pertama kali dateng ke Jepang sih guys..." ucapnya melakukan peregangan kecil di dalam kolam air panas. "Hum. Harusnya sih ya..." tambah Mega menyetujui perkataan Dita.

Sasya terkekeh melihat kedua temannya nampak menikmati tempat yang sudah ia pilih. Namun tawanya terhenti ketika melihat si pintar Vanesha yang nampak termenung di ujung kolam. "Lo kenapa Nes?" tanya Sasya.

Ucapan Sasya membuat Vanesha tersadar. Ia kemudian tersenyum tipis. "Gua gak papa kok," bohongnya.

"Alah boong, lo kenapa ege?! Muka lo kayak sedih bangt gitu... Ceritain aja kali kayak sama siapa aja..." bujuk Dita namun lagi-lagi Vanesha hanya tersenyum tipis. "Hooh kalau ada apa-apa tu cerita anjer. Kita jadi berasa bukan temen lo kalau apa-apa lo pendem sendiri," kompor Mega yang tahu jelas kelemahan sahabatnya.

"Gue habis ditembak Lingga..." ucap Vanesha membuat ketiga temannya melotot dan menganga tidak percaya. "Tapi gue tolak..." ucap Vanesha lagi sebelum Dita dan lainnya mempertanyakan jawabannya.

"Kenapa lo tolak ege?! Kalau gue jadi lo, gue terima. Jujurly daripada Gani, gue mending pacaran sama Lingga. Walaupun julid, dia ganteng anjer!" cerocos Dita menggebu-gebu.

"Laporin Gani sabi nih..." goda Sasya membuat Dita menatapnya tajam. "Awas aja lo berani laporin Gani. Gue bakal cepuin ke Dana kalau lo tergila-gila sama dia!" ancam Dita membuat ketiga temannya tertawa.

"Lagian kalau gue suka sama Dana, semua orang juga tau kalekkk..." ledek Sasya membuat Dita geram, mencipratkan air kolam ke wajah cantiknya. "Sialan lo!" umpat Sasya merasakan perih pada matanya yang kemasukan air kolam.

"Lo kenapa bisa nolak Lingga?" tanya Mega tiba-tiba. Menatap geram Vanesha karena sudah menolak cinta tulus dari kakak kembarannya. Dita dan Sasya sampai dibuat cengo karena seorang Mega bisa menatap bestie-nya dengan tatapan seperti itu.

"Ada orang yang gue suka... Bukan Lingga yang pasti..." Dita, Sasya, dan Mega otomatis mendekat ke arah Vanesha setelah gadis itu menyelesaikan kalimatnya. "Siapa? Siapa? Gue gak pernah tau siapa doi lo dari SMP," bisik Dita merangkul Vanesha dan Sasya yang ada disampingnya.

Vanesha terkekeh mendengar pertanyaan Dita. Ia kemudian tersenyum sambil membisikkan sebuah nama yang membuat mereka terdiam seribu bahasa.

"Anjir?! Kenapa gak bilang gue dari tadi?!" ucap Dita yang merasa ditipu. "Hum. Gue setuju. Kan gue bisa deketin kalian cok kalau lo mau!" tambah Sasya yang juga merasa kesal sekaligus bersalah karena ternyata orang yang Vanesha suka itu dekat sekali dengannya.

Sementara Sasya dan Dita terus bertanya-tanya, Mega terlihat diam di ujung kolam. Vanesha yang pertama menyadari perubahan sikap sahabat terdekatnya hanya bisa terkekeh geli. "Kalau gue bilang, nanti ada yang marah..." ucap Vanesha mengopori Mega yang sayangnya terlalu kalut dalam pikirannya sendiri sehingga tidak mendengar ucapan Vanesha barusan.

Sasya tersenyum miring saat menyadari maksud Vanesha. Ternyata begitu... Persaingan diantara dua orang sahabat. "Gak ada salahnya kan lo deketin dia duluan... Lagian juga dia jomblo jadi siapa yang bakal marah hm?" goda Sasya membuat raut wajah Mega semakin muram.

"Lo ada benernya Sya. Ya coba deh nanti gue coba deketin dia dulu..." Vanesha terkekeh geli. Ternyata dirinya bukan satu-satunya yang tahu rahasia Mega.

"Kalian berdua daritadi ngomongin siapa sih?!" ucap Dita yang masih belum mengerti apa yang kedua temannya bicarakan. Matanya kemudian menatap sosok Mega yang sedaritadi diam. "Lo paham gak Meg?" tanya DIta.

Mega hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Makanya jangan kelamaan pacaran sama Gani. Jadi ikutan tolol plus lemot kan lo," ejek Sasya.

"Sialan emang lo berdua!" umpat DIta membuat Vanesha dan Sasya tertawa puas.

- to be continued


*note : MAKASIHH YANG UDAH VOTE DAN COMMENT 🤩🙏🏻❤️

btw kalau ada yang suka AU sabilah mampir atuhhh kesini :

https://x.com/JeongwooNunanya/status/1817072931853553935

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang