Bab 39 : Efek Dingin

121 5 0
                                        

"ANJING UDAH MALEM COK!" Teriakan Dita menggelegar memenuhi seluruh villa. Dirinya bergegas membangunkan kedua orang yang tidur disampingnya. "Yang bangun yang! Abi... Bi bangun Bi..." ucap Dita sembari menepuk-nepuk wajah keduanya.

"Euhmmm... Kenapa sih?" tanya Gani yang kembali menutupi dirinya dengan selimut karena merasa terganggu.

Berbeda dengan Gani, Abisatya menurut, mengambil sikap duduk, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Hmmm..." Abi menoleh ke arah jam dinding digital yang terpajang di tembok. "Pantas saja..." gumamnya.

Dita yang melihat setidaknya salah satu dari kedua lelaki itu berhasil dibangunkan bergegas membangunkan orang-orang yang ada disamping kamarnya.

Oh ya untuk pembagian kamarnya dimulai dari kamar paling luas dan ada di pojok kiri, kamar Dita, Gani dan Abisatya. Kamar tengah, ada Lingga, Vanesha dan Mega. Sementara kamar terakhir, kamar yang paling sempit dihuni oleh Dana dan juga Sasya.

Setelah semua penghuni villa terbangun, Dita menyuruh mereka untuk berkumpul di ruang tengah untuk membahas apa yang harus mereka makan di saat seperti ini.

"Ramen atau udon mungkin... Soalnya cuacanya lagi gini enak kalau makan yang anget-anget..." usul Mega yang sudah membayangkan seberapa enak udon asli Jepang. Apakah seenak yang terlihat di dalam anime Naruto, pikirnya.

"Boleh tuh..." ucap Gani yang kemudian diangguki oleh seluruh teman yang setuju dengannya.

"Baiklah..." Sasya mengambil ponselnya, menelpon paman Izumi untuk menanyakan udon yang enak yang tak jauh dari villa mereka. "Udon-shin... hai wakatta..." ucap Sasya memberikan kode kepada Vanesha untuk menelusuri tempatnya.

"Yosh! Mari berangkat!" Semangat Mega kembali membara setelah melihat review dan juga gambar yang terlihat lezat itu dari maps.

Perjalanan dari villa ke tempat kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki. Setelah sampai betapa terkejutnya mereka melihat antrian restoran tersebut cukup panjang.

"Gimana nih?" tanya Vanesha yang berdiri paling depan. Dengan wajah was-was ia menoleh ke arah para sahabat yang ada di belakangnya yang malah nampak exited dan tak masalah untuk menunggu. "Baiklah..." lirih Vanesha kemudian mengulum senyum.

Setelah 1 jam mengantri, akhirnya mereka bisa masuk juga ke dalam restoran yang nampak minimalis itu. Selama berada di dalam restoran mereka hanya diam tanpa sepatah kata apapun. Bahkan meja mereka terpisah karena keterbatasan tempat.

"Akhirnya..." ucap Lingga yang terlebih dahulu keluar dari restoran karena harus bergantian dengan pengunjung yang lain. Kemudian disusul oleh Dita, Mega, dan Gani. Dan terakhir Sasya, Vanesha, Abi dan Dana yang harus menunggu Sasya memesan menu tambahan untuk dibawa pulang.

"Dingin-dingin gini enaknya tawuran gak sih?" celetuk Mega memeluk erat jaketnya karena suhu diluar benar-benar dingin. Bahkan sekarang mencapai -1 derajat.

"Kita gak lagi dirumah sendiri ya kakak. Jadi kalau mau tawuran lo bakal kita tinggal sendirian disini!" ancam Lingga melotot tajam ke arah Mega yang kini tersenyum tak bersalah.

"Balik aja yuk. Nesha gak kuat dingin nih," ucap Dita yang sedari tadi sibuk menghangatkan tubuh mungil Vanesha yang mulai menggigil, kedinginan. Sontak semua temannya mengangguk kemudian merapatkan dirinya mengelilingi Vanesha, agar setidaknya gadis itu merasa hangat.

"Ayok pulang..." Mereka pun kembali berjalan. Namun Langkah mereka sempat terhenti karena Mega dan Abi tiba-tiba saja hilang dari barisan. Lingga yang melihat siluet adiknya sedang berada di sebuah minimarket bersama lelaki jangkung sahabatnya bergegas menghampiri mereka untuk mengetahui apa yang mereka lakukan.

"Ngapain?" tanya Lingga yang sudah berada di hadapan Mega dan Abi sambil berkacak pinggang. Tanpa rasa bersalah, Mega hanya tersenyum kemudian menyodorkan sekantong belanjaan yang sudah mereka beli tadi.

"Vodka? Lo mau mabok?" tanya Lingga mengernyitkan dahinya saat melihat isi kantong belanjaan adiknya.

Mega menggeleng. "Cuma buat ngangetin badan kok. Kalau mabuk ya... Jangan tanya hahahaha," jawabnya. Kemudian ia menarik kedua lelaki itu, menggandengnya disisi kiri dan kanan kemudian keluar dari mini market.

Akhirnya setelah 20 menit, akhirnya mereka sampai kembali ke villa. Dita dan Sasya bergegas membantu Vanesha yang nyaris tidak bisa berdiri karena menggigil ke kamarnya. Menutup tubuh mungil itu dengan selimut tebal untuk menghangatkannya.

"Masih dingin?" tanya Dita setelah merubah Vanesha menjadi manusia selimut gulung. Vanesha mengangguk kemudian menggeleng membuat dua orang di hadapannya, Dita dan Sasya bertatapan penuh tanya.

"Mendingan gais. Makasih ya..." ucap Vanesha dengan senyuman manis.

"AC kamar ini bisa jadi panas kan?" tanya Mega yang tiba-tiba muncul dari belakang Dita membuat Sasya dan Dita terlonjak kaget. "Hehehe maaf gue ngagetin yak? Gue cuma penasaran aja. Katanya di Jepang ada AC tapi panas," tutur Mega.

Sasya mengangguk. "Bisa kok. Coba aja..." ucapnya mengulurkan remote AC kamar kepada Mega. Si kucing putih yang penasaran langsung mengatur suhu ruangan menjadi panas. Bahkan Mega terkejut sendiri saat suhu di ruangan perlahan berangsur hangat.

"SASYAAA PACAR LO MABOKKKK!" Teriakan si badung, Gani sukses membuat kedua perempuan yang tadinya tertawa melihat kelakuan Mega bergegas menuju bawah untuk melihat apa yang terjadi disana.

Di bawah...

Kondisinya sudah sangat tidak aman untuk Sasya dan Dita mendekat.

Abisatya sudah terkapar di pojokan, memukul-mukul tiang karena mengira itu adalah samsak.

Lingga sudah tak berdaya diatas sofa sambil tertawa-tawa.

Dan Gani yang sibuk mencegah Dana yang ingin meminum lagi vodka yang tadi Mega beli.

"Sialan, kenapa bisa gini?!" tanya Sasya dipenuhi amarah. Memang ia tidak seharusnya percaya dengan laki-laki, terutama seperti teman-temannya.

"Huwaaaaaa Ganiiiii... Kenapa orang-orang jahat sih huwaaaaa..." Kan... Baru juga selesai dengan Dana, punggung Gani sudah tertempel oleh makhluk julid bernama Lingga yang kini menangis histeris. "Huwaaaa kenapa Mega selalu larang gue deketin Vanesha.... Kenapa huwaaa..." racau Lingga semakin menjadi-jadi.

"Haishhh... Dasar kakak tidak berguna," ucap Mega melipat tangan didepan dada kemudian menatap sinis Lingga yang tak sengaja bertemu tatap dengannya. "Gentala Lingga..." geram Mega saat Lingga tiba-tiba menjulurkan lidah ke arahnya.

"ABISATYA BANGUN LO! ITU BUKAN SAMSAK TINJU ANJING!" teriak Mega memeluk Abi dari belakang. Tangan berotot itu kini menjadi biru akibat memukul tembok yang keras terus-menerus. Untung saja Mega cepat tanggap, jika tidak, Abi akan berhasil melayangkan bogem mentahnya yang paling kuat. Alhasil tangannya akan berdarah akibat ulah Abi sendiri.

"Kita harus gimana nih?" tanya Gani dengan raut wajah kasian. Kewalahan menghadapi ketiga sahabatnya yang ternyata sudah mabuk duluan daripada dia. Salahkan dirinya terlalu sering mabuk sehingga kadar toleran alkoholnya menjadi tinggi.

"Ini kalau gue bogem mereka satu-satu aja gimana sih? Biar muntah terus sadar..." geram Dita yang kini harus merawat Dana yang sedari tadi menatapnya dengan penuh kekaguman.

"Jangan gila deh..." Akhirnya mereka berempat, Gani, Mega, Sasya, dan Dita harus merawat ketiga pria yang mabuk itu semalaman. Bahkan Gani sempat menggila sebentar karena efek minuman yang sempat ia minum beberapa gelas tadi.

"Lain kali gue gak bakal ijinin lo beli vodka lagi," ujar Lingga yang berangsur sadar setelah muntah barusan. "Maaf kalau gue ngrepotin kalian," ujar Lingga lagi, memalingkan wajahnya yang bersemu kemerahan.

"Larang aja terus! Emang kakak brengsek!" cecar Mega yang kembali dipenuhi amarah karena Lingga seenak jidat melarangnya ini dan itu. Ditambah ia teringat kalau kakak kembarannya itu sempat mengejeknya beberapa saat lalu.

"Kakak?"


- to be continued

BERANDAL KESAYANGANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang