Sebelumnya, hari kemunculan Eugeo
Paling tidak, Vanes sudah mengatakan garis besarnya ketika tiba-tiba mendandani Arin di kamarnya.
"Hm," itu tanggapan Arin. "Menurut Mbak, Ray itu peka, enggak?"
"Hmm, enggak tahu? Peka, mungkin? Berapa kali dia muncul tiba-tiba?"
Arin menghela napas. "Padahal aku ngomongin rumah tadi, tapi dia kayak enggak tergerak ...."
"Rin, tanggung jawab laki-laki itu besar. Pasti dia juga banyak pikiran. Meski kamu bilang enggak apa-apa, tapi ... melihatmu selama ini tinggal di rumah besar, pasti membuatnya agak terbebani." Vanes mengikatkan bandana di kepala Arin. "Nah, cantik! Ayo turun."
"Mbak, kapan nikah?"
Vanes terbatuk. "Nanti," ujarnya, dengan nada agak serius. "Aku akan kasih undangan secepatnya."
Sungguh, Arin merasa senang ketika Ray mengatakannya terang-terangan, di hadapan semua orang tua. Namun, itu belum seratus persen. Masih ada sebagian dirinya yang kurang, kekosongan di hatinya.
Sampai malam itu.
Eugeo. Dia Eugeo. Enggak salah lagi.
Sebuah pencapaian. Memori yang terkunci kini terbuka. Menerjang bagai banjir kenangan, membuat Arin mual mendadak. Ia tersengal, lalu menunduk, berusaha meredakan ingatan yang merasuk tiba-tiba.
Sekian persen yang menghalangi keceriaan Arin, kini sudah menghilang seutuhnya.
Arin sampai tak terlalu peduli Ray yang tiba-tiba kabur. Terlalu banyak yang muncul di benaknya, membuatnya pusing, antusias, dan girang sekaligus.
Kali ini, seluruh Mededader, minus Ray, mengantar Arin—dan Eugeo—sampai depan rumah. Arin masih melonjak-lonjak seperti anak kecil, sementara Eugeo berjalan pelan di belakangnya.
"Assalamualaikum!"
Seperti yang diduga, ruang tengah, tempat pintu samping biasa Arin masuk, kosong. Arin menghela napas. "Harusnya ada yang berjaga di sini."
"Aku lewat pintu depan, tadi," jawab Eugeo pelan.
"Apa kamu diusir satpam?"
"Enggak. Beliau cuma antar sampai depan rumah."
Mungkin, satpamnya mengenal Eugeo. Arin berusaha mengingat siapa-siapa saja yang mungkin tahu.
"Arin, sudah pulang?" Vanes muncul, setengah berlari dari lantai dua. "Maaf, tumben enggak jam biasa ... hah? Ini siapa?!" Vanes terjajar mundur. "Ka-kamu bawa laki ke rumah? Setelah tunangan?!"
"Hah, Dina? Tunangan?" Eugeo terdengar syok.
"Mbak, tunggu!" Arin maju, mengaitkan lengannya ke Vanes, lalu menunjuk Eugeo. "Mbak, enggak kenal dia kah?"
Beberapa detik dilalui dalam keheningan, hingga tiba-tiba Vanes histeris. Begitu mengejutkan, sampai nyaris seisi rumah, termasuk Nuris, berbondong-bondong keluar.
"Tuan ... Tuan!" Vanes sesenggukan. "Mas Indra! Di-dia datang!"
"Siapa?" Indra melongo.
"Kamu ...." Nuris tertegun. "Enggak mungkin ...."
"Dad ...." Suara Eugeo gemetar. "Ini aku. Aku pulang ...."
"Eugeo ...." Tangan Nuris gemetar. Ia maju. "Eugeo!"
Tangisan Nuris pecah. Ia merengkuh Eugeo. "Selamat datang kembali, Eugeo!"
Arin menelan ludah. Satu pikiran mengusik hatinya. Ia dekati Vanes yang masih mengusap air mata. "Mbak ... apa di sini, yang lupa soal Eugeo itu cuma aku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Past (rewrite)
Romance[Cerita #1 Ours Series] Ada sebuah misi untuk menyatukan dua insan senatural mungkin. Nyatanya, misi itu merembet ke mana-mana, sampai menyinggung masa lalu yang rumit dan menyakitkan. [NA, Romance, Drama] ** story and cover by zzztare2024
