Fajar menyingsing di langit kelabu.
Ray sedang duduk di atas batu yang berembun, di tepi danau. Tempat favoritnya di pagi hari sejak masih kecil. Kadang, kenangan lalu mengusiknya. Masa-masa ketika ia pernah terjebur dan tenggelam ke dalam danau, yang untung masih bisa diselamatkan Iskandar. Setelahnya, Ray agak trauma. Memang terdengar agak menggelikan, ada danau di belakang rumah, tetapi tidak bisa berenang. Salah satu alasan Ray tidak menggembor-gemborkan posisi rumahnya pada siapa pun.
Entah sudah berapa jam Ray duduk di sana. Ia melamunkan mimpi semalam. Ya, semalam, mimpi aneh datang lagi. Aneh, karena lagi-lagi, ada Arin. Mereka bicara, meski Ray lupa apa. Pokoknya ada. Ia hanya ingat akhirnya, ketika suasana di sekitarnya mendadak berkelipan dan beriak seperti permukaan air tenang yang dilempari batu. Ia memejam sesekali, merasakan semilir angin. Meski tak bisa berenang, Ray tahan banting, termasuk oleh angin pegunungan pagi hari yang membawa sisa-sisa hujan dini hari tadi. Dingin. Ia merapatkan jaketnya, mulutnya masih komat-kamit melantunkan zikir pagi.
Bukan tanpa alasan Ray kena cap sebagai "anak alim." Keluarga kecilnya itu bisa disebut cukup agamis, kalau melihat Iskandar yang hobi memakai peci atau kopiah dan Siti yang berkerudung. Tahun 1996, meski penggunaan kerudung mulai marak, tetapi di Kota Gunung yang terpencil itu, belum terlalu banyak yang terang-terangan memakainya.
Mungkin, karena itulah, sedikit tumbuh kekaguman Ray pada Dina—Arin, maksudnya. Ketika SMP, mana Ray peduli soal kerudung. Ia hanya tahu, karena itu, Dina jadi sangat mencolok. Namun, seiring luas pengetahuan, semakin Ray paham apa itu kewajiban.
Kembali ke keluarga kecil Ray, mereka sudah terbiasa salat wajib berjamaah, membiasakan zikir tiap pagi dan sore, juga merutinkan mengaji tiap hari. Karena itu, Ray mulai agak sangsi dengan pikiran piciknya dulu. Sepertinya, masih lazim jika ada pesantren yang memperbolehkan musik.
Ray menggelengkan kepalanya. Suasana sudah cerah, meski langit penuh awan. Zikirnya sudah usai. Ia masih bersantai sambil memetik beberapa buah kersen yang menggantung dari dahan pohon di atasnya dan mengulumnya. Inilah surga dunia bagi Ray, mungkin hal yang paling ia rindukan selama di kampung nanti. Ray bangkit, menepuk-nepuk celananya yang basah akibat embun, lalu kembali ke rumah.
Ini hari terakhirnya di sini untuk dua tahun ke depan.
Tak banyak rutinitas yang berubah. Pagi sampai siang, Ray merapikan rumah dan halaman sekaligus mendengar petuah Siti akan macam-macam. Siang sampai sore, ia membantu Iskandar di bengkel, sekaligus memperhatikan bagaimana ayahnya merakit biola. Butuh ketelitian dan kesabaran ekstra yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Ray menghela napas, berpikir bahwa mungkin ia bisa belajar untuk lebih sabar dengan membuat biola nantinya.
Malam harinya, keluarga kecil itu bersiap pergi. Siti membawa keranjang, kali ini lebih bagus dari biasanya, diberi hiasan pita sana-sini. Isinya tiga stoples kue yang sudah dibuat sejak kemarin. Mereka menaiki bus hingga halte tak jauh dari alun-alun kota. Ray mengendap-endap sejak tadi. Ia benar-benar tak ingin ketahuan grup Mededader.
Rumah besar itu masih bercahaya terang. Karangan bunga masih berjejer di halaman. Para tamu juga masih banyak yang datang. Ray bersyukur, setidaknya ia tidak akan tengsin seperti jika hanya bertiga dengan orang tuanya.
Mister menyambut mereka dan menerima keranjang dari Siti. Tampaknya, beliau sudah lebih baik. Ray menyalaminya.
"Apakah kamu bertemu anakku di alun-alun?" tanya Mister.
"Eh ... hari ini saya enggak ke alun-alun," jawab Ray, gagap.
"Ya, kemarin-kemarin. Kalau hari ini ketemu, horor dong. Dia di kamarnya dari tadi."
Ray membelalak. Gimana ini kalau ketemu? "Kok tumben, Mister?"
Mister menghela napas. "Sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Past (rewrite)
Romance[Cerita #1 Ours Series] Ada sebuah misi untuk menyatukan dua insan senatural mungkin. Nyatanya, misi itu merembet ke mana-mana, sampai menyinggung masa lalu yang rumit dan menyakitkan. [NA, Romance, Drama] ** story and cover by zzztare2024
