Gadis Berkerudung

31 5 0
                                        

Memang Dina sengaja menarik diri.

Ia banyak diam di sekolah, ia tidak berusaha untuk membaur dan mengobrol dengan sekitar, bahkan ketika ia yang diajak bicara duluan, jawaban Dina hanya pendek-pendek, seolah menegaskan bahwa ia tak tertarik berteman.

Kalau ditanya alasan, sejujurnya, Dina juga tidak tahu. Seperti ada yang membuatnya begini. Padahal, kalau ingatannya tidak menyalahi pikirannya, Dina selama SD adalah sosok anak yang ceria dan hobi bicara. Saat itu, ia belum memakai kerudung. Apa itu alasannya?

Dina menggeleng. Jangan salahkan kerudung. Rambut itu aurat, harus ditutupi.

Hampir dua pekan, Dina tidak masuk sekolah karena tipes. Ah, ia kapok jajan sembarangan lagi, meski waktu itu es berwarna merah muda itu begitu menggodanya. Belum lagi masalah yang muncul begitu ia masuk dan langsung disambut pelajaran Seni Musik. Pak Hanu ternyata memasangkannya dengan Ray!

Mengapa Dina menganggap itu masalah?

Sederhana saja, karena Ray sangat jutek. Jika dengan social butterfly seperti Agnes saja Dina tidak bisa mengobrol banyak, bagaimana dengan lelaki yang dijuluki cowok PMS itu?

Mungkin, terlalu banyak pikiran yang membuat Dina bicara lebih banyak dari biasanya.

"Kamu, bisanya, main biola doang, 'kan? Aku akan mengikutimu karena itu yang kamu bisa. Jangan anggap aku menghinamu. Ya sudah, aku main kibor saja."

Mungkin, itu adalah ucapan Dina yang terpanjang dalam satu tarikan napas selama ia bersekolah di sini.

Baiklah, itu sudah lewat. Masalah baru kini muncul: Agnes.

Siapa pun tahu, selain Ray, Agnes juga adalah musisi berbakat di kelas mereka. Ketika wacana pengambilan nilai duet diembuskan beberapa waktu lalu, seisi kelas menduga kalau Pak Hanu akan memasangkan Ray dengan Agnes, sebagai pemain biola dan pengiringnya. Bukan hanya piano, Agnes juga pandai bernyanyi. Ia tidak ragu tampil di mana pun, sangat percaya diri memegang mikrofon dan bicara di depan umum. Kebalikan Dina, pokoknya.

Agnes yang mendadak sok dekat itu membuat Dina risi.

"Kamu kok enggak bilang kalau bisa main piano?"

Dina merengut, untungnya tidak terlihat Agnes. Buat apa aku bilang?

Gadis berambut sebahu dengan jepit gambar kartun terkenal itu tidak menyerah untuk memancing jawaban Dina. "Kamu les? Apa privat? Atau ... otodidak?"

Dina masih berusaha memikirkan cara menjawabnya ketika Agnes kembali memberondongnya dengan pertanyaan.

"Rumahmu di mana, sih, Din? Kamu tuh dateng paling pagi, pulang paling terakhir."

"Kamu mau buntutin?"

Agnes kaget, begitu pula Dina. Dina langsung merutuki ucapannya yang terlampau defensif itu. "Sori. Maksudku ... enggak apa-apa, 'kan?"

"Yo, enggak papa. Cuma, kayaknya, kamu sengaja biar enggak ada barengan?"

Dina kini menunduk. "Sori, lagi. Selalu ada alasan seseorang jadi tertutup, 'kan?"

Agnes diam sejenak, mungkin menyesali wawancara dadakannya, mungkin juga merenungi kesalahannya—

"Kenapa kamu pendiam?"

Ya Allah! Kok ditanya lagi?

Dina menarik napas panjang. "Aku ralat kalimatku tadi. Selalu ada alasan seseorang jadi tertutup, dan enggak semua alasan boleh diumbar. Oke?"

Harusnya, jika peka sedikit, Dina sudah menyalakan lampu merah untuk Agnes, alias mengusirnya. Namun, dasar bebal, Agnes masih terus merepet.

"Sekali-sekali kita duet piano bisa kali. Kamu belajar pakai metode apa? Main lagu klasik atau pop? Pernah tampil?"

Our Past (rewrite)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang