Ekstra II: Di Kampung Pelabuhan

23 1 2
                                        

Ray mengusap peluh di keningnya.

Hari ini terlampau panas dibanding hari-hari biasa. Hawa lembap naik dari laut, bercampur dengan udara yang pekat menggantung, mengandung bau amis dari ikan-ikan yang dikeringkan.

Ray ingin kabur saja dari kewajibannya menjemur pakaian-miliknya sendiri. Apalagi Jordan sejak tadi lekat di kakinya, tak kenal panas atau hujan, tetap meminta untuk digendong ke bendungan. Alif tak jauh dari tempat Ray, mengaduk dedak sambil bersiul-siul. Ia baru saja sidang skripsi dan dinyatakan lulus, sekarang sedang masa denial revisi.

"Sebentar lagi pulang, Ray?" sapa Alif sambil mengangkut ember. "Kenapa ortumu enggak pernah jenguk kamu? Dibuang, ya?"

Ray yang sedang kepanasan, tambah mendidih mendengarnya. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. "Lif, tolong singkirkan Jordan. Dia nemplok melulu."

"Enggak ah, aku mau kasih makan ayam." Alif berlalu sambil tertawa-tawa.

Ray mendengkus. Ia akhirnya memutuskan untuk bermain-main dengan Jordan di antara jemuran sampai anak kecil itu lelah sendiri. Barulah Ray bisa menjemur pakaiannya dengan leluasa, meski energi yang keluar berlipat-lipat.

Saat kembali ke kamar, niat mendinginkan diri di depan kipas sambil mengulum es mambo, Ray malah kembali disuguhi kelakuan yang membuatnya makin gerah.

"Kenapa dia tiba-tiba galau di pojok kamar?!" Ray menunjuk ke salah satu sudut, di mana seseorang meringkuk di hadapan kipas. Itu Alif, yang tadi tertawa-tawa, mendadak muram.

"Habis dapat surat," jawab Himan sambil sibuk merapikan kertas-kertas entah apa.

"Surat?" Ray memicing.

"Surat yang isinya bilang kalau dia mau fokus penelitian dulu ... alias, dia dicampakkan!"

"Diam!" Alif berseru tanpa bergerak di pojokan.

"Kalian punya cewek?" tanya Ray.

"Kok kalian. Alif itu!" Himan tak terima.

Tok tok tok

Tiga orang di kamar itu langsung menoleh ke arah pintu.

"Ya? Masuk!" seru Himan.

Seraut wajah muncul dari balik pintu. Itu anak sulung Hasan, Rizki, masih SMP. "Kak Ray?"

"Ya?" Ray menoleh.

"Dipanggil Babeh."

Ray melayangkan lirikan sekilas pada dua kawan sekamarnya sebelum melangkah mengikuti Rizki. Agak jauh mereka berjalan sampai di bangunan paling belakang. Rizki mengetuk pintu salah satu ruangan di sana, kantor milik Hasan yang langsung tersambung dengan rumahnya, satu-satunya rumah keluarga yang terhubung dengan rumah utama.

"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.

Ray pun masuk. Tampak Hasan sedang memilah-milah dokumen entah apa di dalam sebuah map. Hasan mengangguk pada Rizki dan mempersilakannya pergi.

"Ray, duduk dulu sini." Hasan menunjuk sebuah bangku. "Jangan gemetar. Kamu Lik panggil bukan buat dihukum."

Ray nyengir sedikit. Ia tidak langganan kena hukuman, tetapi pernah beberapa kali masuk ke sana karena berulah ketika jam belajar malam. Ray mengiakan lalu duduk di bangku yang ditunjuk Hasan. Ia sempat memperhatikan ruangan itu sekilas. Sebuah kabinet, lemari besar, meja dan kursi kantoran, serta beberapa bangku. Khas kantor guru.

"Kamu pulang kapan?"

Ray menekuri lantai. "Lusa, paling cepat," gumamnya. Kilasan memori menjelang kepergiannya kembali terulang. Ia mengangkat wajah, dan mencoba tersenyum. Mulai ada rasa terikat dengan tempat ini, Ray sedih juga harus kembali.

Our Past (rewrite)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang