Alasan Bertahan

1.5K 152 33
                                        

Setelah sekitar dua puluh menit terbaring tanpa kesadaran di atas brankar yang dingin dan kaku, tubuh Lian perlahan mulai memberikan respon kecil terhadap rangsangan di sekitarnya.

Napasnya yang sempat tersengal kini berangsur teratur, meskipun masih berat dan tertatih, seolah setiap tarikan udara harus ia perjuangkan dari dalam dada yang masih dipenuhi beban.

Denyut nadinya yang tadi melemah kini mulai kembali stabil, berdetak pelan namun pasti, sementara kelopak matanya yang sejak tadi tertutup rapat mulai bergetar halus, seperti seseorang yang sedang berusaha keluar dari mimpi panjang yang melelahkan.

Beberapa detik berlalu dengan terasa begitu lama, hingga akhirnya Lian mampu membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram, berputar samar, dan kepalanya terasa begitu berat, seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat. Namun di tengah semua rasa itu, hanya ada satu hal yang langsung memenuhi kesadarannya, Salsa. Nama itu seolah menjadi satu-satunya alasan ia kembali membuka mata.

Tanpa memberi waktu bagi tubuhnya untuk benar-benar pulih, Lian langsung berusaha bangkit. Tangannya menekan permukaan brankar dengan terburu-buru, memaksa tubuhnya untuk tegak meski otot-ototnya belum sepenuhnya kuat menopang. Tubuhnya sempat oleng, hampir kembali jatuh, namun ia menahan diri, menggertakkan rahangnya, memaksa kesadarannya tetap utuh.

Matanya bergerak cepat ke segala arah, menelusuri setiap sudut ruangan yang terasa asing dan kosong. Tidak ada sosok yang ia cari. Tidak ada Salsa. Hanya kursi-kursi kosong yang tersusun rapi, meja kecil dengan kotak tisu dan ember plastik di sampingnya, serta beberapa alat medis yang berdiri diam di sudut ruangan, seolah menjadi saksi bisu dari semua yang telah terjadi.

"Salsa!" panggilnya dengan suara serak, parau, namun sarat dengan kepanikan yang tak mampu ia sembunyikan. Suaranya menggema pelan di dalam ruangan, terdengar rapuh namun mendesak.

Tangannya mencengkeram sisi brankar dengan kuat hingga buku-buku jarinya memucat, berusaha menahan tubuhnya yang masih belum sepenuhnya stabil. Ia mencoba berdiri, tergesa-gesa, namun kaki kirinya terasa lemah dan hampir membuatnya tersungkur ke lantai.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan cukup cepat. Keluarga Lian yang sejak tadi menunggu di luar langsung masuk secara bersamaan, wajah-wajah mereka yang dipenuhi kecemasan perlahan berubah menjadi kelegaan saat melihat Lian sudah sadar.

Bunda Yati menjadi orang pertama yang bergerak mendekat, langkahnya cepat namun tetap hati-hati, kedua tangannya langsung terulur untuk menopang tubuh anaknya yang nyaris jatuh.

"Hei, hei… mau ke mana?" ucap Bunda Yati dengan suara lembut namun tegas, tangannya menahan bahu Lian agar tidak kehilangan keseimbangan. Wajahnya penuh kasih, meskipun gurat kekhawatiran masih jelas terlihat di matanya. "Diem dulu sebentar, Li… kamu baru aja sadar. Tubuh kamu masih lemah, jangan dipaksa."

Namun Lian seolah tidak benar-benar mendengar. Fokusnya hanya satu. Matanya yang memerah terus mencari ke balik bahu-bahu keluarganya, berharap menemukan sosok yang ia rindukan. Napasnya kembali memburu, dan ia berusaha melepaskan diri dari pegangan ibunya, meski dengan tenaga yang masih terbatas.

"Bund… Salsa di mana?" suaranya bergetar, penuh kecemasan yang menyesakkan. "Istri Lian di mana, Bund? Tolong bilang sama Lian… Salsa selamat, kan? Tadi dokter bilang…" Kalimatnya terhenti begitu saja. Bibirnya bergetar, dan kenangan akan kata-kata dokter sebelumnya kembali menghantam pikirannya seperti gelombang yang tak bisa ia hindari.

Bunda Yati menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sebelum kembali menatap Lian. Tangannya mengusap rambut anaknya yang berantakan dengan lembut, penuh kasih sayang yang tak pernah berkurang. Meski matanya mulai berkaca-kaca, ia tetap berusaha tersenyum.

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang