Salsa yang sejak tadi berdiri di area garasi menatap deretan mobil yang terparkir rapi di depannya tiba-tiba menunjuk salah satunya dengan ekspresi antusias. Matanya langsung berbinar seperti anak kecil yang baru melihat sesuatu yang sangat ia inginkan.
"Gak mau mobil yang itu," rengek Salsa sambil menggeleng pelan melihat kunci mobil yang dipegang oleh suaminya.
Tangannya masih menunjuk ke arah mobil lain yang terparkir beberapa langkah dari mereka. "Mau yang ini ajaaa." Nada suaranya memanjang manja, jelas-jelas sedang merajuk.
Mobil yang ia tunjuk adalah mobil listrik Tesla yang berdiri dengan bodinya yang mengkilap di bawah cahaya matahari pagi.
Lian yang berdiri di sampingnya langsung menoleh ke arah mobil yang dimaksud Salsa. Ia lalu kembali menatap istrinya dengan alis yang sedikit terangkat, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung yang bercampur geli.
"Kan sama aja, sayang," ucap Lian dengan nada lembut. "Apa bedanya?" Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Salsa yang masih berdiri dengan ekspresi keras kepala itu.
Salsa langsung menoleh cepat ke arah Lian, bibirnya sedikit mengerucut. "Tapi aku maunya yang ini, Lian..." rengeknya lagi. Kali ini ia bahkan menghentakkan kakinya pelan ke lantai seperti anak kecil yang sedang memaksa keinginannya dituruti.
Gerakan itu benar-benar membuatnya terlihat menggemaskan.
Lian langsung tertawa kecil melihat tingkah istrinya. Wajahnya berubah penuh kehangatan, tatapannya dipenuhi rasa gemas yang jelas sekali tidak bisa ia sembunyikan.
"Kamu ini ya..." gumamnya sambil menggeleng pelan.
Salsa tetap berdiri dengan posisi yang sama, kedua tangannya menyilang di depan dada seolah benar-benar menunggu keputusan Lian.
"Mau yang ini aja," ulang Salsa lagi dengan suara yang lebih pelan, tapi masih terdengar manja.
Lian akhirnya menghela napas panjang, namun sudut bibirnya tetap terangkat dalam senyum yang tidak hilang.
Kalau Salsa sudah mulai merajuk seperti ini, hampir tidak pernah ada cara untuk menolaknya. "Iyaudah, iyaudah..." ucap Lian akhirnya menyerah.
Ia mengangkat kedua tangannya seolah mengibarkan bendera putih. "Tunggu aku ambil key card-nya dulu." Nada suaranya terdengar pasrah, tapi jelas terselip tawa kecil di dalamnya.
Begitu mendengar itu, wajah Salsa langsung berubah cerah seketika. Senyumnya melebar lebar, matanya bahkan terlihat semakin berbinar.
Ia langsung mengangguk cepat seperti anak kecil yang baru saja dikabulkan permintaannya. "Iya!" jawabnya dengan semangat.
Lian hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum melihat reaksi istrinya yang begitu polos dan menggemaskan. Ia lalu berjalan beberapa langkah untuk mengambil key card mobil tersebut.
Sementara itu, Salsa berdiri menunggu dengan perasaan senang yang jelas terpancar dari wajahnya. Tangannya tanpa sadar kembali mengusap perutnya yang mulai membesar.
Hari ini memang sudah mereka rencanakan sejak beberapa hari lalu. Mereka akan pergi berbelanja. Bukan untuk diri mereka sendiri. Melainkan untuk calon anak mereka yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Salsa sudah membuat daftar panjang berisi berbagai kebutuhan bayi yang ingin ia beli. Mulai dari baju bayi, selimut kecil, kaus kaki mungil, hingga perlengkapan lainnya yang menurutnya wajib ada.
Sejak pagi tadi ia sudah terlihat sangat bersemangat. Baginya, membeli barang-barang kecil untuk bayi mereka bukan sekadar belanja biasa.
Melainkan seperti menyiapkan potongan-potongan kecil kebahagiaan untuk kehidupan baru yang akan segera hadir di tengah-tengah mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
