Sore itu, suasana ruang rawat inap Salsa yang sejak tadi terasa tenang perlahan berubah menjadi lebih hangat ketika satu per satu anggota keluarga mulai berdatangan.
Kedua orang tua Lian hadir, diikuti oleh kedua orang tua Salsa yang sejak pagi sudah menahan rindu dan kekhawatiran yang begitu dalam. Sementara itu, Qiyyah dan Nando sudah lebih dulu pamit pulang sejak siang, memberi ruang bagi keluarga inti untuk berkumpul.
"Mama kangen banget sama kamu, Nak…" ucap Mama Rita dengan suara yang bergetar, penuh haru yang selama ini ia tahan.
Tangannya mengusap punggung Salsa dengan lembut, seperti dulu saat menenangkannya di masa kecil. "Alhamdulillah… anak Mama kuat… makasih ya, sayang… makasih udah bertahan…" lanjutnya lirih, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Ia kemudian sedikit menjauh hanya untuk bisa menatap wajah putrinya dengan lebih jelas, memastikan bahwa senyum itu benar-benar kembali. Dengan penuh kasih, ia mengecup pipi Salsa berkali-kali, seolah tak ingin melewatkan satu detik pun dari momen berharga itu.
Salsa yang masih berada dalam kondisi lemah, perlahan membalas pelukan ibunya. Tangannya yang masih belum sekuat biasanya tetap berusaha memeluk, menyampaikan rasa rindunya yang tak kalah besar. Ia mengangguk pelan, matanya ikut berkaca-kaca.
"Salsa juga kangen sama Mama…" ucapnya lirih, suaranya lembut namun penuh kehangatan. Ia menempelkan pipinya sejenak di bahu ibunya, menikmati kembali rasa nyaman yang selama ini hanya bisa ia rasakan dari jauh, dalam kesadarannya yang samar.
Tak jauh dari mereka, Papa Denis berdiri dengan tatapan yang tak kalah haru. Meski berusaha terlihat tegar, sorot matanya jelas menunjukkan betapa besar rasa syukur yang ia rasakan saat ini.
Ia kemudian melangkah mendekat, berdiri di samping brankar, lalu dengan penuh kelembutan mengecup kening putri satu-satunya yang begitu ia sayangi.
"Anak Papa…" ucapnya pelan, suaranya dalam dan sedikit tertahan. Tangannya mengusap kepala Salsa dengan penuh kasih, gerakannya pelan, seolah takut menyakiti. "Makasih udah kuat ya…" lanjutnya, menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya.
Salsa menoleh sedikit ke arah ayahnya, menatap wajah yang selama ini selalu menjadi pelindungnya. Senyum kecil terukir di bibirnya, sederhana namun penuh arti. Kehangatan keluarga itu kini memenuhi ruangan, menggantikan rasa sepi dan kecemasan yang selama ini menyelimuti.
Bunda Yati yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sisi brankar akhirnya melangkah mendekat. Wajahnya yang berusaha tegar tak mampu lagi menyembunyikan getaran emosi yang sejak tadi ia tahan. Dengan langkah perlahan, ia meraih kepala Salsa, lalu mengecupnya lembut di atas hijab yang membalut rapi.
"Makasih ya, Nak… udah bertahan…" ucapnya dengan suara yang bergetar, nyaris pecah di ujung kalimat. Tak menunggu lama, Bunda Yati langsung merangkul tubuh Salsa dengan hati-hati, seolah takut menyakiti tubuh yang masih lemah itu.
Pelukannya hangat, penuh kasih, namun juga sarat ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. Air matanya jatuh tanpa henti, membasahi bahu Salsa.
"Bunda takut banget kehilangan kamu…" lanjutnya lirih, suaranya semakin bergetar. Tangannya mengusap pelan kepala Salsa yang terbalut hijab, gerakannya lembut dan penuh sayang, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya setelah melewati badai panjang.
Salsa yang masih dalam kondisi lemah berusaha membalas pelukan itu. Tubuhnya terasa berat, namun perlahan ia mengangkat tangannya, melingkarkannya di punggung Bunda Yati meski tak seerat yang ia inginkan.
"Bunda…" panggilnya lirih, suaranya serak, hampir seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Air matanya ikut jatuh, mengalir perlahan di pipinya yang masih pucat. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan hangatnya pelukan itu, sebelum akhirnya kembali membuka matanya dengan susah payah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
