Rindu Terbalas

1.5K 168 34
                                        

Pagi itu, suasana di ruang rawat inap terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya matahari yang lembut mulai masuk melalui celah tirai, menyusup perlahan dan menyelimuti ruangan dengan nuansa keemasan yang menenangkan. Udara pagi yang segar seakan membawa harapan baru, meskipun keheningan masih setia menemani.

Lian baru saja selesai membersihkan tubuh istrinya dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran. Setiap gerakannya dilakukan dengan lembut, seolah ia sedang merawat sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Ia menggantikan pakaian Salsa dengan yang bersih, merapikannya dengan telaten, memastikan tidak ada satu pun bagian yang terasa tidak nyaman.

Sementara itu, di balkon ruang rawat inap, Nando dan Qiyyah sedang menjemur putri kecil Lian di bawah hangatnya sinar matahari pagi.

Lian berdiri di sisi brankar, menatap istrinya dengan senyum tipis yang sarat makna. Tangannya terangkat perlahan, membetulkan hijab bergo yang kini terpasang rapi di kepala Salsa. Jemarinya merapikan bagian yang sedikit miring, memastikan semuanya tampak sempurna seperti yang selalu diinginkannya.

"Udah cantik... udah wangi istri aku..." ucapnya pelan, suaranya hangat, hampir seperti bisikan yang penuh cinta.

Matanya tidak lepas dari wajah Salsa yang masih terpejam. Ia menunduk sedikit, lalu mengelus pipi istrinya dengan punggung jari, sentuhan yang begitu lembut seolah takut mengganggu tidurnya.

"Biasanya pagi-pagi kayak gini..." lanjutnya dengan nada yang sedikit berubah, ada rindu yang terselip di dalamnya, "suaminya udah dipeluk, dicium, terus dimarahin juga kalau belum sarapan..." Ia tersenyum kecil, mengingat kebiasaan yang kini terasa begitu jauh. "Aku kangen, tau..."

Tangannya masih setia mengusap pipi Salsa, seolah berharap sentuhan itu bisa sampai ke dalam kesadarannya.

"Kamu nggak kangen apa sama aku?" tanyanya pelan, suaranya melembut. "Nggak kangen lihat muka suaminya yang paling ganteng se dunia ini?"

Ia terkekeh pelan setelah mengucapkan itu, mencoba mencairkan suasana meskipun matanya tetap menyimpan kerinduan yang dalam. Tanpa ragu, ia menunduk dan mengecup pipi Salsa dengan lembut, menahan diri agar tidak terlalu lama, seolah menjaga agar perasaannya tidak tumpah sepenuhnya.

Lian kemudian menarik napas panjang, menatap wajah istrinya sekali lagi dengan penuh harap.

"Cepet bangun ya, Ibu cantik..." ucapnya lirih, suaranya hampir seperti doa yang dipanjatkan dari lubuk hati terdalam.

Ia kembali mengecup kening Salsa dengan penuh kelembutan, seolah menyalurkan seluruh cintanya dalam satu sentuhan singkat itu.

Setelah itu, Lian melangkah pelan menjauh beberapa langkah, tangannya terulur untuk membuka gorden yang sebelumnya menutupi brankar saat ia membersihkan tubuh dan mengganti pakaian istrinya. Tirai itu terbuka perlahan, membiarkan cahaya pagi masuk lebih leluasa, menerangi wajah Salsa yang tampak tenang.

Sinar matahari itu jatuh tepat di wajahnya, seolah ikut membangunkannya dengan cara yang paling lembut.

Lian berdiri sejenak di sana, memandang istrinya yang terbaring dalam diam, dengan harapan yang tak pernah benar-benar padam di dalam dadanya.

Tak lama kemudian, pintu ruang rawat inap itu kembali terbuka dengan perlahan. Qiyyah dan Nando masuk sambil membawa suasana yang sedikit lebih hidup dari balkon. Di tangan Qiyyah, box bayi didorong dengan hati-hati, sementara Nando berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke arah bayi mungil yang kini sudah terlelap dengan tenang.

Mereka menghampiri sisi ruangan dan dengan gerakan perlahan, Qiyyah menempatkan box bayi itu di posisi semula, dekat dengan brankar Salsa. Bayi kecil itu tampak begitu damai, napasnya naik turun dengan ritme lembut, pipinya yang chubby sedikit memerah terkena sisa hangat matahari pagi.

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang