Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian yang hampir merenggut segalanya, namun waktu seakan berjalan begitu lambat di dalam ruangan rawat inap itu.
Salsa masih terbaring lemah di atas brankar, tubuhnya diam dalam buaian koma yang belum juga melepaskannya kembali ke dunia nyata.
Meski kesadaran belum datang menyapa, ada perubahan kecil yang mulai terasa, perubahan yang mungkin tak terlihat jelas bagi orang lain, tetapi cukup untuk menumbuhkan harapan bagi mereka yang menunggu dengan setia.
Perlahan namun pasti, kondisi tubuh Salsa menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Wajahnya yang sebelumnya pucat kini mulai sedikit mendapatkan warna, napasnya terdengar lebih teratur, dan alat-alat medis yang dulu mengelilingi tubuhnya satu per satu telah dilepas oleh dokter. Hanya beberapa alat pemantau yang masih terpasang, memastikan bahwa setiap detak jantungnya tetap terjaga dengan baik.
Kabar baik tak hanya datang dari Salsa. Putri kecil mereka, yang sebelumnya harus berjuang di dalam ruang ICU, kini juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.
Tubuh mungil itu semakin kuat dari hari ke hari, tangisannya mulai terdengar lebih jelas, dan gerakannya semakin aktif. Hingga akhirnya, dokter memperbolehkannya dipindahkan dari ICU ke ruangan yang sama dengan ibunya, sebuah kebahagiaan kecil yang terasa begitu besar di tengah segala yang telah terjadi.
Kini, di dalam satu ruangan itu, ada dua nyawa yang sama-sama diperjuangkan… dan satu hati yang tak pernah berhenti menjaga keduanya.
Lian. Ia duduk di samping brankar Salsa, tubuhnya sedikit condong ke depan, sementara tangannya dengan lembut menggenggam jemari istrinya yang masih terkulai lemah.
Sentuhannya hangat, penuh kesabaran, seolah ia sedang berbicara melalui kulit yang saling bersentuhan itu.
Matanya menatap wajah Salsa dengan penuh kelembutan, menyimpan ribuan kata yang tak pernah habis untuk diucapkan.
"Kapan mau bangun, sayang?" ucapnya pelan, suaranya lembut namun sarat dengan rindu yang tak bisa lagi disembunyikan. Jemarinya mengusap punggung tangan Salsa dengan gerakan perlahan, berulang-ulang, seperti kebiasaan yang sudah melekat begitu dalam.
Ia teringat pada ucapan dokter, bahwa meskipun Salsa belum bisa membuka mata, ada kemungkinan ia masih bisa mendengar. Bahwa suara, sentuhan, dan kehadiran orang yang ia cintai bisa menjadi jembatan untuk menariknya kembali.
Dan sejak saat itu, Lian tidak pernah berhenti berbicara. Ia ingin memastikan, di tengah sunyi yang mungkin dirasakan Salsa, ada suara yang tetap menuntunnya pulang.
"Anaknya udah ada di sini loh…" lanjutnya dengan nada yang sedikit lebih ringan, mencoba menyelipkan kehangatan di antara harap yang panjang. Ia menoleh sekilas ke arah bayi mereka yang terbaring di box kecil di samping ranjang, lalu kembali menatap Salsa.
"Pengen digendong sama Ibunya…" katanya lagi, suaranya melembut. "Ayahnya juga… kangen… pengen dipeluk sama kamu…" Senyum kecil terbit di wajahnya.
Ruangan itu terasa begitu sunyi, namun tidak benar-benar kosong. Ada suara napas, detak mesin, dan bisikan doa yang tak pernah berhenti mengalir dari hati seorang suami yang setia menunggu.
Hari itu, Lian benar-benar hanya sendiri. Sejak pagi, keluarga telah berpamitan untuk pulang. Tanggung jawab pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan memaksa mereka untuk kembali ke rutinitas, meskipun hati mereka masih tertinggal di ruangan itu.
Namun mereka pergi dengan tenang, karena tahu Lian tidak akan meninggalkan Salsa dan anaknya sedetik pun.
Lian menoleh ke arah putrinya, memastikan bayi kecil itu tetap nyaman dan tenang. Setelah itu, pandangannya selalu kembali pada Salsa, seolah seluruh dunianya memang hanya berpusat pada wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
