Siang itu suasana rumah terasa tenang dan hangat. Cahaya matahari yang masuk dari jendela ruang tamu menerangi lantai rumah dengan lembut. Di tengah ketenangan itu, Salsa sudah bersiap-siap hendak pergi keluar rumah.
Di tangannya sudah ada sebuah kotak bekal makan siang yang ia pegang dengan hati-hati. Bekal itu ia siapkan sendiri sejak tadi pagi khusus untuk suaminya.
Ia berdiri di dekat pintu depan, mengenakan dress hamil yang longgar dan nyaman. Perutnya yang mulai membesar terlihat jelas, namun hal itu tidak mengurangi gerakan lincahnya sama sekali.
Mama Rita yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan putrinya dengan tatapan penuh perhatian. "Hati-hati ya," ucap Mama Rita lembut.
Entah mengapa, sejak tadi pagi hatinya terasa sedikit tidak tenang. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan, membuatnya ingin terus memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.
Salsa langsung menoleh sambil tersenyum lebar. "Iya mamaaaa," jawabnya dengan nada manja yang dipanjangkan. "Kan dianterin supir."
Ia mengangkat sedikit kotak bekal di tangannya, seolah menunjukkan tujuannya pergi. "Salsa berangkat ya," lanjutnya.
Tangannya yang lain memegang ponsel, lalu matanya melirik ke arah jam yang tertera di layar. "Lian istirahat dua puluh menit lagi," tambahnya sambil mengerutkan kening kecil, memastikan waktunya pas.
Papa Denis yang sejak tadi duduk santai di sofa ruang tamu ikut memperhatikan putrinya. Ia tersenyum kecil melihat kesibukan Salsa yang terlihat begitu bersemangat hanya untuk mengantarkan makan siang suaminya.
"Iya, gih," ucap Papa Denis santai. "Langsung samperin suaminya loh ya. Jangan kemana-mana lagi." Nada suaranya terdengar seperti peringatan ringan, tapi tetap disertai senyum.
Ia kemudian berdiri sedikit dari duduknya dan mendekat ke arah Salsa. Tanpa ragu, Papa Denis mengecup pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.
Salsa tertawa kecil menerima kecupan itu. "Iya Papaa," jawabnya ringan.
Namun sebelum benar-benar keluar rumah, tiba-tiba saja ekspresi jahil muncul di wajahnya.
Dengan cepat ia menepuk perut ayahnya yang sedikit buncit beberapa kali. "Papa juga jaga perutnya ya," celetuk Salsa dengan nada menggoda.
Setelah itu, tanpa menunggu reaksi lebih lama, ia langsung berlari kecil menuju pintu keluar rumah.
Papa Denis langsung melongo sebentar. "Dasar anak itu..." gumamnya sambil mengelus perutnya sendiri yang baru saja ditepuk.
Dari belakang, Mama Rita langsung berseru dengan nada khawatir. "Jangan lari, Ca!" Namun Salsa sudah lebih dulu keluar rumah sambil tertawa kecil.
Mama Rita hanya bisa menghela napas pelan melihat tingkah putrinya yang masih saja bertingkah seperti anak kecil meskipun sudah menjadi istri dan sebentar lagi akan menjadi ibu.
Ia lalu menoleh ke arah suaminya dengan wajah pasrah namun tetap tersenyum. "Anakmu, Pa... Pa," ucap Mama Rita sambil menggelengkan kepala kecil.
Papa Denis langsung tertawa pelan mendengar itu. "Loh kok jadi anakku doang?" balasnya santai.
Mama Rita mengangkat alis. "Iya, mirip banget sama kamu. Sama-sama jahil."
Papa Denis hanya mengangkat bahu sambil tersenyum bangga.
Sementara itu di luar rumah, Salsa sudah berjalan menuju mobil dengan langkah ringan, masih membawa kotak bekal di tangannya.
Senyum cerah masih terukir di wajahnya. Ia benar-benar tidak sabar untuk segera sampai di kantor suaminya dan memberikan makan siang yang sudah ia siapkan dengan penuh cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
