Hari itu akhirnya tiba. Setelah dua hari lalu Salsa tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk melakukan maternity photoshoot, semuanya dipersiapkan dengan cepat. Jadwal diatur, konsep dipilih, tim dipanggil. Dan sekarang, ia dan Lian benar-benar berada di lokasi pemotretan bersama tim photoshoot Salsa biasanya.
Studio yang digunakan dipenuhi dekorasi bernuansa lembut, dominan warna merah muda, putih, dan sentuhan bunga segar yang tertata cantik di berbagai sudut. Konsepnya sederhana namun elegan, menonjolkan kesan hangat, romantis, dan penuh cinta.
Saat ini mereka masih berada di ruang makeup. Aroma hairspray dan bedak tipis memenuhi udara. Lampu-lampu besar mengelilingi cermin, memantulkan cahaya hangat ke wajah Salsa yang sedang dirias.
Lian sudah lebih dulu selesai bersiap. Rambutnya ditata rapi dengan gaya clean dan elegan. Ia mengenakan jas berwarna merah muda lembut yang dihiasi detail bunga kecil di bagian dada, serasi dengan konsep yang dipilih. Penampilannya terlihat berbeda dari biasanya, lebih formal, namun tetap hangat.
Ia berdiri tidak jauh dari kursi rias Salsa, menatap istrinya melalui pantulan cermin dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.
"Cantik banget, sayang," ucap Lian pelan, hampir seperti gumaman penuh kekaguman.
Salsa yang sedang menatap lurus ke cermin hanya tersenyum kecil, namun matanya terlihat berbinar.
Gaun yang ia kenakan berwarna merah muda lembut dengan detail bunga-bunga kecil yang tersebar anggun di bagian lengan dan rok. Potongannya mengikuti lekuk tubuhnya dengan sopan, menonjolkan perut hamilnya yang kini terlihat jelas dan indah. Hijabnya dipilih dengan warna senada, dililit rapi dan elegan.
"Aura-nya makin kepancar, kamu, Sa. Cantik banget," ucap Kak Bubah, sang makeup artist, sambil menyelesaikan sentuhan terakhir di wajah Salsa.
Ia menambahkan sedikit highlighter di tulang pipi Salsa, lalu mundur selangkah untuk memperhatikan hasilnya dengan puas.
"Ini bukan cuma cantik karena makeup," lanjutnya sambil tersenyum. "Ini aura ibu hamil yang bahagia. Beda banget."
Salsa tersipu malu mendengarnya. "Kak bisa aja," balasnya pelan.
Kak Bubah kemudian membantu mengatur ulang lipatan hijab Salsa agar jatuhnya lebih sempurna, memastikan setiap sisi terlihat rapi dari berbagai angle kamera.
Lian masih berdiri di sana, tidak berhenti memandangi istrinya. Tatapannya penuh kebanggaan. "Serius," ucapnya lagi, kali ini lebih tegas. "Kamu makin hari makin kelihatan beda. Cantiknya tuh beda."
Salsa menoleh sedikit ke arahnya. "Beda gimana?" tanyanya penasaran.
"Beda aja. Aura nya beda, sayang. Cantik banget pokoknya," jawab Lian jujur.
Beberapa kru yang mendengar hanya tersenyum kecil, terbiasa melihat interaksi manis pasangan itu.
Salsa menunduk malu, pipinya memerah samar di balik polesan blush on yang lembut. Tangannya otomatis terangkat, mengusap perutnya perlahan dengan gerakan penuh kasih, seolah sedang menenangkan sekaligus berbagi kebahagiaan dengan calon buah hati mereka.
Lian yang melihat itu tersenyum hangat. Ia melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi rias istrinya. Kedua tangannya bertumpu ringan di sandaran kursi, tubuhnya sedikit membungkuk agar sejajar dengan tinggi Salsa. Dari posisi itu, ia bisa melihat dengan jelas pantulan mereka berdua di cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu terang.
Salsa mengangkat wajahnya, menatap refleksi mereka. Dirinya tampak anggun dengan gaun merah muda berhias detail bunga yang lembut. Hijabnya terpasang rapi, membingkai wajahnya yang kini terlihat lebih bercahaya. Sementara di belakangnya berdiri Lian, gagah dengan jas merah muda senada, rambut tertata rapi, ekspresinya tenang namun penuh cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fiksi Penggemar"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
