Soulmate (4)

521 52 6
                                        

Chase dan Eva Foster menyongsong kedatangan kedua anaknya dengan raut terkejut. Mereka berdiri di teras, menatap Ace yang hanya mengenakan celana jeans dengan Hazel berada dalam gendongan. Gadis itu tidak sadarkan diri. Tubuh mungilnya dibalut oleh jaket baseball Ace yang menutupi hingga pertengahan paha. Meski wajah Hazel tampak pucat, tapi tidak ada satu luka pun di tubuh gadis itu. Berbeda dengan Ace. Beberapa luka cakaran terlihat di sekujur tubuhnya, mengeluarkan darah merah yang masih segar.

"What happened?" Chase melangkah cepat mendekati kedua anaknya, tapi raungan Ace menghentikan gerakannya.

"STAY AWAY FROM US!"

Chase membeku di tempat. Begitu juga dengan Eva yang berdiri di belakangnya. Ace kelihatan marah. Bukan. Murka adalah ungkapan yang lebih tepat.

"Ace.... Honey, apa yang terjadi pada kalian? Kenapa Hazel pingsan? Dia pingsan, kan?" Eva bertanya selembut mungkin, tahu bahwa mendesak Ace bukanlah cara yang tepat. Meski dalam hati dia takut bahwa Hazel bukan hanya sekadar pingsan. Juga luka cakaran di tubuh putranya, bukan menunjukkan bahwa ada manusia serigala selain mereka.

Ace menatap tajam kedua orangtuanya. Amarah yang bercokol di dadanya sangat sulit dibendung. "She can't bear our first union, Mom."

Eva terkesiap. Menutup mulut dengan sebelah tangan. "Ace ... apa yang kau lakukan pada adikmu?"

"Dia bukan adikku! She's not one of us! She's human!" Napas Ace terdengar berat. Seruannya menembus pepohonan di sekitar mereka. Pria itu menggertakkan gigi, mendesis di antara giginya yang terkatup. "I can smell her. Malam setelah aku berubah, aku tahu Hazel bukan seperti kita. Tapi kalian berdua sudah tahu sejak lama dan tidak pernah memberitahuku!"

"It doesn't matter, Ace." Chase mengangkat tangan untuk menenangkan. "She's still your sister. Hazel adalah keluarga kita. Kami membesarkan kalian bersama sejak kecil."

"You don't understand." Ace menggelengkan kepala. Pelukannya pada tubuh Hazel menguat. Sakit hatinya tergambar jelas.

"Aku mengerti." Chase mengambil satu langkah, yang disusul oleh langkah lainnya. "Apa pun yang kau lakukan pada Hazel, kami akan berusaha mengerti. Itu kesalahan. Kau belum bisa mengendalikan dorongan serigalamu...."

"SHE'S MY MATE! BACK OFF!"

Chase terdiam seketika. Kini, giliran dia yang mendengarkan Ace bicara.

"Hazel is my mate, Dad."  Ace mengulang dengan suara gemetar. "Malam itu, aku tahu banyak hal. Bahwa dia bukan adikku. Bahwa aku terikat padanya, dan Hazel terikat padaku. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya pasanganku bukan manusia. Seharusnya pasanganku bukan Hazel...." Kalimat Ace tersekat. Tenggorokannya terasa mengganjal oleh duri tak kasatmata. "Dia kesakitan karena kami belum melakukan penyatuan. Karena aku di dekatnya dan aku tidak melakukan apa-apa untuk mengukuhkan ikatan kami. Aku tidak punya pilihan. I should took her. So I did it. She's in agony when I did it. She's human, Dad. She can't handle my wolf. Aku berusaha untuk tidak menyakitinya. Aku melukai diriku sendiri agar tidak menyakitinya...."

Ace tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Pria itu jatuh berlutut, menatap pilu pada wajah pucat Hazel yang berada dalam dekapannya. "I love her. I always do. Sejak dulu, aku selalu menyalahkan diriku sendiri karena punya perasaan yang salah terhadap dirinya. Dia adikku." Ace mengelus pipi Hazel dengan punggung tangannya, bicara bagai melamun. "I blame myself over and over again. Kadang aku berpikir bahwa aku sudah gila karena menginginkannya dengan cara yang salah. Aku jijik pada diriku sendiri. Tapi aku tidak pernah membiarkan dia tahu. Aku tidak pernah membiarkan siapa pun tahu. Kalian tahu bagaimana rasanya tersiksa bertahun-tahun dan menganggap diri sendiri gila?" Ace balik menatap ayahnya. Ada amarah dan kebencian yang sebelumnya tidak pernah Chase lihat di mata putranya sebelum ini.

Eva mulai menangis. Tidak mengira bahwa merahasiakan identitas Hazel akan membuat putranya sendiri menbenci dirinya.

"Ace...." Eva mengulurkan tangan. Berusaha meraih Ace yang masih diliputi amarah terpendam.

"You lied to me." Ace mendesis penuh kemurkaan. "Kenapa kau melakukannya?!"

"Because her parents are hunters!" Seruan Chase meredam suara di sekelilingnya. Pria itu mengambil selangkah maju, mencoba berada sedekat mungkin dengan Ace, lalu ikut berlutut untuk mensejejarkan pandangan mereka berdua. "Alpha kita membunuh orangtua Hazel saat kecil, tapi aku dan ibumu berhasil mencegah dia membunuh Hazel. Kami tidak bisa melihat anak sekecil itu ikut dibunuh dengan keji. Karena itu kita tidak punya kawanan, Ace. Kita tidak punya pemimpin. Kita bersembunyi di kota kecil karena mereka menginginkan Hazel mati seperti kedua orangtuanya. Tapi kau benar, seharusnya kami memberitahumu." Suara Chase tenang dan tegas. Dia menatap Ace tepat di manik mata, memberi isyarat tanpa kata bahwa tidak akan ada lagi rahasia dan kebohongan di antara mereka. "Forgive us." Chase melanjutkan. "Aku tidak tahu bahwa Hazel adalah mate-mu. Malam itu, kupikir kau hanya mengerti bahwa ternyata Hazel bukan adikmu."

"Ace.... Maaf...." Eva ikut berlutut di sebelah suaminya. Air mata wanita itu masih mengalir. Tidak rela bahwa putranya sendiri akan membencinya, juga khawatir karena Hazel yang berada dalam pelukan Ace tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. "Hazel ... is she okay?"

Ace terdiam. Meski dia belum bisa memaafkan mereka begitu saja, dia juga tidak bisa membenci orangtuanya. "Dia masih hidup," jawabnya pelan.

Chase memberanikan diri untuk menutup jarak di antara mereka. Ace tidak melakukan apa pun untuk mencegah, membiarkan ayahnya mengecek keadaan Hazel.

"She'll be okay," simpul Chase pada akhirnya.

"She'll hate me." Ace menimpali muram, mengamati Hazel yang masih lelap dalam dekapannya. "Dia masih menganggapku kakaknya ... saat kami bersatu."

"Dia akan mengerti." Chase meletakkan tangan di bahu putranya. "Masuklah. Kita harus merawat luka-lukamu dan Hazel."

Ace mempertimbangkan sejenak, lalu berdiri dengan masih memeluk Hazel. "Aku yang akan merawatnya. Tidak ada seorang pun yang boleh berada di dekat Hazel kecuali aku."

Chase mendesah, bertukar pandang dengan Eva. Dia sangat mengerti sikap posesif yang ditunjukkan Ace karena Hazel adalah mate-nya. Meski rasanya masih agak aneh karena selama ini, dia telah merawat mereka sebagai kakak beradik.

"Terserah padamu." Chase dan Eva ikut berdiri. Tahu bahwa mereka tidak memiliki kesempatan menang bila berkaitan dengan masalah mate.

Ace melayangkan ciuman singkat di kening Hazel saat dia mulai berjalan ke dalam rumah. Dia merasakan Hazel menggeliat sedikit, sebelum kembali memosisikan tubuh dengan nyaman di dadanya. Ace tersenyum tipis. Mungkin akan butuh banyak usaha baginya untuk meyakinkan Hazel. Mungkin akan butuh seluruh pengendalian dirinya agar tidak menyakiti gadis itu. Namun, ini adalah jalan yang ditakdirkan untuk mereka. Dan dia tidak akan pernah menyerah.

THE END

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang