Vasile berbaring di atas tempat tidurku. Memeluk erat seraya tidak henti mengelus rambutku. Tak bisa kupercaya aku diam dalam dekapannya. Menatap dada bidang di hadapanku dengan pandangan melamun. Belaiannya semakin pelan hingga aku mengangkat wajah. Mata Vasile setengah terpejam, padahal matahari baru terbenam.
"Kau lelah?" Aku bertanya dan langsung menyesalinya. Kenapa aku harus peduli?
Vasile membuka matanya lagi, tersenyum tipis. "Jetlag." Dia terdiam sejenak sebelum kembali menambahkan, "And tired. I have to fly fifteen hours to get here."
Aku menutup mulut dengan terkejut. Bingung antara harus kagum atau ngeri oleh tekadnya untuk bertemu denganku lagi. Perasaanku lebih condong pada yang pertama. Kurapatkan tubuh lebih dekat ke arahnya. Tidak ada pergerakan hingga aku mengiranya sudah tidur, saat aku teringat sesuatu.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat aku mengingat malam-malamku di Hotel Lazarescu.
Ternyata Vasile belum tidur. Alis kelamnya terangkat dengan gerakan bertanya. Aku menyipitkan mata melihat kepura-puraannya yang tergambar jelas.
"Di hotel. Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?"
"Lewat pintu."
"Aku sudah mengunci pintu dan...."
"Pintu di dinding."
Aku duduk dengan cepat begitu mendengar jawabannya. Menarik selimut menutupi tubuh telanjangku. Vasile tersenyum. Entah kenapa, aku tidak lagi merasa ketakutan saat melihat senyum tersebut.
"Ada banyak lorong dan ruang rahasia di hotelku," lanjut Vasile. "Hotel Lazarescu adalah bangunan kuno. Arsitekturnya memang dirancang untuk memudahkan pergerakan pelayan maupun melarikan diri jika penghuninya dalam bahaya."
"Kau ... kau...." Aku nyaris tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena terlalu marah. Tapi sesuatu kembali menggelitik rasa ingin tahuku. "Aroma lavender.... Apakah itu obat bius? Did you drug me?"
Dia menekuk sebelah tangan di bawah kepala, menatapku tanpa rasa bersalah. "Da*."
Gigiku bergemeretak marah. "Jadi, kau suka membius para gadis dan meniduri mereka."
"Sometimes." Dia mengedikkan bahu dengan ringan. "But, you're special."
"Kenapa aku istimewa?" Mataku menyipit seiring amarah yang merayap naik.
Vasile masih terlihat tanpa beban saat menjawab pertanyaanku. "Karena aku rela terbang 15 jam, di kelas bisnis, hanya untuk menemuimu."
"Dan kenapa kau rela melakukan itu?" Rasa ingin tahuku tergelitik. Begitu juga dengan emosiku.
"Because you look a lot like my great grandmother."
"You sick!"
Untuk kali pertama, aku melihatnya tergelak. Alih-alih tersinggung, tampaknya dia menganggap hinaanku sebagai pujian. "I know I am."
"You drugged me so you could sleep with me! It's a felony! Aku bisa menuntutmu...."
"For having sex?"
"Without my consent!"
"Really?" Dalam sekejap, dia telah berada di atasku. Mengungkungku ke tempat tidur. Ekspresinya tampak terlalu puas dan senyum menyebalkan itu kembali muncul. "I'm sure I got your approval."
"Fiu de curva*!"
"You've learned." Senyum Vasile makin lebar saat matanya berkilat senang mendengar makian itu.
