Once Upon A Time (3)

444 41 19
                                        

Now you know kenapa aku tahan-tahan cerpen ini buat keluar.. Aq udh bilang lo y klo cowoknya bejat, n cerita ini termasuk yg dark romance, aq blom keluarin yg very dark lo, gampang lah y😂

Ingat, Raymond ini bukan Declan, ato Cesare, jadi jangan harap dia jadi soft terus bucin kayak mereka wkwk.. He has his own way to 'love' Cattleya...Aq posting ini udh siap d hujat, karena aq aja herman ama dia kenapa sebrengsek ini jadi manusia🤣.. Ini termasuk yang spicy y, meski scene nya rada aq samarkan, tapi yg paham langsung ngerti lah maksudnya ke mana🙈
————————————————————

Raymond turun dari tempat tidur, menyeberangi ruangan untuk mengambil jubah kamar. Dia mengikat talinya erat setelah mengenakannya, berjalan ke arah pintu lalu memberi perintah pada pengawal yang berjaga.

"Panggil Maggie ke sini."

Pria itu menutup pintu tanpa menunggu jawaban, melangkah menuju tempat tidur di mana gadis yang telah menghangatkan ranjangnya terbaring di sana. Selimut menyelubungi sebagian tubuh telanjang Cattleya, sekaligus beberapa bekas percintaan mereka. Bekas ciuman, pagutan serta gigitannya. Tanda itu menyebar di mana-mana. Di leher, dada, lengan, hingga bagian lain tubuh gadis itu yang terhalang selimut.

Raymond duduk di sisi Cattleya, menyibak sebagian rambut yang menutupi wajah gadis itu. Tak ada tanda-tanda Cattleya akan bangun dalam waktu dekat. Bahkan, gadis itu nyaris tidak bergerak selama tidurnya. Raymond sadar dia telah membuat Cattleya sangat kelelahan. Namun, ini baru permulaan. Kalau Cattleya tahu betapa besar hasrat yang Raymond miliki untuknya, gadis itu pasti kabur ketakutan. Beruntung, sekarang Cattleya adalah miliknya. Gadis itu tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin Raymond.

Ketukan pelan di pintu kamar memutus pikiran Raymond. Dia beranjak, berdiri di tepi ranjang seraya berujar, "Masuk."

Maggie muncul dengan wajah tertunduk, tidak berani membalas tatapan Raymond setelah tamparan yang dia terima semalam. "Anda memanggil saya, My Lord?"

"Bersihkan dia," tukas Raymond seraya mengedikkan dagu ke arah Cattleya.

Wanita itu bergegas keluar kamar, kembali tidak lama kemudian bersama handuk dan sebaskom air. "Apakah Anda akan menunggu di sini, My Lord?"

Raymond menatap wanita itu tajam. Maggie telah melayaninya sejak dia masih kecil, tapi bukan berarti wanita itu boleh menggunakan nada menegur itu kepadanya. Apalagi setelah hukuman yang Raymond berikan karena Maggie tidak menuruti perintahnya. Dia tidak ingin Cattleya melakukan pekerjaan sekecil apa pun. Apalagi sampai terluka. Hanya Raymond yang boleh membuat tanda pada gadis itu.

Saat tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, Maggie tak lagi berusaha mencari tahu. Dia menyibak selimut Cattleya, terkesiap ketika menyaksikan bekas kemerahan yang menyebar hampir di seluruh tubuh gadis itu.

"My Lord... saya... saya akan butuh salep untuk ini semua."

"Tidak perlu. Bersihkan saja dan biarkan dia beristirahat."

Maggie menyapukan handuk basah ke sekujur tubuh Cattleya. Tidak ada gerakan dari gadis itu saat dia melakukannya. Andai Cattleya tidak mengernyit pada beberapa tempat yang dia bersihkan, dia pasti mengira bahwa gadis itu sedang pingsan.

"Saya akan mengambilkan pakaian ganti untuk Nona Cattleya."

Raymond tidak menjawab, membiarkan wanita itu berlalu pergi. Menunggu dalam diam sambil memandangi Cattleya yang masih tertidur. Maggie datang dengan sebuah jubah kamar dan gaun rumah. Dia memakaikan jubah tersebut pada Cattleya, lalu meletakkan gaunnya pada salah satu kursi berlengan.

"Anda bisa memanggil saya kalau Nona sudah bangun. Saya akan membantunya mengenakan gaun. Apa ada yang bisa saya bantu lagi, My Lord?"

"Pergilah."

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang