Monster Under The Bed (1)

553 41 2
                                        

Archer Hunt

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Archer Hunt

Luna Alvarez

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Luna Alvarez

——————————————————-
Pernahkah kau merasakan sesuatu bersembunyi di bawah tempat tidurmu? Sosok tak kasatmata yang menakutimu saat kecil. Sosok yang kau yakin nyata, tapi tak ada satu pun orang dewasa  yang percaya kepadamu. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha meyakinkan mereka. Tidak peduli seberapa sering kau berteriak meminta tolong. Mereka tidak pernah menganggapmu serius. Meyakinkanmu bahwa itu semua hanya mimpi buruk. Mimpi yang biasa dialami anak kecil yang suka berimajinasi.

Lalu keadaan semakin buruk. Kedua orangtuamu mulai tidak mengacuhkanmu. Mengabaikan tangisanmu. Mengabaikan teriakan minta tolongmu. Lebih peduli pada diri mereka sendiri. Pertengkaran mereka sendiri. Teriakan mereka sendiri. Kemudian mereka pergi meninggalkanmu. Mengejar kebahagiaan yang katanya tidak mereka dapat saat bersamamu. Sementara salah satu yang tinggal, hanya menatapmu dengan sorot asing. Seakan tidak yakin kenapa masih berada bersamamu. Namun, kau tidak keberatan. Asal dia masih menyadari keberadaanmu. Masih mengindahkanmu. Namun, harapanmu hanya bertahan sebentar. Kau kembali diabaikan. Tidak dipedulikan. Fokusnya bukan lagi dirimu. Judi dan alkohol telah menggantikanmu.

Setiap malam kau jalani dengan ketakutan. Karena kau tahu tidak akan ada yang dapat menolongmu dari monster itu. Meski sentuhan monster itu lembut, tetapi taringnya selalu membuatmu takut. Kukunya yang panjang selalu meninggalkan goresan di kulitmu. Tubuhnya yang besar selalu mengancammu dengan keberadaannya. Dan tanduknya ... kedua tanduk tersebut menodai kesempurnaan sosok menawan yang selalu menemanimu setiap malam.

Monster. Seindah apa pun sosok tersebut, ada beberapa hal yang meyakinkanmu bahwa dia bukan manusia. Hanya monster yang bersembunyi di bawah tempat tidurmu. Yang muncul saat tidak ada orang lain bersamamu.

Monster yang kini datang kepadaku.

"Don't hurt me...." Aku terisak, memeluk selimut dengan erat ketika sosok itu kembali muncul. Merangkak ke atas tempat tidurku, melingkupi diriku dengan tubuh besarnya begitu dia berbaring di sisiku.

"Hush ... don't be scared, my sweet little virgin. You're too small and young for me." Dia menjalankan jari panjangnya di sekitar wajahku, menggores pelan pipiku dengan kukunya. Tidak menyakitkan, meski kuku-kuku panjang itu terlihat begitu mengerikan. Belaiannya turun ke arah dadaku yang masih rata, kemudian bibirnya melengkung oleh senyuman. Bukan. Itu adalah seringai. "But, you'll grow up. And when you're ready, I'll take everything. Every last drop of your virgin blood."

Saat itu, aku terlalu kecil untuk mengerti apa yang dia katakan. Namun, satu hal yang kutahu, monster itu tidak akan pernah melepaskanku. Jadi, aku mulai menangis. Mengubur wajahku ke dalam selimut saat pelukannya mengetat di sekeliling tubuh kecilku. Menawanku dalam belenggunya.

***

Sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali monster itu mengusikku. Namun, efeknya masih terasa hingga kini. Aku tidak pernah pergi tidur tanpa lebih dulu melongok ke bawah tempat tidur. Memastikan tidak ada siapa pun yang sembunyi di sana. Meski tidak ada yang percaya pada ceritaku, tapi aku tahu bahwa dia nyata. Dia bukan halusinasiku belaka. Aku punya bekas luka di bagian dalam pahaku. Bekas gigitan yang cukup dalam. Tak akan kulupakan malam saat dia meninggalkan gigitan tersebut di tubuhku. Aku menangis keras. Menjerit saat dia menancapkan gigi taringnya di sana. Dia bilang itu adalah tanda bahwa aku miliknya. Bahwa dia akan mengambil apa yang menjadi miliknya saat aku dewasa. Usiaku saat itu masih 9 tahun. Dan itu adalah mimpi terburuk yang pernah kualami sepanjang hidup.

Itulah yang berusaha ayahku yakinkan. Semua yang kualami hanya mimpi belaka. Mimpi yang terjadi karena efek trauma setelah Ibu meninggalkanku. Meninggalkan kami berdua. Karena meski aku bersikeras bahwa ada monster yang mendatangiku setiap malam dan menggigitku, Ayah tidak bisa melihat luka itu. Tidak ada siapa pun yang bisa. Hanya diriku.

Kupasang tudung hoodie-ku begitu keluar dari kamar. Seperti biasa, Ayah belum bangun pada jam seperti ini. Tubuhnya tergeletak di sofa dengan botol minuman yang kini telah kosong dalam pelukannya. Aku mengambil botol tersebut, membuang ke tempat sampah kemudian menuju kamarnya untuk mengambil selimut. Ayahku terbangun saat aku menyampirkan kain tebal tersebut ke tubuhnya.

"Aku berangkat dulu," pamitku meski aku tahu dia belum sadar sepenuhnya. Hanya gumaman yang dia lontarkan, sebelum kembali tenggelam dalam kabut mimpi.

Kulangkahkan kaki meninggalkannya sambil memanggul ransel di punggung. Bus sekolah tiba tepat ketika aku menginjakkan kaki di trotoar. Seperti biasa, aku masuk dengan kepala tertunduk, berusaha tidak memulai kontak dengan siapa pun. Obrolan serta candaan di sekeliling tidak menarik minatku untuk bergabung. Aku memang bukan orang yang supel, bahkan cenderung tertutup. Bukan misteri apa yang menjadi penyebab itu semua. Terbiasa dianggap 'gila' dan suka berkhayal sejak kecil, menghancurkan rasa percaya diriku. Juga membuatku selalu waspada kepada siapa pun. Tidak ada yang ingin berteman denganku. Begitu pula aku yang tidak ingin memulai hubungan pertemanan dengan siapa pun. Semakin sedikit orang yang kukenal, semakin aku merasa nyaman. Dan aman.

Aku melangkah cepat begitu bus berhenti di depan sekolah. Percakapan di sekitarku hampir berpusat hanya pada satu tema. Prom night. Semua orang bersemangat menyambut malam tersebut, walau aku bukan salah satunya. Ini adalah tahun terakhirku di high school, tapi prom night tidak menarik minatku sama sekali. Aku lebih tertarik pada kelulusan dan betapa aku ingin segera pergi dari kota ini. Berharap aku memiliki cukup waktu untuk pergi sebelum monster itu mendatangiku. Sesuai janjinya. Aku benci hidup dalam ketakutan karena sesuatu yang tidak pasti.

Kuhenyakkan tubuh di kursi paling belakang pada kelas pertamaku. Biologi selalu menjadi kelas science kegemaranku. Aku meletakkan tumpukan buku yang baru saja kuambil dari loker, menata di atas meja. Bel tanda masuk berbunyi hingga semua orang duduk dengan terburu ke kursinya masing-masing. Kuketukkan pensil ke atas meja, menunggu kedatangan Mr. Dobson, guru Biologi kami. Tidak biasanya dia datang terlambat. Sosok seorang pria masuk ke dalam tepat setelah pemikiranku tersebut. Bukan Mr. Dobson.

Aku duduk lebih tegak. Napasku tersekat di tenggorokan. Bahkan aku mengeluarkan suara tersedak yang cukup keras saat menatap sosok di depan kelas dengan lebih jelas. Tubuh tinggi pria itu dibalut kemeja biru muda. Celana katun abu-abu gelap membungkus sepasang kaki panjang. Rambut hitamnya disisir rapi. Senyum ramah menghiasi wajah dengan fitur tajam. Sepasang lensa membingkai mata abu-abu kehijauan. Warna terang yang sangat berlawanan dengan rambut kelam pria itu.

Tubuhku gemetaran. Keringat membanjiri hingga membasahi punggungku. Bahkan meski tanpa tanduk dan taring yang biasanya dia miliki, aku tidak akan salah mengenalinya di mana pun berada.

Pria itu adalah monster yang dulu selalu menghantuiku. Dan kini, dia datang untuk menagih janjinya.

***

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang