One Night with a Vampire (2)

291 40 1
                                        

Vampir. Lasalle bilang dia adalah vampir. Namun, tidak mungkin. Pria itu sama sekali tidak memenuhi ciri-ciri sebagai vampir. Kecuali kulitnya yang pucat.

"Tidak mungkin." Katerina menyuarakan pikirannya dengan suara gemetar.

"Why?" Lasalle mengangkat dagu kesal, tampak tersinggung mendengar keraguan Katerina.

"Because your hair.... It's not black ... or dark."

Pria itu mengerutkan kening, jelas tidak mengira akan mendengar jawaban konyol tersebut. "Kau tahu kalau vampir dulunya adalah manusia, kan? Our hair color did not define our nature."

"Kau bilang usiamu 32 tahun!"

"Usiaku 32 tahun saat berubah menjadi vampir. In the real time, I'm turning 349 this year."

"Tapi ... pakaianmu...."

Lasalle menunduk mengamati penampilannya yang mengenakan T-Shirt serta celana jeans hitam, kemudian kembali mendongak dengan wajah bertanya.

"Seharusnya ... vampir berpenampilan gelap.... Oh ... Tuhan, bajumu hitam!" Katerina memekik ngeri seraya menempelkan kedua tangan di pipinya.

Lasalle nyaris tertawa, tapi pria itu mati-matian menahannya. "Itu masalah selera, Katerina. Kebetulan aku ingin pakai hitam malam ini. Aku punya banyak warna di lemariku. I have blue, gray, green...."

"Aku tidak bisa melakukan ini. I'm not dating a vampire." Katerina mengambil langkah untuk menjauh, tapi suara tajam Lasalle menghentikannya.

"Sit down. Or I'll slit your throat with my teeth."

Ancaman tersebut membuat gadis itu membeku di tempat. Dia terlalu takut untuk membantah, jadi dia kembali duduk di kursinya. Lasalle ikut duduk di hadapannya, tanpa melepaskan tatapannya pada Katerina sedikit pun.

"Setidaknya, biarkan aku berpakaian," pinta gadis itu dengan suara memelas.

"Tidak. Aku suka melihatmu begini." Lasalle mengatakannya tanpa kesan menggoda maupun humor dalam suaranya. Jadi, Katerina tidak berani berargumen lagi.

"Referensimu tentang vampir sungguh buruk." Pria itu mulai bicara setelah keheningan yang cukup lama. "Dan sekarang, tidak ada kata mundur. Aku menginginkanmu. Kau memenuhi kriteria yang kucari. I need partner. Read the agreement."

Dengan tangis tertahan, Katerina mulai membaca perjanjian yang disodorkan oleh Lasalle. Blood Agreement. Katerina tahu apa artinya. Itu adalah perjanjian di mana vampir akan menjadikan manusia sebagai santapannya. Secara legal. Perjanjiannya adalah vampir tersebut berhak mendapat asupan darah rutin dari mangsanya. Ya, mangsa. Meski Lasalle menyebutnya partner, gadis itu yakin manusia yang terikat perjanjian ini hanyalah mangsa. Tidak ada yang menguntungkan bagi manusia yang terikat Blood Agreement. Walaupun darah yang diisap tidak sampai habis dan hanya sesuai kebutuhan, kondisi kekurangan darah secara berkala pasti akan melemahkan tubuh manusia itu sendiri. Jadi, meski hanya membaca sekilas perjanjian tersebut, Katerina langsung menolak. Setegas yang dia bisa.

"I refuse."

"You can't refuse. I said I want you. Just sign the paper."

"Kau tidak bisa memaksaku."

"Ya, aku bisa. Karena pilihanmu hanya menandatangani perjanjian ini, atau berakhir kehabisan darah. I'll suck your blood till the last drop of it."

Kini, Katerina benar-benar menangis. Bahunya berguncang saat dia tersedu dengan wajah tertunduk. "Please ... let me go...." Dia mulai memohon.

"No." Lasalle bergeming. "Lagi pula, ini tidak seburuk yang kau pikirkan."

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang