"Ini keterlaluan."
Entah sudah berapa kali Maggie mengucapkan kalimat tersebut. Padahal, ini bukan kali pertama bagi wanita itu mengobati luka di tubuh Cattleya. Gadis itu meringis saat Maggie mengoles salep di bagian atas payudaranya. Luka di bahunya baru saja sembuh, tapi Raymond telah membuat luka baru di tempat lain. Cattleya tidak akan pernah memberitahu Maggie bagaimana pria itu menerakan tanda merah gelap yang menyebar hampir di seluruh dadanya. Meski, dia merasa Maggie sudah tahu tanpa Cattleya harus mengatakannya.
"Baru beberapa hari Anda pindah ke kamar My Lord tapi lihat apa yang sudah dia lakukan?" Maggie menyuarakan kejengkelannya keras-keras, selagi Raymond tidak ada di sana untuk mendengar.
"Aku tidak bisa keluar seperti ini." Cattleya merapatkan kembali jubah kamarnya setelah Maggie selesai mengoleskan salep. Sesopan apa pun gaun yang dia pakai, gadis itu yakin tidak akan menutup sempurna bercak kemerahan yang menyebar di dada hingga lehernya.
Maggie menatap Cattleya iba, berkata menenangkan. "Saya yakin bisa menemukan gaun berleher tinggi untuk Anda, jadi Anda tidak perlu khawatir ada yang melihat bekas-bekas itu."
Cattleya tersenyum penuh terima kasih, turun dari tempat tidur menuju meja tempat sarapannya telah disiapkan. "Apakah kau tahu ke mana Raymond pergi sepagi ini?"
"Di ruang kerja. Seperti biasa. Saya lihat My Lord cukup sibuk belakangan. Yah... dia jarang keluar kamar sejak kedatangan Anda. Pasti banyak dokumen dan surat yang harus dia tangani."
Cattleya bersemu, berusaha mengabaikan komentar Maggie dan menyantap makanannya. Telur rebus itu meluncur di tengah kerongkongannya yang terasa mengganjal. Gadis itu berdeham, berusaha menghilangkan nyeri yang timbul di sana. Setelah beberapa suapan, dia tidak lagi berselera menghabiskan sarapannya.
"Anda tidak menyukai makanannya?" tanya Maggie saat dilihatnya Cattleya hanya memakan sebuah telur dan sepotong kecil roti.
"Bukan begitu. Aku hanya belum terlalu lapar." Cattleya kembali mengulas senyum. Berusaha menghilangkan kekhawatiran Maggie.
"Anda ingin keluar setelah berpakaian, Nona?"
"Hanya keluar kamar. Mungkin aku akan mengunjungi Raymond di ruang kerjanya. Menurutmu dia akan keberatan?"
"My Lord tidak suka diganggu saat sedang bekerja. Tapi saya rasa, Anda adalah pengecualian."
Cattleya tidak seyakin Maggie. Namun, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Mungkin dia bisa membujuk Raymond untuk mengajaknya pergi keluar kastil. Sekadar mencari udara segar. Nanti setelah dia istirahat sebentar.
"Nona, Anda baik-baik saja?"
"Ya. Kenapa kau bertanya begitu?"
"You look pale."
"Aku tidak apa-apa," tukas gadis itu menenangkan. "Hanya sedikit capek."
Yah.. dia pasti hanya kelelahan. Penat yang dia rasakan belum juga sirna meski dia telah cukup tidur. Ini bukan pertama kali dia merasa begini setelah menghabiskan malam bersama Raymond. Yang berbeda hanya rasa mengganjal di tenggorokan yang sebelumnya tidak dia alami.
"Bisakah kau bawa gaunnya sekarang? Aku ingin berpakaian dan keluar dari sini," pinta Cattleya agar Maggie berhenti mencemaskannya.
"Baik. Saya akan mengambilnya."
Cattleya merebahkan diri setelah Maggie menginjakkan kaki keluar kamar. Dia memejamkan mata yang mendadak terasa panas. Menghalau pening yang ikut menyertai. Dia tidak boleh sakit. Raymond tidak akan senang kalau dia tidak siap untuk melayani pria itu. Setelah berpakaian dan beristirahat sejenak, Cattleya yakin dia akan merasa lebih baik. Dengan keyakinan tersebut, gadis itu menegakkan punggung. Mengabaikan segala ketidak nyamanannya sambil menunggu kedatangan Maggie.
