The Portrait 2 (3)

498 42 10
                                        

"Kau lihat itu? Tidakkah dia lucu?"

Kami sedang berada di Georgia Aquarium, melihat kawanan ikan yang berenang di akuarium berbentuk lorong di sekitar kami. Hingga ikan pari manta ray besar itu menarik perhatianku. Vasile mengikuti arah tatapanku, mengernyit heran saat melihat hewan yang kuanggap lucu.

"Kalau menurutmu begitu." Dia mengangkat bahu ringan, jelas sekali tidak sependapat denganku.

"Itu hewan langka," tukasku tak mau kalah.

"Bukan berarti dia lucu," jawab Vasile dengan senyum tertahan. Aku mencebik kesal. Dia melingkarkan tangan di sekeliling pinggangku, membawaku menjauh. "Kita lihat yang lain."

"Tunggu. Aku mau foto dengan ikan itu. Ayo, cepat!" Kutarik tangannya dengan terburu, mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Tanpa diduga, Vasile menarik diri dari genggamanku.

"Aku tidak suka dipotret." Dia berkata datar, mengangkat sebelah tangan sebagai tanda penolakan.

Aku mengerjap. Terkejut dengan alasannya. "Why?"

"Aku hanya tidak suka."

"Tapi aku ingin punya foto kita berdua." Itulah alasanku yang sebenarnya. Namun, Vasile tidak boleh besar kepala, jadi aku buru-buru menambahkan. "Bersama ikan pari."

Dia mempertimbangkan sejenak, hingga akhirnya menjawab pasrah, "Satu foto."

"Okay." Kusambar kesempatan itu sebelum dia berubah pikiran. Atau sebelum ikan pari itu berenang ke tempat lain. Aku menghentikan langkah dua orang pengunjung, meminta mereka untuk mengambil gambar. Kedua gadis itu terpaku sejenak saat menatap Vasile. Entah karena penampilan kelam pria itu yang berpakaian serba hitam atau karena tingginya yang di atas rata-rata. Atau mungkin karena wajah tampan dengan tatapan matanya yang menyorot dingin. Bisa jadi ketiganya.

Vasile merangkulkan lengan di pinggangku, membawa tubuh kami rapat seraya memasang wajah datar ke arah kamera. Dia tidak perlu menyentuhku. Foto berdampingan sudah cukup. Namun tampaknya, bersentuhan denganku adalah kebiasaan yang tidak bisa dia tinggalkan.

Aku menggumamkan terima kasih pada kedua gadis tersebut. Cekikikan pelan mereka terdengar saat mereka pergi sambil sesekali melirik ke arah kami. Kupandangi foto yang berada di ponselku, kemudian cemberut begitu melihatnya.

"Kau tidak tersenyum," protesku.

"Sudah kubilang, aku tidak suka dipotret." Dia berkata tenang.

Dering ponsel dari saku mantel Vasile meredam protes lanjutanku. Dia menatap nama di layar, kemudian berjalan menjauh dariku untuk menjawab panggilan.

"Alo*." Vasile menyapa lawan bicaranya. Mendengarkan perkataan orang di seberang sana, lalu menjawab dengan bahasa Rumania yang tidak kupahami. Yang kumengerti hanya kata nu*, poate*, trei zile*, dan ȋnţeleg*.

Vasile memutus sambungan, berjalan kembali ke arahku dengan wajah muram. "Aku harus segera kembali."

"Ke Bucharest?"

"Ya."

"Kapan?"

"Paling lama tiga hari lagi."

Kekecewaan tergambar jelas di wajahku. Aku yakin dia juga menyadarinya. Karena kemudian, Vasile menggenggam tanganku, mengajak berjalan kembali di sepanjang lorong.

"Kita cari ikan pari."

Meski kalimatnya terdengar konyol, aku tidak bisa tertawa. Terlalu larut dalam pikiranku sendiri.

***

Aku tidak pernah merasa sesedih ini ketika harus berpisah dengan seseorang. Orangtuaku tinggal di Nashville sementara aku kuliah di Atlanta. Namun, aku tidak merasa begitu sedih saat harus berpisah dengan mereka. Karena aku tahu kami tidak terpisah jauh. Hanya butuh 4 jam perjalanan dengan mobil menuju Nashville, dan aku bisa melepas rindu kapan pun aku mau. Berbeda dengan Vasile. Jarak ribuan kilometer membentang di antara kami berdua. Aku harus melintasi benua untuk bertemu dengannya. Andai kata, itu juga yang dia inginkan. Namun, melihat sikap Vasile yang tampak biasa saja setelah kabar kepulangannya, aku tahu hubungan ini hanya sepihak. Dia telah tidur denganku. Dia telah mengobati rasa penasarannya. Dia telah mendapat keinginannya. Dia sudah selesai denganku.

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang