Semakin kupikirkan kemungkinan itu, semakin aku merasa konyol. Hantu tidak bisa menyentuh. Hantu tidak bisa mencium. Hantu tidak bisa bicara. Hantu itu tidak ada. Pasti ada penjelasan masuk akal terhadap bekas-bekas merah di tubuhku. Mungkin itu reaksi alergi. Ya. Hanya itu yang masuk akal. Apalagi bila melihat bengkak di bibirku. Semua itu mengarah kepada tanda-tanda alergi. Kecuali aku tidak memiliki riwayat alergi apa pun.
Aku tidak sebodoh itu untuk menceritakan masalahku kepada Delia tentang kamar yang sedang kusewa. Bisa saja itu benar-benar hanya mimpi. Lagi pula akan sangat memalukan kalau semua yang terjadi hanya halusinasiku belaka. Mimpi yang terlalu nyata dari hasil imajinasi otakku yang kesepian. Meski, malam ini aku berdiri ragu di depan pintu kamarku yang masih terkunci. Merasakan ketakutan yang menurutku tidak beralasan. Aku telah memeriksa semua sudut kamar berkali-kali. Tidak mungkin ada orang yang bisa sembunyi. Apalagi seorang pria dengan tubuh yang cukup besar. Juga sangat tinggi. Bahkan lemari besar tempat aku menaruh barang tidak akan sanggup menyembunyikannya.
Setelah berjalan-jalan seharian, aku merasa sangat lelah. Tidak. Aku sudah merasa lelah bahkan sejak aku keluar pagi ini. Kusadari bahwa itu selalu terjadi sejak pagi pertama aku terbangun di hotel ini. Meski aku selalu tidur lebih awal, tapi rasanya seakan aku terjaga semalaman. Hari ini, aku harus memaksakan diri untuk keluar. Semata-mata agar aku tidak terus teringat akan mimpi semalam. Ya. Kuputuskan bahwa itu semua hanya mimpi.
Kulongokkan kepala ke dalam kamar begitu pintu terbuka. Cahaya terang menyinari begitu aku menekan saklar. Tidak ada siapa-siapa. Kamar itu bersih dan rapi. Aku mengembuskan napas panjang, lalu menyelipkan tubuh dan masuk ke dalam.
Berhentilah merasa paranoid, Grace. Semua yang kau alami hanya mimpi, dan bercak di tubuhmu adalah reaksi alergi. Hanya itu penjelasan yang masuk akal.
Kuambil salah satu baju tidur di dalam lemari kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Tidak ada hal janggal yang terjadi. Semua berjalan normal. Tanganku sedang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk saat aroma yang begitu akrab di hidungku kembali tercium. Aku tersenyum dan menghirupnya dalam-dalam. Setidaknya aroma ini selalu berhasil membuatku merasa lebih baik. Membawa pergi beban pikiranku.
Kujatuhkan handuk ke lantai saat aroma lavender itu melumpuhkan saraf-sarafku. Kakiku terasa berat, tapi aku memaksakan diri untuk naik ke atas ranjang. Aku menarik selimut dan bergelung di baliknya. Mataku nyaris terpejam saat sekelebat bayangan itu lewat. Menjulang pada tempat tidur di sebelahku. Aku sudah terlelap bahkan sebelum menyadarinya.
***
Dingin. Itulah yang kurasakan saat ini. Tangan besar itu meraba seluruh tubuhku. Tidak lagi selembut sebelumnya. Kali ini lebih kasar dan menuntut. Aku berusaha menggerakkan tangan. Mendorong tubuh besar yang melingkupiku. Kulit telanjang yang panas menyambut sentuhanku. Beberapa bagian tubuh kami menempel begitu erat. Dadaku dengan dadanya. Perutku dengan perutnya.
Aku telanjang. Kami berdua sama-sama telanjang. Kenyataan itu menyentakku. Membuatku berjuang lebih keras untuk menyingkirkan kabut yang menghalangi kesadaranku. Wajah itu kembali terlihat. Kali ini lebih jelas. Pria dalam lukisan.
"Vasile...."
Tanpa sadar, aku mengucapkan nama itu keras-keras. Mata hitamnya melebar saat menatapku penuh keterkejutan, tapi hanya sejenak. Senyum yang tampak berbahaya muncul di wajah tampannya. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya terus meraba seluruh tubuhku. Merangsangku di mana-mana. Membuka kakiku selebar mungkin.
Nyeri tajam yang seakan membelah tubuh, terasa begitu nyata saat dia memilikiku. Aku menjerit. Menancapkan kuku-kukuku pada pundaknya. Dia tidak melepaskanku. Memeluk makin erat. Jeritanku yang berikutnya teredam oleh pagutan di bibirku. Ciumannya liar. Mengklaim seluruh diriku. Seakan aku adalah miliknya.
