Lost (3)

385 43 4
                                        

Kurasakan tepukan di wajahku. Cukup keras meski tidak menyakitkan. Namun, berhasil mengembalikan kesadaranku yang sempat menghilang. Kelopak mataku membuka perlahan, hanya untuk bertemu dengan wajah tampan King yang berkerut khawatir.

"You're awake." Senyum lega menghiasi wajahnya. Saat dapat mengamatinya lebih jelas, baru kulihat goresan-goresan di pipi kirinya yang sebelum ini tidak ada.

"Apa yang terjadi?" Suaraku lemah saat bertanya. Kompensasi dari seluruh tubuhku yang remuk redam. Seakan seseorang baru saja menggilasnya.

"Kau jatuh. But, it's okay. I got you."

"You got me?" Aku mengulang kalimatnya dengan bingung. Kalau dia berhasil menangkapku, maka keadaannya pasti lebih buruk dariku. King menggunakan tubuhnya sebagai alas untuk menghindarkanku terempas di tanah yang keras. Kubawa diriku duduk dengan tiba-tiba saat menyadari hal itu. Lalu balik bertanya dengan panik kepadanya. "Are you okay?"

"Yeah, I'm fine." King ikut duduk, menepis dedaunan yang menempel di jaketnya.

"Wajahmu...." Refleks, aku meraba luka goresan di pipinya. King berjengit sedikit, tapi tidak menepis sentuhanku.

"It's nothing." Dia berkata datar.

Rasa bersalah menderaku. Mungkin King pernah berbuat kurang ajar, tapi dia juga menyelamatkan nyawaku. Kesadaran itu kembali menghantamku. Panik, aku mengamati keadaan sekitarku yang gelap gulita. Cahaya bulan yang menembus pepohonan adalah satu-satunya sumber penerangan saat ini.

"Kita ada di mana?" tanyaku cemas.

"Bawah. Aku baru akan memperingatkanmu tentang lereng curam ini saat kau terjatuh ke dalamnya." King berdiri, mengulurkan tangan lalu ikut menarikku bersamanya. Dia mendongak, menilai ketinggian di atas kami. "Kita bisa mendakinya," putus King pada akhirnya.

"Kau yakin?" Aku tidak bisa seoptimis dirinya. Aku akan tergelincir pada pijakan pertama yang berhasil kutemukan.

"Yes. Hop on." Dia menunjuk punggungnya, menyuruhku naik ke atasnya. Aku menatapnya ragu, mempertimbangkan perintah yang dia ajukan. "Come on. It's already dark," tukas King tidak sabar.

Akhirnya, aku memilih untuk menurut. Kulingkarkan tangan di lehernya begitu King menundukkan badan, lalu melompat ke atas punggung lebarnya.

"Aku berat, ya?" tanyaku dengan malu. Kurasakan seringainya saat dia menjawabku.

"Aku punya adik di Junior High School yang punya bobot lebih berat darimu. You should gain weight, Arianna."

King mulai mendaki. Mencari pijakan seraya mencengkeram bebatuan. Beberapa usahanya berhasil, tapi kakinya tergelincir pada undakan keempat. Dia mencoba lagi, memberi perintah agar aku memeluknya lebih erat. Kali ini, King nyaris melemparkan tubuh setiap kali dia mendaki lebih tinggi. Belum separuh jalan, usahanya kembali gagal. Bokong kami berdua mendarat dengan keras saat terempas untuk kesekian kali.

"Licin." Dia menggosok telapak tangannya yang kotor ke atas jaketnya, kini tidak lagi tampak seoptimis sebelumnya.

Permukaan tanah di sekitarku memang agak lembap, pasti karena diguyur hujan sebelum ini. Aku memeluk diriku erat, merasakan udara dingin yang mulai menusuk.

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang