Cattleya membuka mata, mendapati bahwa tidak berada di empuknya ranjang, tapi di atas tubuh keras seorang pria. Namun, hangat yang membungkusnya begitu nyaman dan menenangkan. Lengan besar itu melingkarinya dengan sikap melindungi. Dada tempatnya bersandar lebar dan kukuh. Cattleya mendongak, bertemu dengan wajah tidur Raymond. Pria itu lelap sambil duduk memangkunya. Kepalanya miring ke samping, disangga oleh sandaran ranjang. Meski posisi tidurnya tidak wajar, namun Raymond kelihatan lebih nyenyak daripada biasanya. Dengan malu, Cattleya mengamati rahang pria itu yang mulai ditumbuhi bakal janggut, mendadak memiliki keinginan untuk menyusurkan jemarinya di sana.
Cattleya melakukannya, meraba permukaan kasar berwarna pirang gelap tersebut. Raymond terbangun oleh sentuhannya. Menatap Cattleya sesaat setelah membuka mata. Gadis itu menjauhkan tangannya, berkata terbata.
"Se... selamat pagi."
Butuh beberapa waktu bagi Raymond untuk menjawabnya. Tanpa melepas pandangan dari gadis itu. "Pagi."
Meski sudah tidak terhitung lagi keintiman yang pernah mereka lalui, Cattleya menemukan dirinya masih tersipu karena tatapan pria itu. Apalagi saat hanya Raymond hanya mengamatinya dalam diam seperti sekarang. Dengan Cattleya di pangkuannya.
"Sorry."
"For what?"
"For being a burden."
Alis Raymond bertaut, lalu dia menggeleng tanpa suara, menurunkan Cattleya dari pangkuannya.
"Sudah merasa lebih baik?" Raymond bertanya sambil lalu, turun dari tempat tidur sambil mengusap tengkuknya yang kaku.
"Ya. Tapi... aku mimpi aneh semalam." Cattleya berkata ragu.
"Mimpi apa?"
Gadis itu tidak langsung menjawab, teringat beberapa mimpi erotis yang menyangkut dirinya dan Raymond. Namun, bukan itu yang dia anggap aneh. "Aku muntah... di bajumu, tapi kau tidak marah dan hanya memelukku sambil mencekokiku.... " Kalimat gadis itu terhenti. Wajahnya memucat saat sadar bahwa itu bukan mimpi.
"Waktunya minum obat." Raymond mengabaikan perubahan raut wajah Cattleya yang menunjukkan dengan jelas bahwa gadis itu ketakutan. Dia mencampur ramuan obat dengan air, menyodorkan pada Cattleya yang menerima nyaris otomatis. "Kalau kali ini kau memuntahkannya, aku tidak akan bermurah hati seperti semalam."
Cattleya tidak perlu diingatkan lagi. Dia menenggak obat tersebut dalam sekali telan, setengah mati menahan rasa pahit di lidahnya.
"Good girl." Komentar puas Raymond terdengar kemudian. "Akan kusuruh Maggie menyiapkan air mandimu. Kau tidak akan turun dari tempat tidur dan istirahat sampai kau pulih. Paham?"
Gadis itu kembali menganggukkan kepala. Meski Raymond senang karena tidak sulit membuat Cattleya patuh padanya, ada rasa tidak suka saat melihat ketakutan serta kesedihan di wajah gadis itu. Sesuatu yang sebelumnya tidak dia pedulikan.
"Apa?"
Satu kata tanya itu membuat Cattleya kebingungan. Raymond membuang napas, menatap gadis itu lekat.
"Apa yang kau inginkan dariku? Kemarin kau datang ke ruang kerjaku bukan untuk melihatku bekerja. Katakan saja."
Cattleya meragu. Namun, tidak ada ruginya mengungkapkan keinginannya ketika Raymond sendiri yang meminta. "Aku hanya ingin tahu... apakah mungkin kalau kau... mau mengajakku keluar kastil? Andai kau tidak sedang sibuk." Dia buru-buru menambahkan kalimat terakhir karena takut akan reaksi Raymond terhadap permintaannya.
"Hanya itu?"
Anggukan lagi. Yang juga disertai sorot mata penuh harapan.
"Baiklah. Ada lagi?"
