Ngedit ini PR bgt lebih dari ngedit Yuji😂.. Yg udah pernah baca sebelumnya pasti paham.. Ini udah mending y, tapi tetep aja hanya untuk pembaca dewasa😅.. Awal aq gak mau posting karena beberapa pertimbangan, salah satunya adalah karena tokoh cowoknya.. Vasile itu toxic y sodara2😂.. Jadi klo ketemu cowok macem dia di jalan, jangan diladenin, biarpun dia tamvan bin cool bin kaya dan bin bin lainnya tetep kabur aja dari dia🤣..
Hermannya banyak yg doyan lead male macem Vasile ini, tapi di cerita aja y, klo ada beneran ikuti nasehat q d atas... Kabur!😅
But again, gak semua hubungan itu 'sehat', dan some people ngerasa enjoy aja ngejalaninnya, so I'm not here to judge anyone😁..
—————————————————————
Saat melihatnya datang, aku tahu aku tidak akan bisa lepas darinya. Aku akan terjebak bersamanya. Seperti yang dia inginkan. Dan kini, itulah yang terjadi. Vasile mendekapku dengan segenap dirinya. Melumat bibirku tanpa ampun. Mendesakku ke dinding. Membuatku terkungkung tubuh besarnya.
Aku berontak. Berusaha membebaskan diri. Memukul dada kukuh itu sekuat tenaga. Namun, bahkan tanpa pengaruh obat bius, dia bukan lawanku. Perlawananku begitu lemah saat berhadapan dengan kekuatannya. Vasile menangkap kedua tanganku yang tidak henti memukul, membawanya ke atas kepala. Menekannya pada permukaan dingin di belakangku. Kini, tidak ada lagi jarak antara tubuh kami saat dia menekankan dada kerasnya pada kelembutan payudaraku. Aku berusaha menjerit, tapi mulutku ada di bawah kuasanya. Kulakukan usaha terakhir yang kuharap dapat melepaskanku dari ciumannya. Aku menggigit bibirnya. Sekuat yang aku bisa.
Dia melepaskan pagutannya. Tanpa seru kesakitan sama sekali. Setitik darah muncul di bibir tempat aku menggigitnya. Vasile menggosok darah itu dengan ibu jari, lalu menjilatnya sambil tersenyum.
"Pisica rătăcită.*"
Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, tapi aku juga tidak memiliki kesempatan untuk mencari tahu. Bibir Vasile kembali pada bibirku. Mencium lebih keras. Aku dapat mencecap rasa darahnya dalam ciuman kami. Vasile mendesakku untuk memberi jalan pada lidahnya. Dan tentu saja, aku tidak akan tunduk semudah itu. Kukatupkan rahang kuat, membenturkan gigi-gigi di dalam mulutku. Remasan di dada membuatku terkesiap. Dia menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan lidahnya ke dalam mulutku. Merayu dalam setiap belaian.
Seharusnya aku menolak. Seharusnya aku menggigit lidah itu. Namun, aku tak kuasa. Sarafku lumpuh di bawah sentuhannya. Tarian erotis di rongga mulutku mengacaukan segalanya. Aku tidak bisa berpikir. Terbuai oleh gairah yang mulai berkobar. Bibirku melembut. Pasrah di bawah kendalinya. Vasile makin mendesak. Menekankan bukti gairahnya di perutku. Menyatakan keinginannya tanpa kata.
"Kamar." Satu kata singkat itu dia ucapkan begitu melepaskan bibirku.
"No." Aku menggeleng. Merasakan ketakutan yang merayap naik. Dia membuatku takut. Reaksi tubuhku sungguh mengerikan saat dia menyentuhku. Aku tidak bisa memercayainya. Aku tidak bisa memercayai diriku sendiri saat bersamanya.
Vasile tidak berkata-kata. Hanya menatapku dengan bola mata kelam yang menyorot tajam. Mendadak, aku merasa kehilangan tempat berpijak. Dia menggendongku dengan tiba-tiba, hingga aku otomatis memeluk lehernya karena kehilangan keseimbangan.
Vasile berjalan cepat, membuka setiap pintu yang dia temui. Flat-ku tidak besar, jadi tidak butuh waktu lama hingga dia menemukan kamarku.
"No!" Aku berseru keras ketika dia mendorongku ke atas ranjang, melepaskan sweater-ku melalui kepala. Aku beringsut mundur dengan kedua tangan menutupi dada. Aku tidak peduli meski dia telah melihat setiap jengkal tubuhku. Aku tidak mau dia melihatnya lagi.
