Hari yang indah dan cerah untuk duduk bersantai di halaman belakang sambil membaca. Berselonjor di kursi panjang pada tepi kolam renang, dengan payung besar menaungi sebagian tubuh Mia. Celana pendek sebatas paha dan T-Shirt longgar adalah pakaian santainya hari ini. Angin semilir meniup helai-helai rambutnya yang diikat ekor kuda, juga halaman majalah di pangkuannya. Gadis itu belum pernah merasa begitu rileks sejak kedatangannya di rumah ini. Setidaknya itulah yang dia pikirkan sebelum Thomas bergabung. Pria itu mengenakan celana renang, melirik Mia sekilas sambil tersenyum miring, lalu menceburkan diri ke dalam air kolam yang dingin. Rusak sudah waktu penuh kedamaian Mia!
Kini gadis itu harus berkonsentrasi penuh pada bahan bacaannya. Agak sulit dilakukan karena saat ini perhatiannya terpecah oleh kehadiran Thomas, yang sedang berenang dan membuat otot-otot sialannya yang mengagumkan terpampang jelas di hadapan Mia. Hah! Semenarik apa pun pria itu, Thomas tidak lebih dari iblis berwajah malaikat. Mia kembali mengalihkan pandangan pada majalah. Memelototi halaman demi halaman dengan harapan benda itu dapat membantunya mengabaikan keberadaan Thomas. Gadis itu memekik saat air yang dingin menciprati majalah di pangkuannya. Pelototan Mia berpindah pada Thomas yang berada di tepi kolam dengan separuh tubuh di dalam air. Pria itu tengah melemparkan pandangan geli pada Mia sambil meletakkan dagu di atas jalinan jemari kedua tangannya. Mia melempar majalahnya yang basah ke samping dan menghampiri Thomas sambil berkacak pinggang.
"Untuk apa itu?!" tanya gadis itu ketus.
"Join me."
Mia melotot marah. Thomas tahu dirinya tidak bisa berenang. Pria itu tidak mungkin lupa, karena Thomas adalah penyebab traumanya pada air. Pria itu pernah mendorongnya ke dalam kolam renang dewasa saat Mia masih berusia 6 tahun, menyebabkan dirinya hampir tenggelam seandainya ayah Thomas tidak datang menolong. Jadi saat ini Thomas tidak mungkin serius dengan menyuruh Mia.... Oh, sial! Seharusnya dia tidak mendekat ke arah kolam. Sudah terlambat saat Mia menyadari kilatan di mata biru Thomas. Pria itu menarik kakinya sebelum Mia sempat kabur. Tubuhnya jatuh dengan sukses ke dalam kolam diikuti oleh suara ceburan keras. Gadis itu menjerit histeris ketika Thomas memeluk pinggangnya, kemudian membawa Mia makin ke tengah. Dia melingkarkan kedua lengan sangat erat ke leher pria itu, nyaris mencekiknya. Namun Thomas tidak tampak terpengaruh, hanya tertawa melihat ketakutan Mia.
"Keluarkan aku dari sini!" jerit Mia. Ekor kudanya telah terlepas dan tubuhnya basah kuyup. Hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Thomas karena pelukan eratnya pada pria itu. Payudaranya menekan dada telanjang Thomas. Hanya dipisahkan oleh T-Shirt putih yang gadis itu kenakan, dan kini tampak tembus pandang memperlihatkan bra hitamnya. Mia tidak peduli. Saat ini, dia lebih memikirkan tentang keselamatan dirinya.
Thomas benar-benar terlihat sangat menikmati situasi ini. Senyum tidak meninggalkan bibir pria itu dan matanya berkilat senang. "Don't worry. I got you."
"Tidak lucu, Thomas! Bawa aku ke tepi!"
"With one condition."
Seharusnya Mia tahu, saat dia meminta sesuatu pada iblis, pasti akan ada konsekuensi. Dia hanya berharap bahwa dia dapat memenuhi permintaan Thomas.
"Katakan!" tukas Mia cepat. Gadis itu akan melakukan apa saja. Dia bahkan tidak memiliki keinginan untuk marah pada Thomas karena ketakutannya jauh lebih besar. Dingin yang tubuhnya rasakan tidak ada hubungannya dengan air kolam. Mia yakin dirinya akan pingsan jika dia berada lebih lama lagi di dalam sini.
"Kiss me."
Mia membelalakkan mata mendengar permintaan pria itu. Apakah Thomas baru saja meminta Mia menciumnya? Brengsek! Dia tidak sudi!
"Orang gila! Aku tidak mau!" Akhirnya kemarahan itu muncul juga dalam diri Mia. Menyingkirkan rasa takutnya untuk sejenak. Dia memang ketakutan, tapi jangan harap Thomas bisa memanfaatkan hal itu untuk melecehkannya.
