One Night with A Vampire (3)

321 37 4
                                        

Mata Katerina melebar dengan terkejut. "Jadi, kau tidak datang terlambat?"

Lasalle menggeleng, masih memainkan helai rambut di tangannya. "Aku datang lebih awal. Mengamatimu dari jauh."

"Kenapa?" Napas Katerina bertambah cepat saat dirasakannya tangan Lasalle berpindah ke belakang tengkuk, memijat pelan di sana. Dia tidak dapat mencegah erangan halus yang muncul kemudian.

Pria itu tersenyum melihat reaksi gadis itu. Meneruskan pijatannya. "Ini juga tidak mudah untukku. Apa kau tahu kalau Perjanjian Darah akan mengikat kita dalam waktu yang sangat lama? Setidaknya sampai salah satu dari kita tidak menginginkannya."

"Aku yakin perjanjian itu tidak akan bertahan lama."

Lasalle tertawa ringan mendengar kalimat polosnya. "You know what? Selama ini, sangat jarang pihak manusia yang memutuskan perjanjian tersebut. Biasanya vampir yang memutuskan lebih dulu."

Katerina mendengus. Menyuarakan kesangsiannya tanpa kata. Lasalle sama sekali tidak terkejut melihat reaksi gadis itu. Sebaliknya, mata pria itu berkilat senang.

"Kau tidak percaya?"

"Bicaramu sangat tidak masuk akal."

"Karena kau tidak tahu. Berbeda dengan kami yang hanya mendapat keuntungan dengan hilangnya rasa dahaga, bagi manusia, proses ini memberi mereka kenikmatan."

"I don't believe you."

Kenapa Lasalle terlihat makin senang setiap kali Katerina menyangkal kalimat pria itu? Dia segera menemukan jawabannya.

"I'll show you."

"That ... that's not what I meant...."

Gadis itu mulai panik, mendorong tubuh Lasalle yang makin merapat kepadanya. Alih-alih menjauh, tangan Lasalle lagi-lagi merayap ke punggungnya. Melepas pengait branya dalam satu gerakan ringan.

"Kau bilang hanya mengisap darah." Katerina berusaha menghentikan usaha Lasalle menanggalkan penutup dada tersebut. Namun, gagal dengan gemilang. "Kenapa aku harus menanggalkan pakaianku?"

"Kau bilang kita akan bersetubuh...."

"Bercinta!"

Lasalle tertawa mendengar seruannya, tapi pria itu segera mengoreksi ucapannya. "Baiklah. Bercinta. Tidak nyaman bercinta dengan pakaian lengkap."

"Aku berubah pikiran."

"Aku tidak," tukas Lasalle. Katerina sungguh-sungguh ingin mencakar wajah tampan yang bagai pahatan itu. Sayang, kedua tangannya terlalu sibuk menutupi dada telanjangnya. "Kalau kau memperhatikan, sejak awal aku sudah menginginkanmu telanjang. Bahkan sebelum aku tahu niatanmu untuk bercinta. Aku ingin menyentuhmu, Katerina. I don't know why. I just want it."

Lasalle mengangkatnya hingga gadis itu memekik. Namun, pria itu tidak membawanya pergi jauh. Lasalle membaringkan Katerina di tengah tempat tidur. Mengurai rambut cokelat panjang gadis itu di sekeliling wajahnya yang merona. Pria itu melepas T-Shirt berikut celana jeans-nya, tertawa pelan saat dilihatnya Katerina memalingkan wajah dengan malu.

"My sweet Katerina, how many guys did you date before this?" Lasalle bertanya geli.

"Not much." Gadis itu mengakui dengan enggan.

"Lucky me," ujar Lasalle senang.

Katerina berusaha tidak bergerak saat Lasalle melepas roknya. Namun, dia tidak bisa diam begitu saja ketika tangan pria itu mulai meraih pinggiran celana dalamnya. Sekalipun Lasalle sudah telanjang sepenuhnya. Dan Katerina berusaha keras tidak mencuri pandang pada pusat gairah pria itu.

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang