Sesuai janji, aq post part terakhir cerita ini karena extra part-nya udah selesai ditulis.. Tapi extra part-nya aq post besok aja y, biar gak mabok🤣
—————————————————————
"Apa Anda yakin, Nona?"
Maggie menatap cemas pada Cattleya yang tengah memasukkan pakaian pada tas bepergian. Tidak banyak yang gadis itu bawa, hanya beberapa potong gaun lama. Tanpa satu pun gaun pemberian Raymond. Dia akan meninggalkan kastil ini sama seperti saat dia datang, sebagai gadis desa sederhana. Bukan simpanan Lord pemilik tanah.
"I can't do this anymore, Maggie. He wants to kill our baby." Cattleya mengatakannya dengan suara tercekat. Menelan kekecewaan serta air matanya bulat-bulat.
"My Lord... He has his own reason."
"Does he?"
Cattleya menutup tas bepergiannya, menatap Maggie tajam. Meminta penjelasan kenapa wanita itu masih membela majikannya yang jelas-jelas bersalah. Namun, wanita tua itu tidak memberi jawaban yang Cattleya inginkan.
"Anda tidak bisa pergi, Nona. Anda tidak punya tempat tujuan."
Maggie benar. Cattleya mengakui itu dengan kepahitan yang mengganjal. Keluarganya tidak akan menerimanya kembali. Dia tidak punya uang sepeser pun. Pilihannya hanya bekerja sebagai buruh dengan bayaran recehan atau... menjual diri. Namun, dibanding tetap berada di sini, kedua pilihan tersebut terlihat lebih baik bagi Cattleya. Jadi, gadis itu mengabaikan kata-kata Maggie.
"Selamat tinggal, Maggie."
"Nona!"
Wanita itu mulai mengejarnya, tapi Cattleya tetap berlalu. Menenteng tas bepergiannya hingga mencapai daun pintu kamar, lalu terhenti di depannya. Bukan Maggie yang membuatnya berhenti melangkah. Melainkan sosok Raymond yang berdiri bagai tembok besar. Menjulang dan tidak mungkin dilewati.
"Get out." Raymond memerintah dingin, pada Maggie yang kini mematung. Seperti Cattleya.
"Saya... saya mencoba untuk mencegahnya... "
"OUT!"
Teriakan itu menggema keras. Menggetarkan dinding di sekitar mereka. Raymond jarang meninggikan suara. Apalagi sampai berteriak. Kini saat mendengarnya, Cattleya merasakan lututnya mulai gemetar. Meski, dia tetap menegakkan tubuh. Menelan ketakutannya. Merasakan Maggie yang berlari meninggalkan kamar dan menutup pintu di balik punggung Raymond.
"Kau mencoba kabur dariku?" Raymond berjalan maju, menampakkan amarah yang sebelumnya tidak pernah dilihat Cattleya. Gadis itu menahan diri untuk tidak bergerak mundur, menatap Raymond dengan tekad yang mengalahkan ketakutannya.
"I'm not. Aku berencana ke ruang kerjamu. Untuk berpamitan."
"I own you."
"You're... not."
Mendadak, Cattleya merasakan tangan pria itu mencekal rahangnya. Tidak menyakiti, namun cukup untuk memberi peringatan pada gadis itu.
"You're mine. Until I said otherwise. You knew that from the beginning. Tidak ada jalan kembali untukmu selain kepadaku. Kau sadar itu, kan?"
Meski harus mengumpulkan seluruh keberanian untuk menjawab pria itu, Cattleya membalas tatapan Raymond. Mengerahkan seluruh tekad hanya untuk bicara. "Aku... bisa hidup tanpa kau. I'll raise the baby... "
"What kind of life?! Kau lebih suka mengemis dan menjual diri daripada bersamaku! For the sake of the baby?!"
Cattleya merasakan tangan Raymond yang mencekalnya, mulai bergetar. Sejak awal, dia tahu ada yang aneh dengan amarah pria itu. Raymond yang biasanya tenang, kini terlihat seakan siap meledak. Sesuatu mengusik pria itu. Ketakutan yang tidak ingin Raymond tunjukkan, namun tidak lagi dapat pria itu tutupi.
