Devil Beside Me (6)

393 44 0
                                        

Semburat merah mewarnai pipi Mia. Sekuat tenaga, dia berusaha mendorong dada kokoh di hadapannya. Saat usahanya tidak membuahkan hasil, dia menunduk, lalu menyelinap dari bawah kungkungan lengan Thomas untuk melepaskan diri dari pria itu. Kelegaannya hanya bertahan sebentar ketika dilihatnya Thomas membalikkan badan dengan cepat, kemudian mendesaknya ke arah tempat tidur. Gerakan tiba-tiba itu membuat Mia kehilangan keseimbangan, sebelum akhirnya jatuh terempas ke atas permukaan empuk tersebut. Dia segera duduk kembali, akan tetapi Thomas lebih cepat. Pria itu menindihnya dengan efisien bahkan sebelum Mia sempat menarik napas.

"Menjauh dariku!" Mia berkata geram.

"Kau tidak terdengar meyakinkan."

"Jangan main-main, Thomas!"

Napas Mia memburu. Entah karena marah atau hasrat yang baru saja dia rasakan. Mia menduga yang pertama. Namun tampaknya Thomas lebih condong pada yang kedua. Bibir pria itu kembali tertarik ke atas, menampakkan senyuman yang entah kenapa, kini terlihat sangat menarik pada jarak sedekat ini.

"I will kiss you again." Suara Thomas begitu rendah dan penuh keyakinan.

"Tidak. Kau tidak akan melakukannya."

"Yes, I will."

Mia kembali menelan ludah. Aroma tubuh Thomas memenuhi dirinya. Bibir pria itu bergerak mendekati bibirnya. Mia memalingkan wajah, berusaha mengalihkan bibir Thomas dari sasaran. Namun, tindakan Mia justru membuat mulut pria itu mendarat di cuping telinganya. Dia tersentak saat Thomas mengisap bagian itu dengan lembut. Mengirimkan gelenyar nikmat ke sekujur tubuhnya. Cumbuan Thomas semakin turun ke bawah, menyusuri lehernya yang terbuka. Lalu saat mulut pria itu tiba di lekukan bahunya, Thomas menyesapnya kuat, meninggalkan jejak basah serta tanda kemerahan di sana.

"Hentikan, Thomas." Mia berusaha bicara dengan sisa kekuatan yang dia miliki, menolak cumbuan pria itu sebelum Thomas melangkah lebih jauh. "Permainanmu sudah... keterlaluan."

"I'm done playing with you. I've told you before."

Thomas serius. Mia menyadari itu saat bola mata hitamnya bertemu dengan milik Thomas. Dia bukan lagi objek keisengan pria itu. Lalu, apa arti dirinya bagi Thomas? Pertanyaan itu belum sempat terlontar dari bibir Mia, karena dirasakannya Thomas bergerak makin ke bawah. Kulit dadanya terasa sejuk saat lidah Thomas bermain di sana, begitu juga ketika pria itu menciumi dadanya. Apa?! Sejak kapan kancing piamanya terbuka?!

"Thomas...." Mia berusaha mendorong kepala pria itu yang terus mencumbu. Kerah piamanya tersingkap begitu lebar hingga memperlihatkan bahu dan dadanya yang terbuka.

"I knew you're not wearing a bra." Thomas berkata puas.

Mia dapat merasakan senyuman pria itu di kulitnya. Juga napas panas Thomas. Lalu saat mulut Thomas turun ke dadanya, gadis itu tidak dapat menahan pekikan yang meluncur dari bibirnya. Mia tidak dapat berpikir jernih. Pandangannya kabur. Dunia seakan menghilang dari sekitarnya. Gadis itu mendongakkan kepala ke belakang seraya mencengkeram seprai erat, mencari pegangan dari dunianya yang tidak berhenti berputar.

"So beautiful...." Didengarnya suara serak Thomas di antara belahan dadanya. "... and always mine."

Pria itu melumat bibir Mia dalam sebuah ciuman panas dan dalam. Mereguk rasa manis dari bibir gadis itu. Dibawanya kedua tangan Mia hingga melingkari lehernya, makin merapatkan tubuh mereka berdua. Bukti gairah Thomas menekannya, membuat Mia terkesiap keras di bibir pria itu. Geraman rendah lolos dari kerongkongan Thomas ketika dia menggigiti bibir Mia, menyesapnya dengan rakus.

Sesuatu menyadarkan Mia. Ini sudah terlalu jauh. Thomas sedang bercinta dengannya. Mengenakan pakaian lengkap.

"Thomas... berhenti...."

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang