Mia tidak berselera makan. Satu-satunya alasan dia berada di ruang makan malam ini adalah untuk menghormati Tante Laura. Sejujurnya, dia tidak sudi duduk satu meja bersama iblis bermuka dua seperti Thomas. Mia sungguh-sungguh ingin menancapkan garpu di tangannya pada wajah penuh senyuman palsu di hadapannya.
"Kau tidak menyukai menu makanannya?"
Tante Laura bertanya cemas saat melihat makanan di piring Mia yang nyaris tidak tersentuh. Gadis itu berusaha tersenyum menenangkan.
"Bukan begitu. Aku hanya sangat lelah dan ingin segera istirahat. Makanannya sangat lezat."
Tante Laura balas tersenyum. "Seharusnya kau bilang sejak tadi. Aku bisa menyuruh pelayan mengantar makan malammu ke kamar. Kau tidak perlu memaksakan diri makan bersama kami."
"Sungguh. Aku tidak apa-apa, Tante." Mia merasa tidak enak. Tante Laura sudah begitu baik pada dirinya. Seharusnya dia tidak membiarkan sikap kurang ajar Thomas mempengaruhinya. Lagi pula, sudah bukan kejutan lagi.
Thomas tidak banyak bicara sepanjang makan malam. Pria itu menyantap makanannya hampir tanpa kata. Mia tahu Thomas bukan orang yang suka berbasa-basi, tapi dia tidak pernah melihat Thomas sediam ini. Meski dia tidak cukup peduli untuk bertanya.
"Aku sudah selesai." Thomas mengelap mulutnya dengan serbet dan bangkit berdiri dari kursi. "Aku akan istirahat sekarang. Good night, Ladies." Dia mendaratkan ciuman di pipi ibunya, kemudian melempar senyum sopan pada Mia sebelum pergi ke lantai dua menuju kamarnya. Mia menatap pria itu penuh kekaguman. Thomas bisa menjadi aktor yang luar biasa. Sikap pria itu benar-benar seperti dua sisi koin yang berlawanan.
Tante Laura menatap kepergian Thomas dengan wajah sendu, bibirnya membentuk senyuman tipis. Wanita itu berbalik menghadap Mia kemudian berkata, "Terima kasih."
Mia hanya menatap Tante Laura dengan pandangan bingung. Wanita itu melanjutkan kalimatnya melihat ketidaktahuan Mia. "Thomas memang tidak banyak bicara, tapi dia menjadi sangat pendiam dan murung sejak terakhir kali bertemu denganmu empat tahun lalu. Kami sangat jarang mengobrol. Hari ini adalah pertama kali aku melihat senyum serta sinar di wajahnya. Dan percakapan kita saat kau datang adalah obrolan paling lama yang pernah dia lakukan. But the most important thing is... he got his angelic smile back. I haven't seen that for a long time."
Mia tidak tahu harus berkata apa. Jadi dia hanya diam dan kembali memaksakan senyum. Dia tahu kenapa Thomas kembali ceria. Pria itu telah mendapatkan kembali mainannya yang telah lama hilang, yaitu Mia. Jadi bukan salahnya kalau dia tidak seantusias Tante Laura. Sebab dalam beberapa minggu ke depan, dialah yang akan menjadi alasan 'kebahagiaan' Thomas.
***
Malam itu, Mia tidak dapat tidur dengan tenang. Berkali-kali dia terbangun karena mimpi buruk. Dan semua mimpi buruk itu berhubungan dengan Thomas. Berkali-kali juga dia mengecek pintu kamarnya, memastikan bahwa pintu itu tetap terkunci. Dia benar-benar takut seandainya dia lupa dan Thomas masuk ke dalam kamarnya saat gadis itu tengah tertidur. Oh ya, dia percaya Thomas akan melakukan apa pun untuk menganggu dan menyiksanya. Termasuk melecehkannya jika hal tersebut dapat menyenangkan pria itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat Mia memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia akan menghirup udara segar sambil duduk di teras belakang dan meminum teh. Ide itu terdengar sangat menyenangkan, meski udara pagi ini cukup dingin menggigit. Mia mencuci muka di wastafel, kemudian menggelung rambut panjangnya dengan asal di puncak kepala. Dia mengenakan cardigan longgar sepanjang lutut di atas tanktop dan celana pendek sebatas paha yang dia pakai tidur. Baru saja dia melangkahkan kaki keluar saat dilihatnya Thomas berdiri memunggunginya. Pria itu menoleh begitu mendengar suara pintu kamar Mia yang terbuka.
Thomas baru saja selesai jogging. Pria itu mengenakan T-Shirt tanpa lengan dan celana training abu-abu. Sneakers putihnya bernoda tanah. Earphone yang melekat di kedua telinganya, tersambung pada handphone yang diselipkan pada arm band di lengan kanan. Rambut Thomas bermandikan keringat, begitu juga dengan bagian depan T-Shirt-nya. Mia berusaha mengalihkan pandangan dari biceps serta dada bidang Thomas dan langsung berhadapan dengan wajah yang selalu tersenyum licik itu. Tidak ada yang angelic dari senyum Thomas. Tante Laura pasti salah mengartikan senyuman di wajah putranya. Tidak, Thomas tidak pernah menunjukkan raut wajah iblis ini di depan orang lain. Dia hanya menunjukkannya pada Mia.
"Good morning, Pumpkin." Thomas bersandar di depan pintu kamarnya, menatap Mia sambil tersenyum jail dan melipat tangan di depan dada.
Mia berusaha menahan kekesalannya. Dia tidak pernah menyukai sebutan Thomas untuk dirinya. Pipinya yang agak chubby bukan bahan lelucon. Lagi pula, dia tidak lagi setembam saat masih remaja dulu. Dia memang tidak seperti deretan mantan pacar Thomas yang bertubuh kurus seperti model kekurangan gizi, tapi tubuhnya berlekuk di tempat yang pas, tidak rata seperti papan cucian.
"Selamat pagi, Thomas." Mia membalas sapaan Thomas. Ibunya selalu mengajarkan tentang sopan santun, dan itulah yang sedang dia lakukan saat ini. Tidak peduli sekalipun iblis tidak termasuk dalam kategori yang harus diperlakukan dengan penuh kesopanan.
Iris biru Thomas berkilat. Tampak sekali pria itu merasa terhibur oleh Mia, mengetahui bahwa gadis itu mati-matian menahan diri untuk tidak memakinya alih-alih mengucapkan selamat pagi.
"I didn't realise it yesterday...." Kalimat Thomas menggantung di udara, sengaja memancing rasa penasaran Mia.
"Tidak menyadari apa?"
Thomas kembali tersenyum saat dia berhasil membuat gadis itu bertanya. Kemudian pria itu melanjutkan, "That your boobs got bigger."
"Thomas!"
Wajah Mia merah padam saat gadis itu merapatkan cardigan-nya di depan dada. Thomas hanya tergelak menanggapi seruan penuh amarahnya. Mia ingin menerjang pria itu. Dia tahu bahwa dia akan kalah. Tubuh besar Thomas bukan tandingannya, tetapi dia ingin mencoba. Sungguh-sungguh ingin mencoba. Sebelum Mia sempat melaksanakan niatnya, pria itu berbalik dan membuka pintu kamarnya sendiri. Meski masih sempat melontarkan kalimat terakhir.
"Nice leg by the way."
Mia melemparkan sandal kamarnya tepat setelah Thomas masuk dan menutup pintu kamar. Gadis itu mengentakkan kaki dengan kesal ke lantai, kemudian memasang seluruh kancing cardigan-nya. Dasar bajingan mesum!
***
