One Night with A Vampire (4)

414 40 15
                                        

Lasalle marah luar biasa. Katerina tidak dapat menyalahkannya. Dia hampir menghancurkan pria itu. Secara harfiah. Hanya karena satu kebohongan.... Tunggu dulu. Dia tidak bohong. Dia hanya tidak mengakui kebenarannya. Itu dua hal yang berbeda.

"Are you listening, young lady?"

Katerina mendongak saat mendengar pertanyaan bernada menegur itu. Matahari hampir terbit. Dia dan Lasalle sudah berpakaian lengkap. Dan kini, pria itu tengah mondar-mandiri di hadapannya sambil berceramah panjang lebar. Tentang bagaimana Katerina bertindak ceroboh dengan tidak berterus terang. Tentang bagaimana Lasalle nyaris mengosongkan darah di tubuh gadis itu. Dan tentang seberapa dekat gadis itu dengan kematian. Atau keabadian.

Setelah dipikir-pikir, semua hal yang dikatakan Lasalle menyangkut tentang dirinya. Lasalle tidak menyinggung tentang segala masalah yang akan pria itu dapatkan. Apalagi berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pengacara. Maupun bahwa Katerina nyaris menghancurkan hidup tenang yang selama ini dia miliki. Semua kejahatan akan mendapat hukuman. Sekalipun yang dilakukan oleh vampir. Mereka memiliki pengadilan sendiri. Dan membunuh manusia, sengaja maupun tidak, termasuk kejahatan berat.

Namun, yang mengherankan, Lasalle sama sekali tidak menyebutkan itu semua. Kemarahan pria itu hanya tertuju pada satu hal. Bahwa Katerina bisa saja kehilangan nyawa di tangan Lasalle. Meski tetap saja, tidak menyenangkan menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan. Apalagi karena saat ini, Lasalle memanfaatkan perbedaan usia mereka yang terpaut sangat jauh. Memberi wewenang kepada pria itu untuk memarahinya seperti anak kecil. Apalagi bila mendengar sebutan pria itu tadi kepadanya. Young lady. Huh!

Katerina mulai bosan dengan ceramah yang terus dikeluarkan oleh Lasalle. Dia menatap fajar yang mulai menyingsing di tepi jendela. Tanpa dapat dicegah, rasa ingin tahunya tergelitik.

"Kau takut sinar matahari?"

Pertanyaan itu menghentikan langkah Lasalle yang masih mondar-mandir. Dengan kejengkelan yang sangat kentara, dia menjawab pertanyaan Katerina. "I'm not afraid of sunlight. I just don't like it. It makes my skin burn, like rashes. I've told you to stop comparing me with those ... vampire movies!"

Katerina berjengit mendengar suara keras itu. Sampai kapan Lasalle akan memarahinya? Dia sudah cukup menerima ini semua. Sekarang gilirannya yang bicara.

"Lasalle, semua sudah berlalu." Dia berusaha bicara setenang mungkin. Sekuat tenaga mengabaikan tatapan tajam Lasalle yang diarahkan kepadanya. "Tidak ada hal buruk yang terjadi. Lagi pula, aku baik-baik saja."

"I'm cutting out this agreement."

Keputusan tersebut membuat Katerina berdiri mendadak. Mata abu-abu terangnya menatap Lasalle dengan pandangan tidak percaya. "What do you mean by that ... Sir?" Dia sengaja mengucapkan kata terakhir dengan nada menantang. Membalas Lasalle karena sebutan pria itu sebelumnya.

"Aku tidak bisa mengambil resiko denganmu lagi. Semalam adalah yang terakhir."

"Aku menolak!"

"Ini bukan diskusi!"

"Kau yang memaksaku untuk menandatangani perjanjian itu, sekarang kau juga yang memaksaku untuk memutuskannya! Kau memang tidak punya hati!"

"Yes, I don't ." Lasalle mengatakannya dengan ketenangan yang menakutkan. Dan Katerina tahu dia tidak akan menang melawan pria itu.

Dia kembali duduk di kursinya, lalu mulai tersedu dengan wajah tertunduk. "Bahkan vampir tidak menginginkanku."

"Apa?"

"Manusia dan vampir sama saja. Keduanya tidak menginginkanku. Kau pikir kenapa aku masih perawan sampai semalam?!"

Tangisan Katerina makin kencang. Bahkan kini gadis itu mulai mengubur wajah pada lengan sofa tempatnya duduk. Meratapi nasibnya. Lasalle berdiri dengan tidak nyaman, kemudian mengambil langkah untuk mendekatinya. Pria itu menundukkan tubuh agar pandangan mereka sejajar, mengangkat wajah Katerina untuk mempertemukan pandangan mereka.

"Kau tahu bukan itu yang kumaksud, kan?" Pertanyaan Lasalle mengalun lembut di telinganya.

"Lalu apa?" Katerina balik bertanya dengan bersungut-sungut. Membersit hidungnya yang mulai mengeluarkan ingus.

"Semalam, aku hampir kehilangan kendali, Katerina. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau itu terjadi lagi."

"But, I'm not a virgin anymore."

"I know. But, you can bleed. Aku tidak pernah bereaksi seliar itu pada darah manusia. Aku bukan vampir baru, Katerina. Aku tahu cara mengendalikan nafsuku. But with you, everything is different. Meski aku masih bisa mengontrolnya, kemungkinan aku lepas kendali lebih besar saat aku bersamamu. Your blood ... is very addictive for me."

"Maybe because ... you like me that much?"

Ketegangan yang menyelimuti Lasalle berkurang saat mendengar pertanyaan lugu gadis itu. "Maybe."

"Then, I'll kiss you again to stop you."

"Katerina...."

"Ya. Itu solusinya!" Katerina menggenggam kedua tangan Lasalle. Membelalakkan mata dengan bersemangat. "Semalam, kau melunak karena ciumanku. Aku yakin itu salah satu cara untuk mencegahmu membunuhku."

Mungkin seharusnya Katerina menahan diri saat mengucapkan kata 'membunuh'. Karena mendadak, Lasalle kembali tampak gelisah.

"Ini bukan ide bagus." Lasalle bangkit berdiri, tapi Katerina mengikuti gerakannya. Dia mencengkeram jaket pria itu dengan kedua tangan.

"Tatap aku dan katakan kalau kau tidak menginginkanku."

Lasalle membalas tatapannya, akan tetapi pria itu tidak mengatakan apa pun.

"Lasalle...."

"Kenapa kau berubah pikiran? Semalam, kau yang setengah mati ingin kabur dariku."

Katerina tertegun. Lasalle mungkin meragukannya, tapi dia tahu apa yang membuatnya berubah.

"Because you are nice." Gadis itu berkata lirih, meski tidak mengalihkan pandangannya dari pria itu. "Sometimes you creep me out. But overall, you're nice. Aku tahu kau marah karena kau peduli padaku. Kau ... bersikap sangat lembut kepadaku semalam."

Lasalle hanya diam seraya mengamati wajah gadis itu yang merona. Katerina adalah kelinci yang sangat lucu, dan dia adalah rubah pemangsa. Mereka berdua adalah dua makhluk yang sangat bertolak belakang. Namun, dia tidak dapat mengingkari ketertarikan kuat yang menarik mereka bagai dua sisi magnet berlawanan.

Lasalle meraih dagu gadis itu, mendongakkan wajah yang sempat tertunduk. Dengan sangat perlahan, bibirnya yang dingin menyapu kehangatan bibir Katerina. Gadis itu membalas ciumannya, melingkarkan tangan di leher Lasalle, menghilangkan jarak di antara mereka. Katerina benar. Dia menemukan kedamaian dalam ciuman mereka. Bagai cahaya di tengah kegelapan. Oase di tengah padang pasir.

"Kalau begitu...." Lasalle melepaskan ciumannya sejenak untuk bicara dengan gadis itu, merasakan Katerina yang pasrah dalam dekapannya. "Kita harus lebih sering berciuman."

Gadis itu mengangguk dengan wajah bahagia. Sekali lagi, menyatukan bibir mereka. Bahkan meski dunia mereka berbeda, Lasalle tahu bahwa Katerina akan menjadi pusat hidupnya. Dalam keabadian. Kelak.

THE END

Piece of My MindCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang